Sekolah Kejuruan, Masihkah Diperlukan?

Hari Rabu yang lalu, saya berkesempatan menghadiri acara launching pusat IPTEK dan film anak Lampung, di Perpustakaan Daerah propinsi Lampung, atas nama Komunitas Tapis Blogger(KTB).

Setelah mengisi daftar hadir, sekilas saya melihat situasi acara seremonial, sambil berdiri, karena sepertinya tidak ada kursi kosong. Di panggung sedang ada penampilan dari murid sebuah sekolah menengah.

Tidak berlama-lama, segera saya mengedarkan pandang, mencoba melihat hal-hal apa saja yang disajikan panitia dan cukup menarik untuk dikunjungi.

Di halaman perpustakaan, ada beberapa stand dari sekolah menengah kejuruan dan perguruan tinggi yang memiliki jurusan tehnik.

Saya datang sendiri, teman pertama yang saya sapa adalah Yoga Pratama, fotografer keren yang tergabung di KTB, di depan stand SMK 2 Mei Bandarlampung. Namanya ketemu fotografer, sayang dong kalau dilewatkan, cekrek! Ha ha, hasilnya beda dengan selfie, walau menggunakan kamera yang sama.
tmpdoodle1474900749522

Di stand ini ada beberapa hasil kreativitas guru dan murid yang dipamerkan, antara lain kontrol lampu dengan sms, modifikasi motor-sepeda dan sebuah power bank yang sangat praktis, merangkap speaker.

Stand kedua yang saya kunjungi, SMK 1 Metro, waw! Metro? Kota kelahiran dan masa kecil saya. Merasa mengenali sekolah ini di masa lalu, karena letaknya tidak berjauhan dengan SMPN 2, almamater saya, terasa begitu dekat dengan penunggu stand, baik murid maupun guru. Apalagi memang saya senang dengan handmade, walaupun sekarang sudah jarang berkreasi. Alhamdulillah, anak-anak memiliki kecenderungan yang sama. Di sini saya menyaksikan berbagai kerajinan olahan limbah yang begitu beragam, istimewanya lagi, sekolah ini memiliki organisasi bank sampai yang kepengurusannya dibuat mirip dengan perusahaan atau bank pada umumnya.
tmpdoodle1474901141813

Nah, di stand ini, saya bertemu Kak Ikhsan, owner Aura Publishing yang setia menerbitkan huku-buku saya.

“Bandarlampung, sempit, ya! Loe lagi, loe lagi!” kami tertawa, begitulah! Kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki kecendwrungan yang sama. Nah! Gantian, Kak Ikhsan yang jadi model cekrekan saya! Hasilnya? Ha ha ha, jangan dibandingkn dengan cekrekan fotografer profesional dong, nggak fair itu!
tmpdoodle1474901289706

Hei hei, kenapa melantur di pembukaan, ya? Kita kan mau membahas tentang sekolah kejuruan?

Ok, kita mulai dari memori saya ke Mamak, ibu saya. Saat ini beliau berusia sekitar 88 tahun, tapi jangan heran, kalau saat umroh di bulan Mei lalu, beliau memakai seragam hasil jahitan tangannya sendiri!
tmpdoodle1474901434914

Terbayang, bagaimana beliau dengan mata sepuhnya menjahit baju sendiri? Dan itu dilakukannya sejak muda, termasuk membuat pakaian untuk seluruh anggota keluarga.

Ya, beliau lulusan pendidikan kejuruan di masa penjajahan, Sekolah Kejuruan Ketrampilan Putri.(SKKP)

Saya saksi hidup, bagaimana SKKP telah sukses membentuk ibu saya menjadi seorang wanita yang terampil dalam tata boga, tata busana dan urusan rumah tangga.

Sejak saya mampu menyimpan memori, tidak pernah melihat Mamak tidak melakukan sesuatu yang menghasilkan uang untuk membantu Bapak yang gajinya sebagai guru saat itu, sangat jauh dari mencukupi. Sebagai ibu dari 7 orang anak, Mamak tidak pernah diam, ada saja yang dilakukan untuk menghasilkan uang, disamping menunaikan tugas kerumah tanggaan. Ingatan pertama, ketika adik lahir, saya berusia belum genap 4 tahun. Usia adik baru beberapa hari, tapi Mamak sudah menganyam mendong membuat tikar. Di lain waktu, Mamak mengambil jahitan kodian, semacam konveksi sekarang, dikerjakan di rumah, kalau sudah selesai disetorkan, sambil mengambil lagi untuk pekerjaan selanjutnya. Pernah juga Mamak membuat kripik, kue-kue dan jajanan lain untuk dititipkan di warung. Yang paling awet dilakukan adalah membuat alat rumah tangga seperri spray, taplak meja, tutup lemari dll, sesuai pesanan. Juga menerima jahitan.

Itu hasil pendidikan di zaman penjajahan yang saya lihat hasilnya.

Bagaimana dengan sekolah kejuruan saat ini?

Saya peenah mendengar opini, bahwasanya sekolah menengah kejuruan, mencetak kaum buruh! Benarkah?

Mungkin sebagian besar sepeeti itu, bahkan buruh yang dibayar sangat murah! Tapi, bagi seorang yang berjiwa entertainment, sekolah kejuruan akan sangat membantunya mengembangkan daya kreativitasnya.

Di zaman yang lebih mengutamakan skill dibandingkan ijazah formal, sekolah menengah kejuruan masih menjadi alternatif pilihan cerdas, apalagi jika yang bersangkutan dapat mekilih jurusannyang sesuai dengan hobi dan kecenderungannya, wow! Masa depan cerah ada dalam genggaman! Tentu dengan kesungguhan dan kegigihan.

Jadi?

Kenapa tidak? Jangan ragu mengambil keputusan cerdas! Terutama untuk yang terkendala biaya, jika harus kuliah berlama-lama.

Maka, wahai abege, segera temukan mutiara dalam dirimu, lalu cari jurusan yang sesuai, maka semakin berkilau mutiara itu. Sambut masa depan dengan dada tegak, siap jadi pengusaha yang merekrut banyak tenaga kerja.

Are you ready?

Add Comment