4 Kiat Sukses untuk Kejar Akherat, Dunia Dapat.

Sibuk mengejar akherat, dunia dapat, siapa yang menolak?

Sebagai muslim, yang beriman kepada hari akhir, tentu berupaya untuk mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya, juga sebaik-baiknya agar selamat dan bahagia hidup di alam keabadian.

Sebagai muslim yang beriman kepada Rasulullah Saw, tentu sangat antusias mendengar informasi tentang bagaimana cara sukses akhirat dan melaksanakan ajarannya, pun bagaimana bisa melewati dunia dengan selamat sambil menikmatinya.

Ah! Manusia memang begitu, mau semua yang enak-enak. Saya jadi ingat quote yang populer saat muda,”Kecil manja, muda foya, mati surga”

Selama ini, mungkin di antara kita ada yang beranggapan bahwa amalan akherat, semata-mata yang ibadah mahdhoh, ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah, semisal sholat, puasa, zakat atau haji. Sedang perbuatan yang berkaitan dengan manusia lain atau yang terkait dengan kebahagiaan di dunia, bukan merupakan amal akherat.

Kita mungkin sering membuat dikotomi, mana amalan akhirat, mana amalan dunia, sehingga harus membagi waktu yang terpisah untuk keduanya. Terjadilah istilah adil atau tidak adil dalam pengelolaan waktu untuk urusan dunia atau akherat.

Mungkin kita termasuk yang sangat antusias ketika ada dalil yang mendukung dan membenarkan aktivitas “dunia” kita, seperti contoh dalil berikut.

اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً
“I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.”

[Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok].

Mungkin kita termotivasi dengan dalil ini, sehingga tanpa merasa bersalah, habis-habisan mengejar harta untuk persiapan kehidupan ke depan sampai tujuh turunan.

Tetapi ada juga yang menyikapinya dengan bijak, artinya, saat mengejar kesuksesan dunia, entah itu kekayaan, jabatan atau prestasi lainnya, sungguh-sungguh dan profesional, tapi mengimbanginya dengan amal ibadah mahdhoh dengan kekhusyuan sebagai bukti kesungguhannya. Dalam hal ini ada pemisahan, kapan waktu untuk dunia, kapan waktu untuk akhirat.

Hmm, benarkah dalil tersebut dari Rasulullah Saw?

Ulama besar Kerajaan Saudi Arabia di masa silam dan pakar fikih pada abad ke-20, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, bahwa pernyataan di atas termasuk HADITS PALSU (hadits maudhu’).

Nah!!!

Jadi, gimana dong?

Yaaaah, dievaluasi lagi, perlukah quote itu dipertahankan? Berbahaykah untuk kehidupan dunia dan akhirat kita?

Yok, kita coba bandingkan dengan yang berikut!

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu , ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

Hmm, lalu bagaimana caranya agar bisa kejar akhirat, dunia dapat?

Berikut 4 kiat sederhana dalam menggapainya, insyaallah.

Pertama, memahami hakekat kehidupan.

Apa, sih hakekat kehidupan kita? Bagaimana seharusnya kita menjalaninya!

Untuk mengetahuinya, tentu kunci jawabannya dari yang menciptakan kehidupan, Allah.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

(Bahasa Indonesia)
Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha perkasa, Maha Pengampun.

-Surat Al-Mulk, Ayat 2

Dari salah satu ayat ini, yang intinya sama dengan beberapa ayat Al Qur’an yang lain, kita sedikit bisa memahami, bahwa manusia hidup pada hakekatnya sedang menjalani ujian, sekaligus diinformasikan, siapakah yang lulus dan mendapatkan nilai yang baik.

Selayaknya orang yang tahu sedang diuji, sepantasnya kita berusaha mempersembahkan performa terbaik, agar mendapatkan penilaian dan apresiasi dari yang mengadakan ujian.

Kedua, memilih jenis aktivitas

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

(Bahasa Indonesia)
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

-Surat Adz-Dzariyat, Ayat 56

Ibadah yang seperti apa?

Secara istilah arti ibadah adalah sebagaimana  perkataan Ibnu Katsir : “Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan hal-hal yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang”. Kemudian Ibnu Taimiyah berkata : “Ibadah ialah sesuatu yang mencakup semua perkara yang dicintai dan diridhoi Allah berupa perkataan atau perbuatan yang nampak atau pun tidak nampak”.

Demikianlah, kita bisa mekilih jenis aktivitas yang bernilai ibadah, agar kehidupan kita selaras dengan tujuan penciptaan-Nya.

Ketiga, meluruskan niat.

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).

-Surat Al-Bayyinah, Ayat 5

Sayang, kan, kalau kita sudah cape-cape beraktivitas, mengeluarkan waktu, tenaga dan biaya, tetapi tidak diterima? Tidak mendapatkan bekal untuk hari akherat? Walaupun, tetap saja amal baik kita bermanfaat untuk kehidupan dunia.

Keempat, siapkan mental.

Menyiapkan mental yang bagaimana, untuk apa?

Tidak setiap yang kita harapkan menjadi kenyataan, bukan? Walaupun kita sudah lakukan dengan niat ikhlas dan cara yang benar sesuai tuntunan.

Yakinlah, bhawa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi setiap hamba yang bersungguh-sungguh.

Mungkin hasilnya tidak sekarang, atau memang yang kita anggap baik, belum tentu yang terbaik, Allah sedang menyiapkan yang terbaik untuk kita. Setidaknya, kita sudah menikmati ketenangan batin saat melakukan hal-hal yang tidak melanggar aturan Allah, tidak merasa bersalah atau durhaka kepada Allah.

Niat ikhlas dalam beramal merupakan amalan akhirat, karena kita hanya mengharap balasan kebaikan dari Allah, dan itulah hakikat dari ibadah/penghambaan.

Jadi, bisa,mkan kita kejar akherat, dunia juga kita dapatkan?

Sumber: almanhaj.or.id, rumaysho.com, dll.

Add Comment