5 Dasar dalam Menentukan Kriteria Calon Suami/Istri

Cover buku Bukan Cinta Biasa, penulis: Neny Suswati

Saat diri sudah berniat membangun rumah tangga, menjadi penting memikirkan hal-hal apa yang harusnya menjadi dasar dalam menentukan kriteria calon pasangan.

Menikah merupakan satu tahapan dalam perjalanan kehidupan manusia yang dianggap sangat penting, mengingat pernikahan merupakan sebuah momen perpindahan status seorang manusia yang tadinya sendiri menjadi pasangan yang membangun keluarga.

Membangun sebuah keluarga bukan perkara sepele, bahkan seharusnya dipersiapkan sengan sebaik-baiknya, karena, bagaimana nasib kehidupan keluarga yang akan berdiri sangat tergantung pada persiapan calon suami istri. Ibarat membuat sebuah bangunan yang berkualitas, selayaknya dibangun menggunakan bahan-bahan yang bermutu dan rancang bangun yang cermat dan indah.

Mengapa menikah itu penting?

Ada alasan mendasar mengapa menikah itu penting bagi manusia, yaitu fitrah yang menyertai penciptaannya.

  • Berpasangan

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.  (Terjemah QS. Ar-Ruum:21)

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.  ( Terjemah QS. An Nur:32)

Lelaki tertarik dan menyukai wanita adalah sesuatu yang wajar, dan Allah memberi kesempatan untuk menyalurkannya dengan cara yang suci dan baik. Tujuan pernikahan adalah kehidupan yang tentram penuh kasih sayang

  • Berketurunan

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (Terjemah QS. An Nisa :1)

Tanda-tanda siap menikah.

Kapan seseorang dikatakan siap menikah, bisa jadi menurut ukuran individu atau budaya tertentu, berbeda. Kita akan melihatnya dari ukuran umum dan standard.

Ukuran fisik/biologis.

Secara fisik, seseorang layak dikatakan siap menikah saat sudah memasuki usia baligh, yaitu saat dimana seorang manusia sudah mempertanggung jawabkan semua pilihan sikapnya secara pribadi. Usia baligh, jika seorang wanita ditandai dengan haid pertama, sebagai bukti bahwa organ reproduksinya sudah siap menjalankan fungsinya untuk berketurunan. Demikian juga laki-laki, kesiapan itu ditandai dengan telah diproduksinya sperma, yang biasanya ditandai dengan mimpi basah.

Ukuran pemikiran

Secara pemikiran/ penalaran, seseorang dikatakan siap menikah ketika yang bersangkutan memahami konsep berkeluarga, hak dan kewajiban suami/istri/orang tua, tujuan berkeluarga, dan yang berkaitan dengan berfungsinya lembaga keluarga. Menikah berarti menyatukan dua orang dari latar belakang keluarga dan budaya yang berbeda, yang tentunya secara sosial butuh adaptasi dari dua keluarga besar untuk menjalin sebuah hubungan baru.

Ukuran psikologis

Secara psikologis, siap menjalankan dan menanggung setiap permasalahan yang akan muncul dalam rumah tangganya. Memahami perbedaan antara pasangan, siap menerima dan beradaptasi dengan karakter pasangan, yang mungkin akan menimbulkan letupan-letupan emosi, dll.

 

Bagaimana memilih pasangan?

Setiap kita tentu punya kriteria ideal untuk pasangan yang diinginkan. Sebenarnya bebas-bebas saja kita menentukan kriteria, tetapi jangan lupa bahwa kita sedang menanti pasangan hidup, bukan memilih baju yang tersedia di sebuah butik.

Beberapa hal yang harus menjadi dasar saat kita menentukan criteria calon:

  1. Sesuai dengan tuntunan agama

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Terjemah QS. Al Baqoroh:221)

“Bila datang seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya, hendaklah kamu nikahkan dia, karena kalo engkau tidak mau menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.”(H.R. Tirmidzi dan Ahmad)

  1. Visi misi yang kita buat dalam membangun sebuah keluarga tentu tidak bisa berjalan tanpa pasangan sebagai faktor pembentuk keluarga. Bagaimana kualitas pasangan itu tentu berpengaruh pada pencapaian visi misi yang kita akan wujudkan. Contoh: jika kita berkeinginan membangun keluarga dakwah, tentu memilih pasangan yang mempunyai perhatian terhadap dakwah, minimal tidak membencinya.
  1. Kondisi yang ada pada diri perlu diperhatikan, karena sebagaimana kita mengharapkan seorang pasangan ideal, maka calon pasangan kita pun memiliki kriteria ideal untuk calon yang diinginkan. Keberuntungan layaknya Cinderela yang berpasangan dengan pangeran hanya ada dalam dongeng, walaupun kalau ingin disama-samakan, mungkin ada yang mengalami kejadian mirip, jadi berhentilah memimpikan sesuatu yang sulit terjangkau walaupun Allah Maha Kuasa mentakdirkan apapun. Sederhananya, jika kita menginginkan calon pasangan yang baik, maka berusahalah menjadi calon pasangan yang baik juga. Adil, bukan?
  2. Saat menentukan kriteria yang diinginkan dari calon, sadarilah bahwa itu sebagai bentuk sebuah doa, yang pengabulan sepenuhnya ada dalam wewenang Allah. Perbaiki kualitas doa sebagai upaya terkabulnya doa dengan tetap mempersiapkan hati untuk menerima hal yang tak sesuai dengan harapan itu, dengan keyakinan bahwa Allah Maha Tahu yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.
  3. Nah, ini penting, memperhatikan peluang yang tersedia di komunitas dimana kita berharap calon itu datang. Khawatirnya, akan kecewa, ketika membuat kriteria yang sangat ideal, sedang calon dengan kriteria seperti itu sangat langka. Bersyukur kalau kita mendapatkan manusia langka tersebut, tetapi ada kemungkinan penantian itu terlalu lama atau bahkan tidak pernah datang, kalau kita tidak mau menurunkan standar idealnya.

 

 

Add Comment