5 Hal yang Dianggap Jadi Penghalang Ibu Bahagia dan Cara Mengatasinya

Permata hati yang sering menjadi tertuduh sebagai penghalang bahagianya ibu

5 hal yang dianggap jadi penghalang ibu bahagia dan cara mengatasinya.

Adakah manusia yang tak ingin bahagia?

Hampir bisa dipastikan, semua manusia berharap bisa hidup bahagia dengan peran yang sedang dijalaninya, termasuk sebagai seorang ibu. Tetapi pada kenyataannya, lebih banyak orang mengeluh tidakbahagia dibandingkan dengan yang mengaku hidupnya penuh kebahagiaan. Walaupun bahagia itu letaknya bukan di pengakuan, tetapi di hati, tetapi pengakuan merupakan gambaran suasana hati.

Ketika kita belum mencapai apa yang diinginkan, tentu berusaha mencari sebab atau penghalang pencapaian itu. Sama halnya dengan kebahagiaan yang belum dinikmati seutuhnya oleh seorang ibu, maka akan dicari apa yang menjadi penyebab dan penghalang hadirnya kebahagiaan.

Biasanya, arah pandang pencarian adalah di luar diri, karena lebih nyata dan lebih mudah ditemukan.

Ada lima hal yang sering dianggap sebagai penghalang atau penyebab seorang ibu menikmati kebahagiaan. Apa sajakah hal tersebut dan bagaimana cara menghadapinya?

Pertama, suami.

Banyak ibu-ibu yang mengeluhkan karakter, sikap atau kebiasaan suami yang membuatnya marah, kecewa dan menjauhkan bahagia dari hidupnya.

Bagaimana mengatasinya?

Perlu disadari, suami adalah sosok manusia yang berjiwa dan memiliki kehidupannya sendiri. Sebelum menjadi suami, dia adalah seorang anak dari orang tua yang selama ini mendidiknya yang terwujud dalam karakter. Belasan tahun karakter itu sudah terbangun, apakah istri bisa dengan mudah mengubah sesuai keinginannya? Kabar baiknya, seorang istri bisa berkompromi dengan suami dengan mengkomunikasikannya, sehingga terjalin hubungan saling pengertian dan diharapkan ada upaya dari pihak suami maupun istri untuk legowo menerima karakter yang sudah terbentuk dan berupaya menjembataninya dalam sikap yang disepakati. Ini masalah negosiasi. Keinginan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dari kedua belah pihak, akan lebih memudahkan proses penerimaan yang melegakan hati. Kesabaran dan mudah memaafkan sangat dibutuhkan dalam prosesnya yang bisa jadi membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Proses penerimaan dan saling pengertian antara suami istri harusnya segera diselesaikan agar terbangun team yang solid untuk bisa menghadapi permasalahan hidup yang pasti akan ditemui di kemudian hari.

Kedua, anak.

Sering kali anak dianggap sebagai penghalang ibu bahagia. Ketika tidur terganggu, harusnya istirahat tetapi anak rewel, perlu dibantu karena tidak ada orang lain sedang anak belum bisa melakukannya sendiri. Belum lagi setiap anak memiliki karakter unik yang membutuhkan cara-cara berbeda untuk menghadapinya. Mungkin beban itu akan semakin berat dirasakan bagi ibu yang bekerja dalam rangka membantu menambah pemasukan keluarga.

Ibu adalah sosok manusia yang paling mudah mengorbankan dirinya untuk kepentingan dan kebahagiaan anak-anaknya. Dia rela lapar demi mendahulukan anak-anaknya. Dia rela menunda kebutuhannya, demi mendahulukan anak dan suaminya. Bahkan, ibu rela menahan dan menyembunyikan rasa sakitnya, demi kebahagiaan anak-anaknya. Tetapi, ada saatnya seorang ibu bertemu dengan titik jenuh, sehingga muncul rasa sedih, marah, dan tentu saja sulit bahagia.

Bagaimana cara mengatasinya?

Perlu disadari, bahwasanya anak adalah manusia utuh yang mempunyai kehidupannya sendiri. Orang tua diamanahi untuk merawat dan mendidiknya. Dalam prosesnya, kembali kepada ibu, akankah menganggap anak sebagai beban hidupnya ataukah salah satu faktor penyebab kebahagiaannya? Konsep tentang anak akan sangat berpengaruh pada tingkat penerimaan dan perlakuan terhadapnya. Pola asuh yang diberlakukan juga akan mempengaruhi karakter anak, sehingga bagaimana sikap anak terhadap orang tua, bisa dijadikan cerminan dan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan dalam mendidiknya selama ini.

Ketiga, keluarga  besar.

Pernikahan, bukan hanya menyatukan dua manusia, tetapi dua keluarga besar dengan latar belakang dan karakter yang khas. Interaksi dengan keluarga besar tidak bisa dihindari selamanya, sehingga banyak hal yang bisa menjadi faktor yang dianggagp sebagai penghalang kebahagiaan. Lebih-lebih jika hidup dalam lingkungan keluarga besar, baik itu dengan keluarga orang tua maupun mertua.

Sebenarnya, dengan hidup terpisah, membangun keluarga sendiri yang hanya terdiri dari keluarga inti, dapat menimalisir beberapa hal yang berpotensi menjadi konflik, tetapi kondisi ideal itu belum tentu kita dapatkan. Banyak faktor yang menyebabkan sebuah keluarga kecil hidup di lingkungan keluarga besarnya. Solusinya? Kelola hati untuk bisa berlapang dada, jadikan sarana untuk melatih kesabaran.

Keempat, tetangga.

Tetangga adalah orang terdekat dari sisi domisili, biasanya juga menjadi tempat berbagi dan saling menolong. Tetapi, tetangga juga adalah ujian, jika mereka menjadi pihak yang mengganggu dan membuat hidup tidak nyaman.

Kelima, keuangan keluarga.

Seorang teman yang bekerja di KUA menginformasikan bahwa penyebab perceraian yang paling sering terjadi adalah faktor keuangan keluarga. Entah itu jumlah yang kurang memadai atau pengelolaan yang kurang baik sehingga sering menjadi penyebab pertengkaran suami istri dan berakhir dengan perceraian.

Kelima hal di atas sering dianggap sebagai penghalang kebahagiaan seorang ibu, benarkah?

Kalau kita amati, ternyata tidak semua hal itu benar. Banyak ibu yang tetap bahagia walaupun hal-hal tersebut ada dalam kesehariannya, mengapa? Karena dia tidak menghendaki hal-hal tersebut menghalangi kebahagiaanya. Dia mampu mengatasi, menghadapi atau mengabaikannya, karena baginya, bahagia atau tidaknya manusia, tergantung kepada diri sendiri, kondisi apapun yang ada di luar dirinya. Biasanya orang-orang seperti ini adalah manusia yang dekat dengan Allah, tingkat keikhlasan dan ketawakalannya kepada Allah melebihi manusia pada umumnya.

Jadi, mau bahagia atau tidak, diri kitalah yang menentukan.

 

Add Comment