8 Tips Mendidik Anak di Rumah Saat Pandemi

peran puasa dalam membangun karakter anak

Kulwap yang diselenggarakan Yayasan Tunas Lampung

Tulisan ini merupakan tanya jawab di acara kulwap yang diadakan oleh Yayasan Tunas Lampung, sebelum Ramadhan lalu. Tulisan sebelumnya: Peran Puasa dalam Membangun Karakter Anak 1  

dan Peran Puasa dalam Membangun Karakter anak 2

 

Pertanyaan 1:

a. Bagaimana menumbuhkan keikhlasan pada anak usia 6-7 tahun? Terkadang jika diajak puasa sunah banyak sekali mengeluhnya, apalagi jika sudah masuk jam siang sekitar pukul 14.00, terkadang jengkel banget melihatnya.

b.

Menyikapi di zaman ini banyak para orang tua yang lebih banyak beraktivitas di luar, kerja misalnya.. sehingga untuk membentuk karakter anak yang sabar, ikhlas rupanya agak susah.

Bagaimana agar momen Romadhon ini benar-benar menjadi saat yang sangat berharga, sekaligus bisa membangun karakter anak yang jarang bertemu dengan orang tuanya?

 

Jawab :

Bismillah

a. Pertama kita buat dulu ukuran keberhasilannya. Sebagai orang dewasa, yang nalarnya sudah cukup, yang sudah harus bertanggung jawab terhadap semua amal, sudahkah kita dengan mudah ikhlash dalam melakukan sesuatu?

Kemudian kita bandingkan dengan anak usia 6 sampai 7 tahun, belum baligh, belum bertanggung jawab sepenuhnya terhadap perbuatannya. Nalar mereka belum seperti orang dewasa.

Ukuran ini penting banget, sehingga kita tidak menilai atau mengambil kesimpulan yang tidak sesuai dengan kondisi. Kita saja yang dewasa, kalau sedang puasa, jam 2 siang  mungkin sedang berat beratnya, apalagi anak-anak. Namun disini bukan berarti kemudian kita abaikan sikapnya, justru itulah kesempatan kita untuk mengarahkan, untuk memberi pengertiann

Jam 2 siang anak dalam kondisi lapar, ngantuk dan sangat tidak nyaman, biasanya kita ngomong apapun itu tidak masuk. Kita buat tenang dulu dan yang penting ketenangan sikap orang tua. Kalau kita merasa jengkel dengan dengan kondisi mereka, akan sulit ketika harus membimbing mereka untuk ikhlas, karena hal ini bukan pelajaran yang ada selesainya.

Ikhlas itu terus dibangun, terus dilatih. Kita harus sangat memaklumi, bahwasanya untuk menerapkan syariat Allah di usia anak-anak itu sifatnya latihan. Kita belum bisa mengharapkan hasil. sabar saja, nggak perlu dihitung berapa kali kita harus mengulang-ulang mengingatkannya.

 

b. Ini kaitannya dengan masalah pilihan hidup. Setiap pilihan itu ada konsekuensinya artinya ketika kita memilih banyak di luar rumah, bekerja di luar rumah, konskuensinya mengurangi waktu di rumah berkumpul dengan anak.

Kalau menginginkan pendidikan anak  dilakukan sebaik-baiknya, kita harus memiliki energi ekstra dibandingkan dengan yang memang banyak dirumah. Hal ini terkait dengan masalah kuantitas waktu pertemuan dengan anak.

Ada yang mengatakan bahwasanya interaksi orang tua dan anak itu yang penting kualitasnya. Walaupun sebagian tidak setuju dengan itu, bagaimanapun kuantitas itu menentukan hasil dari interaksinya.

Kalau kita sebagai orang tua banyak di luar rumah, maka harus benar-benar mengelola kondisi rumah dengan sebaik-baiknya. Mungkin tidak sepenuhnya kita yang membentuk atau memberi pendidikan kepada anak, di sini kita butuh mitra. Nah ketika memilih mitra inilah yang kita tidak boleh sembarangan karena khawatir, ketika kita memilih mitra yang tidak sesuai dengan visi misi, kita akan kecewa di hari kemudian. Bahkan bukan sekedar kecewa tetapi menyesali, karena waktu tidak bisa diulang.

Waktu yang sudah terlewat itu tidak bisa dikembalikan. Kita hanya bisa memperbaiki hal-hal yang masih memungkinkan, tapi ada hal-hal yang kadang-kadang tertanamnya itu begitu kuat sehingga kita sudah tidak tidak bisa melakukan perubahan yang efektif.

Yang benar-benar perlu kita pertimbangkan adalah ketika memilih mau bekerja di luar atau di dalam rumah, mengingat tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak itu bukan hal yang bisa disepelekan. Tanggung jawab kepada Allah, yang memberikan amanah itu.

Banyak riwayat yang menceritakan, bagaimana akibat dari orang tua yang tidak bisa maksimal memberikan bimbingan dan pendidikan kepada anak.

Tidak ada salahnya setiap tahun atau bahkan setiap bulan mengevaluasi perjalanan hidup keluarga kita, setelah sekian tahun berjalan seperti ini hasilnya, seperti apa kemudian.

Lihat kondisi sekarang tantangannya apa? Masih memungkinkan nggak dengan cara pilihan yang sebelumnya ataukah perlu diadakan sebuah perubahan yang yang sangat besar, demi menyelamatkan kondisi atau pendidikan anak-anak kita.

 

 

8 tips mendidik anak di masa pandemi

Melibatkan anak dalam memasak,sangat menyenangkan

Pertanyaan 2 :
Ditengah pandemi ini saya rasa suasana Ramadhan di lingkungan mungkin tidak semarak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kira-kira, bagaimana cara agar anak tetap dapat merasakan indahnya Ramadhan, meski mungkin tidak bisa shalat tarawih atau bercengkerama bersama teman? Serta bagaimana cara memberikan pemahaman terkait tidak sholat di masjid atau bahkan misal nanti memang di tiadakan shalat Ied?

Jawab:

Hal ini sangat terkait dengan kreativitas orang tua. Namun jangan merasa kemudian orangtua harus menjadi manusia super, karena sebenarnya masalah kreativitas ini tidak harus muncul dari orangtua, ide bisa dari anak-anak.

Kalau saya pribadi selama ini memang terbiasa dengan komunikasi, bahkan untuk urusan mau makan apa, kita selalu diskusikan.

Untuk tetap bisa menikmati indahnya Ramadan, perlu kita sesuaikan dengan kondisi saat ini. Mungkin selama ini Ramadan dihiasi dengan tarawih bersama ke masjid, ngabuburit dan banyak hal-hal lain. Kali ini kita ajak anak-anak untuk bisa menikmati, jadikan rumah menjadi suatu tempat yang menyenangkan, yang asyik untuk produktif.

Jadi kalau misalnya kita tidak bisa beraktivitas di luar rumah, ya buat aktivitas dalam rumah Seperti contohnya kalau selama ini mungkin mereka kurang tertarik dengan membaca, saat inilah kita berkesempatan menunjukkan pentingnya membaca.

Mungkin bisa jadi kita akan menemukan hal-hal baru, akan memberikan inspirasi untuk anak-anak, sehingga kondisi saat ini bukan menjadi sesuatu yang berat tapi tetapi justru menjadi sebuah sebuah kesempatan untuk melihat potensi potensi yang selama ini belum dimunculkan.

Ketika kita dalam kondisi mudah, kreativitasnya kurang berkembang. Segala sesuatunya mudah didapat, tetapi ketika kondisi sulit maka kreativitas itu dipaksa untuk muncul.

Contoh, Ramadhan tahun kemarin mau berbuka itu nggak usah repot-repot buat hidangan, karena di sepanjang jalan banyak orang jualan masakan matang, tetapi sekarang mungkin agak sulit ditemukan. misalnya pun ada, kita juga was-was.

Mau tidak mau kita memikirkan membuatnya sendiri. Nah, untuk urusan menyiapkan berbuka saja kita sudah bisa menemukan peluang aktivitas-aktivitas yang sangat menyenangkan untuk mereka.

Bisa juga sikap kebersamaan ibadah seperti misalnya kita adakan lomba, untuk usia tertentu  lomba banyak-banyakan tilawah atau kita adakan lomba menambah hafalan dan banyak hal bisa kita lakukan.

Yang penting orang tua tidak mudah panik, karena justru sulit menemukan ide, tapi kalau kita menghadapinya dengan tenang, saat anak bingung mau apa ya? Kita balik bertanya, kira-kira mau apa? Seperti itu justru membuat anak itu juga terpancing untuk berpikir apa yang bisa dilakukan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

 

Pertanyaan 3:
Dari pengalaman menndidik 6 anak. adakah kesulitan Mbak Neny membentuk karakter mereka? Apakah lancar-lancar saja? Mohon berikan trik-triknya.

Dalam upaya membentuk karakter anak, kita sebagai orang tua hanya berdasarkan prasangka dan pengetahuan yang sampai. Yang pasti anak adalah manusia yang memiliki garis takdirnya sendiri. Kita hanya berupaya menyambungkan dengan garis takdirnya. Bisa jadi  apa yang kita hadapi adalah ujian, tarbiyah dari Allah untuk mendewasakan kita. Tertawa, terharu, marah, dll, itu pasti akan kita alami dalam mendidik mereka.

 

Pertanyaan 4 :
Hal apa yang sederhana sekali kita beri pemahaman ke anak supaya mereka bisa berpuasa dan syukur-syukur kalua bisa full.

Jawab:

Mungkin kita perlu menyampaikan dengan bahasa yang mereka pahami tentang keutamaan puasa. Bahwasanya Allah itu memberikan syariat puasa itu bukan untuk memberatkan kita, bukan untuk menyulitkan, tetapi itu bagian kebaikan untuk kita.

Kalau kita melaksanakan puasa, maka kita akan masuk menjadi golongan orang-orang yang bertakwa. Yang puasa bukan hanya kita, kok. Dari zaman dulu, orang-orang sudah berpuasa bahkan orang-orang yang tidak beragama pun itu mereka juga banyak melakukan puasa, tapi memang beda landasannya atau beda tujuannya. Setidaknya ketika kita mengatakan bahwasanya puasa itu sesuatu yang memang manusia bisa melakukan, makanya ya kita kerjakan.

Kemudian kita juga menyampaikan apa yang Allah janjikan. Seperti contohnya ketika kita bisa puasa full, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita yang sudah lewat. Siapa yang nggak ingin diampuni Allah? Siapa yang ingin terbebas dosanya? Itu sesuatu yang sangat menarik.

Kemudian satu lagi bahwasanya puasa itu merupakan sebuah ibadah yang istimewa, sangat istimewa sehingga Allah akan memberikan langsung hadiahnya. Allah akan memberikan langsung pahalanya, tidak memberitahukan berapa pahalanya kepada kita. Allah itu Maha Kaya, Maha Kuasa dan bebas memberikan pahala itu kepada setiap hamba-Nya dan seberapa banyak.

Di sini kita memberi gambaran kepada anak-anak bahwasanya puasa itu adalah ibadah yang sangat istimewa, jadi rugi kalau tidak tidak termasuk orang-orang yang melakukan ibadah yang istimewa ini.

Pertanyaan 5 :
Saat ingin membangun karakter disiplin kepada anak yang baru belajar berpuasa, dengan memberikan reward, langkah apa yang harus orang tua lakukan, sehingga anak tidak berorientasi pada reward semata dan tetap ikhlash?

Jawab:

Salah satu cara untuk melatih disiplin anak, orang tua sekali sekali atau mungkin bahkan seringkali menggunakan reward sebagai sebuah motivasi. Nah, disinilah  kita sebagai orang tua yang harus sangat berhati-hati dalam kalimat, jangan sampai reward yang kita berikan niat awalnya untuk memotivasi, tetapi justru menjadi orientasi bagi si anak.

Bagaimana pengaruh reward itu terhadap kedisiplinan anak?

Kalau semakin hari anak itu menuntut reward lebih banyak, kita perlu diperhatikan, jangan-jangan ini sudah ada perubahan arah perubahan orientasi anak. Sebaliknya, ketika semakin lama reward itu justru bisa dikurangi, sampai suatu saat mereka tidak butuh lagi, itu yang bisa dikatakan bahwa rewardi fungsinya hanya sebagai motivasi, sebagai hal-hal yang membuat mereka lebih bersemangat untuk melakukan amal saleh itu.

Bagaimana kaitannya dengan menanamkan keikhlasan?

Seperti yang saya ungkapkan tadi di atas bahwasanya setiap kita memberikan reward selalu harus didampingi dengan penjelasan, bahwasannya ini tidak boleh menjadi tujuan, hanya sebagai sebuah apresiasi dari orang tua karena mereka sudah berusaha untuk memberikan atau melakukan hal yang baik, yang mana yang mereka lakukan itu kebaikannya untuk mereka bukan untuk orang tua.

Orang tua hanya mengingatkan kepada anak bahwasannya setiap perbuatan baik itu tidak akan pernah sia-sia, karena Allah Maha memperhitungkan setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil apapun itu, Allah sudah siapkan hadiah nya, Allah sudah siapkan ganjarannya.

 

8 tips mendidik anak di masa pandemi

membiasakan anak saling menjaga dan toleransi

Pertanyaan 6 :
Mengenai toleransi, mana yang di dahulukan, apakah kita mengajarkan yang puasa harus toleransi atau memaklumi terhadap yang tidak puasa, atau kita mengajarkan orang yang tidak puasa harus toleransi terhadap yang puasa?

Jawab:

Kita sering mendengar bahwasanya hidup itu pilihan, tetapi ada kalanya kita tidak harus memilih salah satunya. Seperti contohnya dalam hal mengajarkan toleransi, mana yang lebih dulu: toleransi yang puasa terhadap yang tidak puasa atau yang tidak puasa terhadap yang puasa?

Ketika menemukan dua hal ini, kita bisa sekaligus memilih keduanya. Kepada yang puasa kita memberikan pemahaman mengapa dia tidak puasa, di sini kesempatan kita untuk menjelaskan Syariah: siapa yang boleh tidak puasa dan alasannya apa.

Dan kepada yang tidak puasa kita juga mengajarkan toleransi. Memang boleh tidak puasa karena sebab tertentu, tapi kita juga harus menghormati yang sedang puasa, sehingga ketika makan/minum tidak di dekat atau kelihatan oleh orang yang sedang berpuasa.

Ini sangat sering terjadi di anak-anak. Seperti misalnya anak usia 4 atau 5 tahun sudah kita latih untuk berpuasa, tetapi adiknya masih berusia 2 tahun, itu bukan berarti kita tidak bisa menjelaskannya.

Anak usia 2 tahun kita beri penjelasan dengan bahasa yang kira-kira mereka paham. Bukan hanya sekedar menelaskan tetapi dengan tindakan seperti misalnya ketika dia minta makanan, langsung kita ajak ke tempat yang tidak terlihat oleh kakak.

“Boleh makan,  yuk di dapur, supaya Kakak nggak melihat, kan Kakak sedang puasa.”

Kalau situasi tidak memungkinkan, dan kakaknya melihat, beri penjelasan kepadanya.

“Adik belum sekuat Kakak, jadi belum bisa puasa seperti Kakak, masih lebih sebentar puasanya.”

Biasanya usia 2 tahun atau 3 tahun itu tetap kita perlakukan latihan puasa, tidak makan dan minum, tapi mungkin hanya sekitar 1 jam atau 2 jam sekedar untuk memberi pemahaman mereka bahwasannya yang namanya puasa itu tidak boleh makan tidak boleh minum. Dengan kondisi seperti ini kita sudah bisa mendapatkan keduanya, menanamkan toleransi kepada yang puasa dan menanamkan toleransi kepada yang boleh tidak berpuasa.

 

Pertanyaan 7:

Berdasarkan pengalaman Umi Neny, apa saja permainan edukasi untuk usia 5 tahun dalam menyambut Ramadhan dengan ceria? Apalagi zaman sekarang banyak sekali godaan seperti gadget dan TV. Bisakah dialihkan dengan pemainan lainnya?

Jawab:

Ini masalah kreativitas. Kalau pengalaman pribadi untuk edukasi anak usia 5 tahun, saya merasa tidak terlalu mengalami kesulitan, karena anak-anak kami, untuk urusan TV, gadget dan sebagainya, masih bisa dikelola.

Sedini mungkin sudah kita tanamkan bahwasanya itu bukan kebutuhan pokok. HP itu bukan kebutuhan anak-anak. HP itu kebutuhan orang tua, orang dewasa dan kakak-kakak yang memang sudah membutuhkan.

Permainan apa yang yang pas untuk mereka?

Sangat banyak yang sangat banyak yang bisa kita ajarkan atau tawarkan, ketika mereka sedang tidak punya inisiatif.

Barang-barang bekas di sekitar kita itu sangat banyak. Untuk pengasuhan anak yang bungsu, sudah saya bukukan, dengan  judul BERANDA HARISH. Sejenis buku panduan pengasuhan anak di bawah umur 7 tahun. Di sana banyak sekali hal-hal yang bisa dipelajari dalam hal mendampingi anak usia dibawah 7 tahun. Saya menceritakan, dalam pendampingan anak usia 3 sampai 6 tahun, tidak akan kekurangan bahan untuk permainan edukasi. Dan satu hal lagi, biasakan anak memikirkan, apa manfaat yang sedang atau yang akan dilakukan. Dengan pembiasaan seperti itu kita tidak akan melihat, kreativitas mereka itu justru memunculkan suatu aktivitas atau  permainan yang tidak terbayang sebelumnya. Bagaimana mereka bisa menjadikan handuk menjadi semacam layer, bisa menjadikan bangku kecil menjadi seperti layar komputer di minimarket, dll.

Kreativitas atau daya khayal anak-anak itu tidak usah di khawatirkan, tidak perlu bingung, tidak akan mati gaya. Masya Allah.

Untuk masalah gadget, ini sangat tergantung kepada otoritas orang tua. Kadang-kadang dengan alasan kesibukan, kebutuhan, dan sebagainya, orang tua seperti tidak punya kuasa untuk menolak keinginan anak. Kalau dalam keluarga kami, sudah dibuat sebuah kesepakatan bahwasanya anak berhak mendapatkan HP setelah mereka hafal 30 juz. Sebelum hafal 30 juz mereka belum punya hak untuk memiliki HP, kalau toh mereka membutuhkan, boleh pinjam  punya umi.

Dan apa yang boleh dilihat dan ditonton, juga dalam bimbingan dan pengawasan. Adakalany, keinginan mereka untuk menggunakan HP, bisa kita jadikan alat untuk memacu produktivitas mereka. Bisa menjadi sebuah reward untuk mereka ketika sudah selesai menunaikan tanggung jawab. Contoh, selama selama belajar dari rumah, ada tugas-tugas dari sekolah baik itu tugas belajar maupun tugas hafalan atau tugas tilawah, ditambah tugas dari kita, baru mereka bisa mengambil jatahnya nonton YouTube 1 jam sehari yang mereka sukai tetapi tetap dalam pantauan kita jadi kita juga sudah punya sudah punya kesepakatan mana-mana yang boleh ditonton mana yang tidak boleh

 

Pertanyaan 8:
Bagaimanakah cara membangun semangat anak yang telah menginjak usia 7tahun, karena terkadang karena dari pengaruh lingkungan, anak malas puasa, dengan alasan belum kuat atau masih ada teman seusianya yang belum puasa.

Jawab:

Kalau kita melihat model pendidikan sahabat-sahabat Rasulullah Saw, bahwasanya kita bisa membagi usia anak itu menjadi tiga tahapan pertumbuhan:

7 tahun pertama(0-7) anak itu kita perlakukan sebagai raja

7 tahun kedua (8-14)anak sebagai tawanan atau kuda

7 tahun ketiga (15-21) anak sebagai sahabat

Jadi anak usia 7 tahun kedua itu sudah kita anggap sebagai tawanan atau kuda, sehingga harus mengikat mereka dengan aturan-aturan. U sia 7 sampai 14 tahun ini memang usia rawan.

Kita bisa menjaga mereka di usia 7 tahun kedua setelah kita mempunyai hubungan yang baik di 7 tahun pertama.

Ketika anak 7 tahun pertama merasakan kecukupan dari sisi perhatian kasih sayang bimbingan dan sebagainya, maka di tahapan ini kita tidak terlalu sulit karena mereka sudah terikat dengan kita.  Akan jadi masalah ketika di usia 7 tahun pertama kita belum sempat memberikan ikatan-ikatan yang tidak nampak  antara kita dengan mereka sehingga ketika mereka sudah punya energi yang ingin memberontak, ikatan itu sangat lemah, bahkan tidak ada.

Pendidikan itu berkelanjutan. Idealnya di usia 0 sampai 7 tahun itu benar-benar ada dalam bimbingan orang tua, ibarat menanamkan pondasi karakter pada diri anak. Kita mulai dengan ikatan, yang dalam ikatan di sini lebih kepada peraturan.

Saya mengalami sendiri, ketika menerapkan peraturan, banyak sekali saat anak itu melakukan negosiasi. Di sini kita sekaligus melatih kemampuan negosiasi mereka, juga menjadi orang yang demokratis dalam artian, ketika membuat aturan, bukan sepenuhnya mau orang tua tetapi dibuat Bersama. Jadi anak itu paham, kita tahu ukuran kemampuan anak dan anak tahu apa yang menjadi kemauan orang tua. Kita butuh banyak membuat kesepakatan, kita butuh banyak berkomunikasi, tapi banyak saling menghargai n memahami.

Ketika anak usia 7 tahun  malas diajak untuk berpuasa, apalagi kalau itu karena pengaruh lingkungan, nah ini sekali lagi kembali kepada orang tua. Sebenarnya ketika anak memilih lingkungan, seharusnya tidak sepenuhnya mereka yang memilih. Kita yang memilihkan, dalam arti, memberi pengarahan kepada anak. Sering-sering ngobrol dengan anak. Seperti misalnya, ketika dia berteman dengan A, kita tanya tentangnya: apa yang disenanginya dari A? Apa yang tidak disukainya? Kalau dengan A main apa saja? Dari situ kita akan tahu pengaruh seperti apa yang diberikan A kepada anak.

Kemudian kita tanyakan hal yang sama tentang temannya yang lain.

Ketika kita melihat ada hal yang tidak baik bepengaruh, kita bisa mengangkat potensi ketidaksukaan anak itu dalam obrolan, supaya anak tidak terlalu dekat.

Di sini bisa dipahami, bagaimana hubungan kita ketika anak usia  0 sampai 7 tahun itu  sangat mempengaruhi bagaimana kita bisa melihat apa yang mereka lakukan di luar tanpa harus kita menyaksikan langsung, justru mereka sendiri yang akan bercerita di luar itu mereka melakukan apa.

Add Comment