8 Tips Sukses Public Speaking

Public speaking

Saat menjadi pembicara seminar pranikah

Apa saja tips sukses bicara di depan umum?

Bagaimana rasanya saat melihat seseorang berbicara di depan banyak orang dengan anggun, tenang, runut berbicara menyampaikan gagasan dan audiens memperhatikan dengan penuh perhatian dan tidak menunjukkan rasa bosan?

Greget, ya? Ingin sekali bisa seperti itu, kan?

Tanggal 16 April 2018 yang lalu, saya berkesempatan hadir pada workshop yang diadakan oleh ACT Lampung dan Komunitas Tapis blogger dengan narasumber Bang Indra Pradya, seorang MC yang juga penyanyi, juga pemilik blog Dunia Indra.

Public speaking

Bang Indra Pradya saat sharing tentang public speaking

Bang Indra lebih senang mengatakan sharing pengalaman, karena memang acara dikemas santai dan penuh keakraban. Tetapi justru lebih banyak masukan yang saya dapatkan, lebih terkesan seperti ngobrol saat ada yang ditanyakan. Tentu sangat bermanfaat, karena selama ini saya jadi pembicara sekedar mengikuti naluri dan sangat natural, tanpa mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kualitas. Pengalamannya hingga manca negara, tentu lebih berwarna.

Dari acara tersebut, saya coba membaginya kepada yang sedang berencana mengembangkan diri di bidang public speaking, semoga bermanfaat.

Berikut 8 tips sukses public speaking atau berbicara di hadapan banyak orang.

1. Memiliki pengetahuan lintas genre yang memadai.

Sebagai public speaker, kita akan bertemu dan berhadapan dengan berbagai kalangan, dan latar belakang. Apa yang kita sampaikan akan dipercaya dan diterima jika kontennya sesuai dengan yang mendengarkan pembicaraan.

Bagaimana cara agar kita memiliki pengetahuan seperti itu? Yaitu dengan banyak membaca buku berbagai genre dan juga bergaul dengan lintas bidang. Kita akan bisa bicara berkualitas jikawawasan mencukupi, logikanya, dengan siapa mau bicara, setidaknya sedikit tahu tentang bahan yang tepat untuk dibicarakan dengannya.

2. Sertakan passion

Apa, sih, passion?

Pada umumnya, passion dimaknai sebagai sesuatu yang kita tidak pernah bosan terhadapnya, tetapi sepertinya lebih tepat jika kita maknai sebagai gairah atau semangat kita terhadap sesuatu dan ingin lebih meningkatkannya dari hari ke hari.

Dalam hal public speaking, kita akan bisa menikmati dan akan terus meningkatkan kualitasnya jika menyertakan passion di dalamnya.

Public speaking

Saat orasi di acara Gemar Lampung (gerakan menutup aurat), Februari 2018

3. Percaya diri

Kadang kita tidak yakin, mampukah melakukannya? Secara pribadi, saat menghadapi bisikan seperti ini, saya segera membuktikan keraguan itu dengan melakukannya. Nah! Langsung terjawab, bukan?

Ternyata mampu, tetapi harus terus dievaluasi agar ke depannya bukan sekedar mampu, tetapi semakin berkualitas.

Public speaking

Bersama peserta kajian kemuslimahan FMIPA Unila, Maret 2018

4. Kenali Subyek

Subyek yang saya maksud, segala hal yang terkait dengan acara yang sedang membutuhkan kemampuan public speaking kita. Apa temanya, apa tujuan dan target acara, pesan khusus apa yang harus tersampaikan, dsb. Dengan memahami subyek dan menguasai materi, kepercayaan diri kita akan meningkat tajam, gugup menghilang.

5. Kenali audiens

Dengan mengenali siapa yang akan mendengarkan bicara dan melihat performa kita, akan sangat membantu kita mengoptimalkan persiapannya. Baik itu materi, sikap bahkan pakaian sebagai penunjang performa. Sedikit cerita, dulu saya penganut paham berpakaian suka-suka, yang penting menutup aurat sesuai syariat dan nyaman dipakai, tetapi semakin ke belakang, banyak masukan dari teman-teman yang memperhatikan penampilan saya, terutama saat di panggung. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya berusaha menyesuaikan diri dalam hal berpakaian, terutama saat tampil di panggung.

Saat menjadi pembicara di seminar muslimah Universitas Tirtayasa, Cilegon

6. Pertajam bahasa tubuh

Bahasa tubuh bisa dimunculkan dari seluruh bagian tubuh kita, seperti mimik wajah, tatapan mata, gerakan alis, senyuman, menempatkan posisi tubuh, gerakan tangan, cara melangkah, dll. Secara alami, semakin seringĀ  melakukannya, kita akan menemukan komposisi bahasa tubuh yang pas sesuai situasi dan kondisi, tetapi akan sangat lebih baik jika kita terus mengasahnya dengan menambah pengetahuan tentang psikologi kepribadian, baik dengan membaca atau mengikuti pelatihan-pelatihan pengembangan diri.

Saat mengisi bedah buku di Pelalawan, Riau, bersama suami.

7. Nikmati saja

Saya ingat saat awal-awal menjadi nara sumber tetap sebuah acara di radio lokal, sekitar tahun 2000. Saat sedang menanti jam on air, seperti biasa saya membaca buku, yang saat itu tidak pernah tinggal dari tas saat bepergian. Sebuah buku motivasi, saya lupa judul dan penulisnya. Di salah satu halaman, saya membaca kalimat yang intinya, jangan tutupi kegugupan, nikmati saja. Saat on air, saya praktekkan nasihat itu, tanpa segan saya sampaikan rasa bahagia saya berada dalam acara itu, walaupun sedikit gugup. Dengan menyampaikannya kepada pendengar, saya tidak lagi merasa takut ketahuan kalau gugup. Ajaib, kegugupan itu berangsur menghilang di menit-menit awal.

8. Urai kegugupan

Gugup saat bicara di depan publik itu sangat manusiawi, tetapi akan sangat mengganggu jika tidak segera di urai. Saya baru tahu dari acara ini, ternyata menurut Bang Indra, mengurai kegugupan itu dengan cara bergerak, sehingga kegugupan yang biasanya nampak di wajah dan bagian atas tubuh, terurai ke bagian bawah yang kurang diperhatikan audiens.

Ha ha ha, ingat dengan keisengan saya saat memperhatikan para public speaker pemula, dimana kegugupan itu biasanya nampak pada suara yang bergetar, kertas catatan yang dipegang juga bergetar atau celana bagian bawah yang bergetar.

Selama ini, saya lebih nyaman dengan beberapa posisi yang berganti atau bergerak, saat menjadi pembicara di hadapan publik, terutama yang audiennya ratusan. Sebenarnya tidak berniat menghilangkan kegugupan, karena belum tahu, tetapi berupaya agar lebih bisa menguasai suasana. Saya lebih suka berdiri agar peserta yang di belakang tetap bisa fokus melihat ke arah saya. Berpindah tempat, juga upaya untuk menguasai audiens agar tidak bosan. Mendekati beberapa peserta, untuk menghilangkan gab dan terasa dekat secara psikologis. Dan satu hal, semakin tinggi jam terbang, maka kegugupan itu semakin menjauh, tanpa terpengaruh siapa yang sedang dihadapi.

Sebenarnya, seberapa pentingkah kita memiliki kemampuan public speaking?

Menurut saya, sangat penting. Sebagai manusia yang memiliki banyak gagasan, kita butuh cara yang baik untuk menyampaikan pemikiran. Terkadang, sebuah gagasan yang bagus dan bermanfaat untuk banyak orang, tidak bisa diwujudkan karena sipemilik gagasan gagal menyampaikannya pada orang-orang yang seharusnya bisa menjadi pendukung gagasannya tersebut.

Punlic speaking

Manfaatkan kesempatan bertanya saat menjadi peserta di sebuah acara penting, yang pesertanya dari berbagai kalangan.

Kemampuan public speaking, terutama mentalnya, bisa dilatih sedini mungkin, misalnya memberi kesempatan anak-anak menyampaikan gagasannya. Membiasakan diri bertanya atau menjawab pertanyaan guru/ dosen/pembicara. Semakin sering kita melakukannya, kepercayaan diri makin meningkat, kegugupan terus terkikis.

Add Comment