9 Alasan Mengapa Harus Menghormati Ibu

Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah di dalam kitabnya Al-Kabair mengatakan, Ibumu sangat layak dihormati, karena:

  1. Dia mengandungmu di dalam perutnya selama 9 bulan seolah – olah 9 tahun.

Sebagai wanita yang pernah mengandung, tentu bisa memahami hal ini. Bayangkan, selama berbulan-bulan membawa beban kemana-mana tanpa pernah diletakkan. Selain berat, tentu membuat gerak tidak selincah saat tidak mengandung. Belum lagi keluhan yang hampir semua wanita mengalaminya, walaupun jenis keluhannya berbeda. Ada yang kehilangan selera makan, ada yang tidak bisa mengkonsumsi makanan yang biasanya dikonsumsi, ada yang tidak bisa membaui aroma tertentu, dll. Lemah yang bertambah lemah.

  1. Bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Predikat saat untuk seorang wanita yang meninggal saat melahirnya menjadi isyarat betapa besarnya perjuangan dan pengorbanan seorang ibu saat melahirkan.
  2. Menyusuimu dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Tak ada yang bisa merasakannya kecuali yang pernah melakukan. Menyusui berbeda dengan memberi minum susu, yang siapapun bisa melakukannya, tetapi menyusui, butuh kedekatan fisik yang tak bisa digantikan orang lain. Saat itulah jalinan kasih sayang semakin menguat. Bayi bisa sewaktu-waktu minta disusui, tanpa melihat kondisi ibunya sedang seperti apa; lelah, mengantuk, sibuk, bahkan sakit. Bayi hanya bisa menangis saat lapar, tanda butuh disusui ibunya. Andai bisa memilih, semua bayi ingin disusui ibunya secara sempurna, 2 tahun.

  1. Mencuci kotoranmu dengan tangan kanannya.

Seorang ibu bisa berubah dan mengubah kebiasaan dengan hadirnya seorang bayi. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa memelihara rasa jijiknya, sedang saat makan, bayinya buang air buang kotoran dan menangis minta segera dibersihkan dan diganti pakaiannya? Tidak semua ibu beruntung mempunyai asisten atau keluarga yang bisa menggantikannya saat itu. Mau tidak mau, ditinggalkanlah makanannya untuk membersihkan bayinya agar segera tenang, setelah selesai, diteruskan lagi makan dengan menggunakan tangan yang sama untuk membersihkan kotoran bayi.

  1. Dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya.

Beruntung jika seorang ibu yang memiliki bayi tidak pernah bermasalah dengan ketersediaan bahan pangan dan rizki lainnya yang melimpah. Hmm, bagaimana dengan yang rizkinya terbatas? Bahkan harus sangat berhemat untuk makan karena begitu banyak kebutuhan yang juga minta diseselaikan? Jarang ditemui, seorang ibu mendahulukan dirinya daripada kebutuhan anak-anaknya. Bahkan, lazim di masyarakat, di mana orang tua rela tidak membeli pakaian karena mengutamakan biaya pendidikan anak-anaknya.

  1. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dalam kondisi lelah bagaimanapun, seorang ibu rela menggendong dan menimang bayinya saat rewel. Duduknya tak pernah nyaman tanpa anak di pangkuannya. Dan sepertinya, pangkuan ibu adalah tempat ternyaman bagi anak-anaknya.

  1. Dia telah memberikanmu semua kebaikan.

Apapun, bahkan andai harus merelakan dirinya. Terkadang seorang ibu menebalkan muka untuk berhutang, demi memenuhi kebutuhan pokok anak-anaknya. Rela berhemat demi masa depan anak-anaknya. Rela mengalahkan urusan lain demi mendahulukan kepentingan anak-anaknya.

  1. Apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu. Bahkan ada yang tercetus, lebih baik sakit itu dipindahkan ke dirinya, asal anaknya sehat wal afiat.
  2. Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.

Masih belum cukupkah alasan-alasan di atas untuk anak-anaknya segera menghormati orang tuanya? Bahkan Allah mengingatkan dalam ayatnya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (terjemah QS Al-Isra:23)

Allah memberikan tuntunan yang jelas, bagaimana sikap menghormati orang tua. Allah begitu memuliakan orang tua, sehingga anak dilarang menyakiti mereka bahkan hanya dengan berkata “ah” sebagai sebuah sikap buruk yang paling ringan, apalagi sampai membentak. Dari sisi perkataan, anak dituntut untuk mengucap kata-kata yang mulia, sebagai sebuah bentuk penghormatan.

Jika berkata “ah” saja dilarang, apalagi dengan sikap yang lebih dari itu?

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a: Seorang laki-laki menemui Rasulullah SAW dan berkata,”Ya Rasulullah, siapakah orang yang harus paling aku hormati?” Nabi SAW.bersabda,”Ibumu!”  Laki laki itu berkata lagi,”Siapakah setelah ibuku?” Nabi SAW. bersabda,”Ibumu!” Laki-laki itu berkata,”Siapa lagi setelah ibuku?” Nabi Saw.berkata,”Ibumu!” Laki-laki itu berkata,”Lalu, siapa sesudahnya?” Nabi SAW bersabda,”Ayahmu!” (HR.Bukhori)

Mungkin kita bisa menahan untuk tidak membentak atau mencaci maki orang tua sendiri, tetapi melampiaskan kemarahan dan caci maki pada orang tua orang lain. Dalam hal ini Rasulullah Saw. mengajarkan, bahwasanya hal itu sama saja dengan mencaci orang tua sendiri.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, ra. Rasulullah Saw. pernah bersabda,”Salah satu dosa besar adalah seseorang mencaci maki orang tuanya.” Seseorang berkata,”Ya Rasulullah, bagaimana seseorang mencaci maki orang tuanya?” Nabi menjawab,”Seseorang mencaci maki ayah orang lain dan orang yang disebut terakhir ini mencaci maki ayah orang yang disebut terdahulu. Seseorang mencaci maki ibu seseorang dan orang yang disebut terakhir mencaci maki ibu yang disebut terdahulu.” (HR. Bukhori)

Tidak inginkah kita mendapat predikat sebagai manusia terbaik?

Sebaik-baik kalian adalah yang paling mulia akhlaknya

(HR Bukhari dan Muslim)

Manusia yang paling layak mendapatkan akhlak terbaik kita, setelah kepada Rasulullah Saw. adalah IBU.

2 Comments

  1. yudi hartono Desember 29, 2017
    • nenysuswati123 Januari 6, 2018

Add Comment