Al-Qur’an Mengantarkan Aku ke Turki

Al-Qur’an mengantarkan aku ke Turki.

Di salah satu tempat wisata sejarah di Turki

Ini judul acara yang diselenggarakan oleh Dewan Dakwah Islam Indonesia, pada tanggal 21 Juli 2018 di Bandarlampung.

Nara sumbernya, Muhammad Hatif Ashshiddiq (21 tahun) yang baru saja menyelesaikan pendidikannya selama 5 tahun di Turki.

Al Qur’an mengantarkan aku ke Turki, adalah satu judul yang saya pilih dari beberapa yang diusulkan oleh panitia saat menghubungi.

Lho? Siapa saya, kok dihubungi? Tepatnya, apa hubungan saya dengan narasumber?

Yups! Hatif adalah anak kedua kami, yang baru pulang dari Turki pada 6 Juli 2018 lalu, setelah 5 tahun menikmati kehidupan di Turki.

Mengapa judul itu yang dipilih?

Karena begitu kenyataannya, Hatif mendapat kesempatan belajar di Turki dengan beasiswa penuh, lantaran dia hafal Al Qur’an, atas karunia Allah.

Kadang, saya hanya tersenyum saat ditanya,”Hatif gelarnya apa?”

Mau jawab gelarnya Hafidz, mungkin malah bikin bingung, soalnya di jalur formal tidak ada gelar tersebut, karena biasanya orang bertanya dengan standar pendidikan formal.

Hatif selesai setoran hafalan 30 juz saat usianya 14 tahun. Setahun kemudian, diterima di yayasan Sulaimaniyah Turki cabang Indonesia. Selama setahun dikarantina di asrama yang ada di Rawamangun-Jakarta, untuk memantapkan hafalan qur’annya, sekaligus mempelajari metode menghafal Turki Utsmani juga belajar bahasa Turki dan Arab, untuk bisa melanjutkan pendidikan di Turki.

Selayaknya pondok pesantren di Indonesia, yang dipelajari di sana adalah kitab-kitab klasik berbahasa Arab, sedangkan pengantar atau bahasa komunikasi sehari-harinya menggunakan bahasa Turki.

Awalnya, Hatif mendapatkan beasiswa selama 3 tahun untuk mempelajari berbagai kitab Nahwu, Shorof, Ushul fikh, Fikh, dll. Mendengar ceritanya, saya hanya bengong, karena ternyata kitab-kitab itu bukan sekedar dibaca dan dipahami, tetapi dihafalkan dan disetorkan layaknya menyetorkan hafalan Al Qur’an.

Menjelang berakhirnya program, Hatif ikut tes program qiroah asysyaro dan hanya 2 orang yang lulus dari Indonesia. Dan itu berarti, Hatif akan menjalani program selama dua tahun lagi, tanpa pulang!

Sebagai muslim awam, saya tidak terlalu paham seluk beluk keilmuan terkait Al Qur’an. Selama ini mengarahkan anak-anak untuk menghafal Al-Qur’an, dengan harapan mereka dekat dan memahami pegangan hidupnya, untuk bekal agar dapat menjalani hidup dengan cara benar, selamat dan berkah.

Belakangan, memang program hafidz qur’an sedang banyak diminati para orang tua. Semakin hari terus meningkat, bersamaan dengan itu muncul bak jamur di musim hujan, lembaga-lembaga pendidikan yang mengunggulkan program tahfidz sebagai salah satu programnya. Baik lembaga pendidikan yang sudah ada kemudian menambah program tahfidz, maupun lembaga yang benar-benar baru muncul, sejenis rumah tahfidz atau pondok pesantren tahfidzul qur’an.

Dalam sebuah bidang, selalu ada tingkatan kualitas. Demikian juga terkait dengan pendidikan Al Qur’an. Level awal, pendidikan yang mengantarkan anak dari tidak bisa menjadi bisa membaca al qur’an.

Ada yang mencukupkan sampai di situ, bisa membacanya, tetapi ada juga yang meningkat dengan menghafalkan.

Dari para penghafal,pun, berbeda-beda. Ada yang menghafalkan sebagiannya, ada yang mencukupkan dengan menghafal seluruhnya, 30 juz.

Dari para penghafal itu, ada yang berusaha mendapatkan sanad, yang merupakan sebuah legitimasi bahwa hafalannya benar diakui oleh seorang guru yang juga sudah mendapat pengakuan dari guru-guru sebelumnya yang jika diurutkan ke atas bertemulah dengan Rasulullah Saw, artinya, seorang hafidz yang memiliki sanad, resmi diakui, bacaannya benar seperti tuntunan Rasulullah Saw.

Sebagai seorang hafidz bersanad, mereka memiliki kecendurangan yang berbeda-beda dalam mendalami ilmu Al Qur’an. Ada yang mengambil bidang ilmu tafsir, ada yang menekuni qiroah/bacaannya.

Mendengarkan Hatif presentasi, menceritakan apa yang dilakukannya selama 5 tahun di Turki, kemudian mendengarkan tilawah Al Qur’an dengan cara baca sepuluh imam, menyadarkan saya, mungkin juga peserta lainnya, betapa…pengetahuan tentang Al Qur’an selama ini bagai setitik air di samudra luas, tak ada apa-apanya.

Satu hal yang sangat membahagiakan, di usianya yang masih tergolong muda, Hatif diberi kesempatan memperluas wawasannya dengan menjelajah tempat-tempat bersejarah di Turki, sejarah yang terkait dengan perjalanan perjuangan dan kejayaan Islam. Berinteraksi dengan berbagai kalangan yang tentunya akan menambah wawasannya, dan…semua itu diawali dari kesungguhannya berinteraksi dan menghafalkan Al Qur’an.

***

Al-Qur'an mengantarlkan aku ke Turki

Rilis panitia penyelenggara di akun facebooknya:

LAZNAS Dewan Da’wah Lampung Hadirkan Pemegang 10 Sanad Qiro’ah Al-Qur’an dari Sulaimaniyah Turky ||

“Sesungguhnya Allah mengangkat (martabat) sebagian orang dan merendahkan sebagian yang lainnya dengan sebab al-Qur’an” (Riwayat Muslim)

Ust. Hatif Ashshiddiq hari ini Sabtu, 21 Juli 2018 berhasil membanjirkan air mata jama’ah kajian sabtu yang diagendakan setiap Pkl. 07.00 di Aula Dewan Da’wah Lampung.

Beliau menguasai 10 Sanad Qiro’at Al-Qur’an dari Sulaimaniyah,

Bukan tanpa perjuangan panjang untuk memperolehnya. Ia menghabiskan waktunya berjibaku dengan al-Qur’an, sehingga tiap harinya ia musti menyetorkan hafalan dan menulisnya kembali dengan sepuluh sanad.

“Tak ada waktu untuk bermalas-malasan disana, sebab setiap hari dituntut untuk bisa setoran sesuai dengan target yang diberikan” begitu ujar beliau.

Salah satu jama’ah berucap syukur dan terimakasih kepada Dewan Da’wah Lampung telah memfasilitasi Ust @hatifashshidiq untuk menjadi pemateri karena mungkin di Indonesia baru satu orang yang memiliki ilmu ini, pembicaraan ini dipotong oleh ust. Hatif

“Sudah ada lima orang pak . Saya lulusan ke-4 😇” ujarnya.

Masyaallah…
Alhamdulillah, wasyukurillah… Indonesia punya investasi besar dengan ilmu-ilmu yang dimilikinya.

Admin perhatikan setiap mata para jama’ah berkaca-kaca dan meneteskan air mata. Salah satu mengatakan
“Jangankan 10 sanad… 30 juz dengan sanad saja saya belum hafal 😭

Kami berharap dengan hadirnya beliau ust @hatifashshiddiq mampu mendobrak motivasi para jama’ah agar lebih semangat lagi dalam mempelajari al-Qur’an …

***

Syukur tiada terkira atas karunia Allah, semoga kita diistiqomahkan untuk selalu dekat dengan Al-Qur’an.

Add Comment