Baby Blues, Penyebab dan Cara Menghadapinya

 

Baby Blues, penyebab dan cara menghadapinya.

Puncak kebahagiaan seorang ibu adalah saat melihat kenyataan, seorang makhluk mungil hadir di hadapannya dalam kondisi sehat. Selama 9 bulan lebih, membayangkan, seperti apakah makhluk yang menghuni rahimnya?

Kesakitan, ketakukan dan kelelahan seolah terbayar lunas saat memegang, mengusap dan mencium manusia mungil yang kini berada dalam dekapannya.

Namun, adakalanya, hal itu berlangsung beberapa menit atau jam, kemudian sebagian ibu merasakan gejala-gejala ketidaknyamanan pasca melahirkan, yang biasa disebut baby blues.

Baby blues adalah kondisi gangguan mood yang dialami ibu setelah melahirkan bayi. Baby blues merupakan bentuk yang lebih ringan dari depresi setelah melahirkan. Kondisi ini dianggap normal dan cukup sering terjadi, yaitu 70 – 80% ibu setelah melahirkan.

Kecemasan yang tidak beralasan, gangguan konsentrasi, lelah, sedih, gelisah, sensitif, sulit tidur, kesepian, dan kurang sabar. Perubahan mood yang cepat dari sedih menjadi senang, atau sebaliknya.

Lelah! Proses melahirkan sebenarnya sangat melelahkan, karena bukan hanya tenaga fisik yang banyak keluar, juga tekanan perasaan, takut, cemas akan detik-detik yang dilalui. Beda satu detik bisa mengubah jalan hidup.

Saya ingat saya melahirkan anak pertama, bagaimana merasakan sakit dari subuh dan terus meningkat intensitasnya sampai hampir lewat tengah malam dan berganti hari. Detik-detik yang menentukan, bayi tidak tertolong.

Ketakutan itu sangat melelahkan, karena ada tiga kemungkinan yang akan terjadi, ibu dan bayi selamat, ibu selamat bayi tidak atau bayi selamat sedang ibu tidak.

Seorang ibu butuh suport dari orang-orang di dekatnya, untuk perjuangan yang tidak bisa digantikan oleh orang lain.

Seorang ibu butuh istirahat setelah berjuang melahirkan, sedangkan akan sulit istirahat yang sebenarnya,  jika harus memenuhi kebutuhan bayinya sendirian, belum lagi merawat dan memenuhi kebutuhannya sendiri.

Kalau memungkinkan, sepertinya seorang ibu setelah melahirkan hanya ingin menyusui dan memeluk bayinya, serta beradaptasi dengan kehadirannya, sedang urusan lain ada yang mengerjakan. Menyediakan makan dan minum, memandikan dan mengganti pakaian bayinya, menyiapkan segala yang dibutuhkan dan mendapatkan sapaan penuh kasih sayang dan kebanggaan dari orang-orang terdekatnya.

Pada kenyataannya, mungkin hanya sedikit yang memperoleh keberuntungan itu. Bahkan ada, seorang ibu yang baru melahirkan harus mengerjakan semuanya seorang diri, bahkan harus segera bangkit untuk mengais rizki. Belum lagi, ada yang kurang beruntung, suami dan keluarga besar tidak peka, atau adat kebiasaan yang kurang berpihak padanya.

Hal-hal tersebut sering menjadi pemicu terjadinya baby blues, dan itu sangat merata terjadi pada ibu pasca melahirkan.

Apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan baby blues?

  • Maksimalkan kesiapan calon orang tua untuk kelahiran bayi dan cara mengasuh bayi yang benar
  • Dukungan orang sekitar untuk ibu (suami, orang tua, mertua dll)
  • Support dari tenaga kesehatan untuk memberikan info seputar perawatan bayi baru lahir.

Pemahaman tentang kehamilan, proses melahirkan dan pasca melahirkan merupakan bekal pemahaman yang harus disiapkan, untuk meminimalisir gejala-gejala baby blues.

Cukupkah?

Justru yang lebih perlu disiapkan adalah kondisi ruhiah yang baik.

Pertama, seorang ibu berusaha menata hati untuk ridho dalam menerima amanahnya, yang tentu dengan berbagai konskuensinya. Hamil dengan ketidaknyamanan, gngguan selera makan, semakin hari semakin berat, dan melelahkan. Semua itu membutuhkan keikhlasan agar bisa menjalani hari hari selama masa kehamilan dengan bahagia.

Kedua, menyiapkan mental mujahid saat akan menghadapi saat-saat melahirkan. Dibutuhkan keberanian dan tekad kuat untuk menghadapi saat-saat penentuan hidup dan mati atas kuasa Allah. Sebagaimana mujahid yang akan pergi berperang, hanya dua kemungkinan, selamat dan menang atau gugur di jalan-Nya.

Ketiga, menyiapkan kesabaran yang panjang dan luas untuk melalui masa-masa adaptasi kehadiran seorang bayi. Sabar untuk kurang tidur, cape, dsb.

Perbanyak dzikir dan ibadah lainnya, agar lebih tenang dalam menghadapi semua yang akan dilalui.

Add Comment