Bagaimana Mengambil Pelajaran dari Perjalanan?

Banyak perjalanan yang sudah kita lakukan, tetapi apakah kita termasuk orang yang pandai mengambil pelajaran dari setiap perjalanan yang dilakukan?

Awalnya, saya sering mengaku sebagai orang rumahan, tidak suka bepergian jauh. Benarkah?

Ternyata, setelah evaluasi, itu bukan karakter saya yang sesungguhnya, tetapi sebuah upaya penyesuaian dengan kondisi kehidupan supaya tidak merasa tertekan.

Benar, saya sanggup bertahan berhari-hari tidak keluar rumah kecuali ada keperluan ke warung untuk belanja jika tidak ada orang lain yang bisa melakukannya, bisa menikmati aktivitas rumahan yang itu-itu saja tanpa merasa tersiksa dengan kejenuhan. Saya bisa tidak bertemu dengan orang selain anggota keluarga di rumah, tanpa mengeluh. Saya memilih berpenghasilan dan menekuni hobi tanpa meninggalkan rumah. Benar! Itu terjadi selama bertahun-tahun, dan kondisi saya baik-baik saja.

Kenapa?

Itu bagian dari upaya untuk mensyukuri yang ada, tetap bergaul dengan teman-teman yang lebih sering mereka yang datang ke rumah, mengikuti kegiatan sosial hanya di sekitar rumah, tidak iri jika suami sering berkesempatan bepergian ke luar daerah. Saya rela demi menjaga anak-anak di rumah, selain juga sering terhambat keterbatasan biaya.

Kini, setelah 25 tahun berlalu, ketika bungsu berusia 5 tahun lebih dan dianggap cukup mandiri jika ditinggal, saya kembali seperti dulu saat belum berkeluarga, senang bepergian jauh.

Walaupun masih dengan keterbatasan biaya, karena masih banyak kebutuhan yang lebih utama, tetapi saya memanfaatkan setiap kesempatan bepergian jauh dengan sebaik-baiknya.

Dulu, kalau ada undangan luar kota, saya lebih memilih untuk tidak hadir dan sekedar menitipkan sesuatu untuk yang mengundang, kini, justru jadi alasan saya untuk bepergian jauh sambil menikmati perjalanan dan mendapatkan pelajaran tertentu, apalagi kalau ada yang mensponsori.

Kini, salah satu alasan saya mencari suasana baru adalah mencari bahan tulisan, terutama gambar. Ada teman perjalanan yang beranggapan bahkan nyeletuk,”selfi” tapi setelah saya tunjukkan hasil foto-foto di awal perjalanan dan saya jelaskan tujuan saya mencari gambar, mereka mendukung dan membantu menunjukkan tempat-tempat yang bagus untuk diambil gambarnya, bahkan mau memperlambat kendaraan bahkan berhenti sejenak untuk mempersilakan saya memotret, walau hanya dengan kamera yang ada di tab.

Apalagi kalau perjalanan dakwah, berbagi dan mendapatkan ilmu, silaturahim plus menambah info tentang daerah yang dikunjungi, ada sponsornya, ada peluang mendatangkan rizki, komplit deh! He he he.

Hah! Manusia memang serakah!

Tidak masalah, keserakahan yang bermanfaat dan tidak merugikan orang lain, bahkan dalam upaya meningkatkan kualitas diri dan memberi manfaat bagi semesta.

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (terjemah QS. Al Mulk : 15)

Add Comment