Bagaimana Merawat Anggota Keluarga Yang Sakit Bersamaan?

Tulisanan ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

Saat subuh, saya bangun dan ke kamar mandi, perut serasa dikocok dan berakhir dengan muntah, bersamaan itu diare juga. Hhhh! Saya tak mampu mendeskripsikan apa yang saya rasakan saat itu, yang jelas setelahnya saya menggigil, badan bergeletar tak terkendali, kulit perut terasa kram! Saya segera ke kamar dan  berselimut, meringkuk. Setelah beberapa saat, badan menghangat, saya sholat dengan posisi tiduran. Tidak sanggup duduk.

Setelah sholat, suami menyodorkan kue dan teh madu hangat. Saya berusaha makan walau sedikit, sebagai syarat agar bisa minum parasetamol, demam tinggi. Lumayan, demam mereda. Anak-anak dan cucu datang, berkumpul, membawa berbagai makanan.

Saya bercerita perjalanan dan menanyakan selama saya tinggal.

Tidak tertuga, saat saya bergerak mau duduk, seperti ada dorongan dari perut tak terbendung, langsung muntah, belum sempat disediakan tempat muntah, untung ada plastic bekas oleh-oleh dan lap di dekat tempat tidur. Dorongan dari perut tidak hanya ke atas, juga ke bawah. Dengan tergopoh saya berusaha ke toilet.  Seharian terulang hal seperti itu sampai saya takut makan atau minum, karena walau hanya minum seteguk, langsung muntah dan diare, bahkan yang keluar jauh lebih banyak dari yang masuk.

Menjelang sore saya merasa sangat lelah!

“Bi, Umi nggak kuat lagi, tolong usahakan infus!”

Dengan kondisi yang dikuat-kuatkan, karena harus merawat dua orang sakit, saya dan Harish, ditambah dirinya yang juga diare, suami mengikuti apa yang saya inginkan. Tidak ada pilihan lain, memang kondisi saya sudah sangat payah.

Setelah mendapatkan resep via telpon dari seorang perawat senior, suami membeli bahan dan perlengkapan yang diperlukan di apotik langganan, yang tentunya percaya, karena kami terapis yang sering membeli kebutuhan di sana. Kemudian suami menghubungi beberapa tetangga yang bekerja di medis, untuk memasangkan infuse.

Orang ke empat baru bisa, yang sebelumnya ada yang sedang dinas malam, ada yang tidak di rumah.

“Ibu, suhunya kelewat tinggi, syukurlah belum terlambat,” komentar bidan yang memasangkan perlengkapan infuse.

Botol pertama, aliran infuse dipercepat. Saat mengganti botol kedua tidak ada masalah.

Masalah terjaadi saat mengganti botol kedua dengan botol ketiga, sekita jam satu dini hari. Mungkin dalam keadaan belum sepenuhnya sadar, terbangun karena kaget, ingat sedang menjaga infuse atau karena baru saja membantu Harish yang merengek setelah kembali dari toilet, saya melihat ada gelembung udara di slang infuse. Saya ingat, ini salah satu hal yang membahayakan pasien, itu sebabnya pemasangan infuse harus dalam pengawasan tenaga medis. Tapi ini pilihan kami, resiko dan tanggung jawab di tangan kami sepenuhnya. Walaupun malam itu, sah-sah saja jika kami menelpon bidan untuk melihat, tetapi masih ada jalan lain.

“Hentikan dulu infuse, tunggu sampai pagi. Nggak tau, slang masih bisa dipakai nggak, lepas aja. Kalau perlu besok beli lagi yang baru.” Saya putuskan begitu dan suami setuju. Lumayan, sduah 2 botol cairan infuse masuk ke tubuh. Mual sudah banyak berkurang, begitu juga dengan diare.

Ya Allah!

Andai sakit Kau wajibkan untuk setiap pengampunan dosa

Akan sanggupkah hamba menanggungnya?

Berdasarkan petunjuk bidan, ternyata slang masih bisa digunakan, hanya perlu jarum baru, karena semalam sudah dibuka. Terpaksa gentian, tangan sebelah kanan yang diinfus. Sambil memasang ulang, bidan memberikan pengarahan jika terjadi beberapa hal yang biasa terjadi, dan jangan segan-segan menelpon jika butuh bantuan.

***

Baca juga, Ibu, Pintu Surga yang Paling Tengah.

Sejak di perjalanan pulang dari Liwa, saya memikirkan amanah yang di Tulang Bawang Barat. Mungkinkah hari Selasa sore sudah sehat, sebagaimana rencana berangkat Selasa sore, karena Rabu pagi harus mengisi tabligh akbar dalam raya peringatan hari ibu.

Senin, 11 Desember siang, suami menghubungi nara hubung panitia, menceritakan kondisi saya dan minta maaf serta mengembalikan amanah, untuk dicarikan pengganti.

Ya Allah, saya bisa membayangkan kecewa dan paniknya panitia, mengingat ini acara mengumpulkan ibu-ibu pejabat dan dharma wanita serta PKK setempat.

Dalam waktu 24 jam setidaknya, sudah harus ada kepastian untuk mengisi acara itu. Nara hubung minta tolong juga untuk mencarikan pengganti.

Dalam kondisi tanpa tenaga, sibuk dengan desakan dari perut yang terus ingin mengeluarkan isinya, saya masih menyempatkan memberi petunjuk kepada suami agar menyampaikan beberapa nama yang sebaiknya dihubungi panitia.

“Umi nggak usahh mikirin acara itu, sekarang focus ke badan sendiri, gimana caranya cepet pulih!”

Itu perintah suami, yang harus ditaati! Tapi, mana bisa? Selagi kesadaran ada, tentu hal-hal penting dan mendesak yang akan terpikirkan.

Saya berusaha untuk pasrah dan tawakal atas semua yang sedang terjadi.

Setelah infuse terpasang, saya menghubungi nara hubung, bicara langsung dan memantau perkembangan yang sedang berjalan. Saya minta anak memotret infuse dan mengirimkan pada beliau. Sebagai seorang dokter, tentu paham dan bisa mengukur kondisi yang sedang saya alami.

Yang satu sedang di Jakarta, satu lagi di Jogja, tetapi beliau berusaha menghubungi beberapa pembicara.

Selasa siang, belum juga ada kepastian siapa yang bisa.

Saya berdoa, bahkan dengan bertawasul,”Ya Allah, Engkau tahu, beberapa kali hamba bersedia menggantikan teman-teman yang berhalangan, bahkan pemberitahuan tinggal 15 menit sebelum tampil, tolonglah yaa Rahman, kirimkan pengganti yang bisa menyelamatkan keadaan ini.

***

“Gimana, Dok? Saya kepikiran terus, walau hanya bisa pasrah.”

“Iya, mohon doanya, belum ada kabar dari Bu Ana. Ini masih berdoa terus semoga dapat pengganti yang terbaik.”

“Kalau terpaksa tidak ada dari Bandarlampung, dr. Wita aja.”

“Nggak bisa, Bu, saya panitia, lagian sudah terbiasa dengan saya. Sudah saya tawarkan ikhwan dari Tubaba, tapi Ibu kurang berkenan. Semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik.”

“Masih ada waktu menanti takdir, yakin, Allah memberikan yang terbaik. Jangan terlalu berharap ke satu hal, tapi boleh dicoba, suplemen apa yang bisa saya konsumsi, sambil terus mengusahakan pembicara pengganti.”

Dr. Wita memberikan beberapa alternatif suplemen yang bisa saya konsumsi. Kemudian diskusi dengan anak sulung saya, gimana jika terpaksa mengantarkan dengan mobil sewaan.

“Ok, saya coba, semoga membantu. Maksimalnya jam berapa sampai sana? Nanti biar anak saya sewa mobil, berangkat pagi, tapi tetap mengupayakan pengganti, ya, khawatir nggak sesuai harapan. Kata bidannya, sih, sampai seminggu setelahnya bisa saja masih lemas.”

***

Saya menghubungi orang terakhir yang sedang ditunggu jawabannya, sedang mengurus perizinan.

Alhamdulillah!

***

Rabu, 13 Desember, menjelang subuh saya minta suami melepaskan infuse, walaupun botol ke7 masih tersisa sepertiganya. Saya merasa sudah cukup segar. Mual sudah hampir hilang, buang air besar juga sudah mendekati frekuensi normal walaupun bentuknya tidak terlalu padat.

Suasana rumah sudah lebih normal, hanya menunggu saya dan Harish pemulihan. Badan masih terasa lemah, sedikit saja berjalan, lelahnya luar biasa.

Giliran suami yang mulai fokus mengobati dirinya, mengatasi diare yang belum normal kembali.

Masyaallah, suami luar biasa!

Betapa lelahnya, dalam kondisi dirinya sendiri sakit, butuh perawatan dan istirahat, harus merawat dua orang sakit dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Tak terbayangkan jika saya harus di rawat di rumah sakit! Tentu lebih banyak lagi orang yang direpotkan.

Alhamdulillah.

Add Comment