Bagimana Menjadi Menantu Idaman Mertua?

Bagaimana menjadi menantu idaman mertua?

Seseorang disebut mertua saat anaknya sudah menikah. Jadi, ada ketergantungan sebutan itu dengan keberadaan menantu, sebagai istri/ suami anak kita.

Bertahun-tahun orang tua merawat, membimbing dan mendidik anak-anak, sampai mereka dewasa dan harus rela melepaskan untuk hidup bersama pasangannya.

Manusiawi banget kalau orang tua ingin memastikan bahwa anaknya akan hidup bahagia dengan sang menantu.

Mungkin, yang belum menikah, apalagi yang sudah dekat-dekat dengan hari yang dinanti-nantikan, sempat deg-degan memikirkan bagaimana nanti hubungannya dengan mertua. Bukankah menikah bukan hanya menyatukan dua raga dan dua hati, tetapi dua keluarga yang terdiri dari banyak hati? Bisakah mendapatkan kasih sayang dan kebaikan seperti dari orang tua sendiri?

“Kalau saya menginginkan menantu yang sholeh/ah, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, kalau itu sadah ada, tentu sifat yang lain akan mengikuti.”

Itu jawaban pada umumnya para calon mertua.

Wah! Simpel, ya? Pikir calon menantu.

Sssst, belum selesai.

“Bisa diceritakan, bagaimana menilai kesholihan calon menantu?”

Nah! Di bagian ini jawaban mulai beragam, tidak lepas dari persepsi kesholihan yang dipahami selama ini.

Seseorang menjawab:

Diantara ciri kesholihan seseorang adalah:
– senantiasa menjaga sholat 5 waktu dengan berjamaah
– terbiasa mengucapkan salam kepada orang yang dikenal dan yang tidak dikenal.
– kalau berbicara dengan lawan jenis, menundukkan pandangan dan bertutur kata dengan sopan.
– murah senyum
– senantiasa menutup auratnya ketika di luar rumah.

Apakah yang lain sepakat?

“Soal bertutur kata sopan, murah senyum, maaf ya, berdasarkan fakta yang saya lihat dilingkup keluarga ipar saya, dia kalau bicara sopan, ramah, tapi ternyata di belakang, aib suami dibongkar, mertua dihujat, saya sendiri pernah jadi korban diadu domba sama mertua oleh dia yang seperti itu.”

Nah!

“Di setiap lini kehidupan manusia itu bila mau naik peringkat ada ujiannya, misalnya anak SD billa akhir semester /akhir tahun pasti ada ujian, dan bila ujian itu bisa dikerjakan dengan baik dan hasilnya bagus maka dia akan naik kelas,bahkan mungkin dalam seminggu itu ada beberapa kali ulangan, itu semua untuk menguji seberapa kemampuan kita menyerap ilmu yang disampaikan guru pada murid, demikian juga di dalam rumah tangga tentu saja ada hal hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita,tapi tergantung dari kaca mata apa kita melihatnya, kalau kacamata iman, tidak ada yang kebetulan apapun yang terjadi didunia ini kecuali sudah tertulis dalam lauhul mahfuz, jadi tinggal kita yang menyikapi, kalau kita sikapi positif, insya Allah hasilnya positif dan hati kita lapang, tapi kalau kita sikapi negatif hasilnya pun negatif dan hati akan sesak pikiran gak tenang bahkan bisa timbul hal-hal yang tidak diinginkan. Anggaplah apa yang tidak sesuai dengan keinginan kita itu ujian dari Allah untuk meninggikan derajat kita di akherat maka hati akan tentram dan dan damai insya Allah.”

Yaaah, baru sampai bahasan ciri kesholihan, sudah banyak pendapat yang ukurannya berbeda, jadi bagaimana mau memenuhi kriteria yang belum jelas atau menuruti ukuran pribadi?

Hmmm, bagaimana kalau kita berpatokan pada ukuran universal? Ukuran dari pencipta manusia? Setidaknya, mayoritas sepakat dengan ukuran itu, misalnya ada yang tidak sepakat, mungkin hanya sedikit dan ada latar belakang yang menyebabkannya begitu.

Oke, sekarang kita coba buat kriteria mantu idaman dambaan mertua mana saja.

  1.  Beriman! Wew! Bagaimana mengukurnya? Kan iman urusan keyakinan, urusan hati? Benar, iman urusan hati, tapi ada indikasinya, kan? Minimal pengakuan, dalam administrasi negara tercantum di KTP. Jadi, yang muslim menikahlah dengan yang muslimah.
  2. Taat pada Allah sebagai bukti keimanannya. Minimal yang wajib, seperti sholat wajib tak pernah tinggal, puasa di bulan Ramadhan, menutup aurat sesuai aturan standar keimanan.
  3. Cerdas, minimal nyambung saat diajak komunikasi, lebih diutamakan cerdas mengelola hidup. Apa kriterianya? Pertama paham tujuan hidupnya, kedua paham prioritas urusan hidup. Mantap deh kalau punya menantu model seperti ini.
  4. Bagaimana dengan akhlak, pendidikan, kekayaan, status sosialnya?

Sepertinya untuk urusan no 4 akan teratasi jika kriteria 1,2 dan 3 terpenuhi.

Jadi?

Nggak banyak, kan kriteria jadi menantu idaman mertua?

Hanya tiga; beriman, taat dan cerdas.

Add Comment