Bedah Buku Mengetuk Pintu Langit

1 Oktober 2017

Minggu, tanpa agenda keluar, bersiap seharian di rumah dengan berbagai rencana.

“Mau ikut bedah buku Mengetuk Pintu Langit, di masjid Ad Du’a, jam 9?” tanya suami.

“Kok mendadak?” Biasanya ada kabar sebelumnya, herannya saya juga nggak dapat kabar itu, biasanya ada teman yang ngshare di fb.

“Baru baca chatt di grup WA.”

“Berapa menit perjalanan ke sana, sekarang sudah hampir jam 9?” Saya menimbang-nimbang.

“Masih bisa, terlambat nggak apa-apa, kan biasanya ada sambutan-sambutannya dulu.”

Ok, lumayan untuk nutrisi tambahan otak dan hati.

***

Dr.KH. Bukhori Abdul Shomad, Ma, sebagai pembicara pertama dalam acara ini, juga  sebagai pelaku mengatakan, ada perbedaan gerakan massa tahun 1998 dengan 2016 yang puncaknya adalah 212.

Pada 1998 merupakan gerakan politik yang digerakkan mahasiswa, sedang aksi 2016 yang merupakan aksi bersambung, murni merupakan gerakan moral dan akidah yang digerakkan ulama.

Menurut beliau, hal itu merupakan bentuk rekayasa Allah dalam politik karena sebagian besar umat Islam tidak peduli pada politik, sedangkan untuk menentukan siapa yang akan memimpin, dilakukan melalui jalur politik.

Pembicara kedua, Muhammad Jizaro, sebagai salah satu penulis yang tergabung dalam JITU( Jurnalis Islam Bersatu  ), yang menerbitkan buku ini, menekankan perlunya penguasaan media oleh umat Islam, dalam dakwah. Sesungguhnya, pertarungan media, yang terjadi seperti sekarang ini, lebih berbahayq dari pada perang fisik, karena yang diserang adalah sisi pemikiran.

Ada pepatah mengatakan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, mungkin seperti itulah dampak penguasaan media di tangan orang-orang yang bermaksud jahat terhadap golongan tertentu.

***

“Abi beli bukunya?” Saya chatt dari balik tabir.

“Belum.”

“Uang Umi hanya ada 45 ribu.”

“Ya, nanti Abi beli.”

Alhamdulillah!

Saya memang mudah tergoda untuk membeli buku, apalagi setelah tahu buku ini ditulis oleh para jurnalis, tentu beda dengan penulis seperti saya, dalam melihat obyek dan mengolah fakta menjadi sebuah karya yang bermanfaat.

***

Wartawan adalah sosok yang tak boleh abai dari segala peristiwa bersejarah, yang mungkin tidak akan terulang lagi. Karena itu, menulis peristiwa bersejarah sudah menjadi tuntutan wajib bagi seorang jurnalis, apalagi peristiwa tersebut dihadiri oleh jutaan orang, dengan satu tujuan, yaitu menuntut keadilan atas penistaan yang terjadi pada agamanya.

Itu adalah paragraf pertama di Pengantar buku ini.

Benar, buku ini berisi tentang jejak-jejak dalam rangkaian aksi bela Islam dalam bentuk catatan reportase.

***

Kita, bangsa Indonesia, tentu tahu beberapa peristiwa yang terjadi di tahun 2016 yang berkaitan dengan aksi bela Islam yang dipicu dugaan penistaan agama oleh Ahok, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Jakarta.

Berbagai opini dan cerita beredar viral di media sosial terkait peristiwa tersebut, dan sepertinya, ini salah satu yang menyebabkan peristiwa itu begitu istimewa.

Aksi bela Islam sejatinya adalah gerakan yang di luar prediksi banyak pihak. Jutaan orang tergerak hatinya, berbondong-bondong datang dari berbagai daerah, bahkan dari perantauan mereka di luar negeri, untuk bersatu dengan umat Islam lainnya, dalam melakukan pembelaan terhadap Islam.

Ini menyangkut hati, iman dan keyakinan.

Mungkin banyak orang yang menyelisihi hal itu dan mengatakan bahwa itu semua upaya politik pihak-pihak tertentu untuk mendapatkan kekuasaan dengan memanfaatkan emosi massa.

Hmm, tidak bisa dipaksakan, tapi tak ada salahnya menguji pendapatnya tersebut dengan membaca buku ini. Setidaknya ada sisi obyektivitas dalam diri kita untuk melihatnya dengan jujur, terlepas dari apa kepentingan pribadi.

***

Sesampainya di rumah, saya segera membaca bagian pengantar dan salah satu judul di bagian pertama.

Selalu! Setiap membaca kisah yang terkait dengan ghiroh pembelaan Islam, mata segera berkaca-kaca. Teringat saat aksi berlangsung, di rumah saya mengikuti perkembangan dengan membaca postingan teman-teman yang ada di lokasi, juga laporan dari orang-orang yang berangkat dari sini, termasuk suami.

Saya cukupkan dulu membacanya, dilanjutkan membuka-buka halaman-halaman berikutnya secara acak, terutama 25% halaman terakhir yang berisi foto-foto di lokasi aksi.

Pernah mendengar istilah, sebuah gambar dapat mewakili seribu kata?

Begitulah!

Add Comment