Bekam, Mata Kuliah Komplementer di AKPER Bunda Delima

Apa itu bekam?

Sepertinya bukan istilah asing lagi, terutama bagi orang-orang yang pernah sakit dan mencari metode pengobatan alternatif selain medis.

Baca juga di http://nenysuswati.blogspot.co.id/2014/05/bekam-hiii.html?m=1

Kini, bekam dimasukkan sebagai salah satu mata kuliah terapi komplementer di Akademi Keperawatan Bunda Delima, Bandarlampung.

Sebagai salah satu metode terapi yang banyak diminati masyarakat, kini bekam dilirik pihak pengobatan konvensional untuk diapresiasi sebagai salah satu mata kuliah dan diajarkan kepada calon perawat yang nantinya akan melayani kesehatan masyarakat.

Dari satu sisi, ini hal yang menggembirakan, dimana selama ini bekam hanya masuk ranah terapi alternatif yang ilmunya didapat lewat pelatihan dan berguru langsung pada praktisinya dan hanya diminati oleh orang-orang yang menghindari pengobatan konvensional, terutama konsumsi obat kimia yang semakin disadari efek sampingnya yang relatif berbahaya, selain difungsikan sebagai upaya preventif dalam menjaga kesehatan. Dengan masukkan bekam sebagai matakuliah di pendidikan formal, insyaallah ke depannya bisa menjadi salah satu fakultas, atau setidaknya jurusan yang bisa dipilih calon mahasiswa. Tentu hal ini sangat menjanjikan untuk profesi ke depan.

Di sisi lain, terutama di masa adaptasi perubahan kebijakan yang terkait perizinan dan legalitas, tentu berpengaruh pada praktisi yang sudah senior dan tidak memungkinkan untuk mendapatkan  ijasah formal untuk mendapatkan izin praktek, padahal secara ilmu dan pengalaman, jelas-jelas mereka lebih memenuhi syarat. Di sini saya merasa sedih, dimana pengakuan kepakaran hanya dilihat dari pendidikan formal.

Dua hari saya diminta suami untuk membantunya mengawasi praktikum mahasiswi yang mengambil mata kuliah ini.

Kok bisa?

Suami, sebagai ketua Perkumpulan Bekam Indonesia propinsi Lampung, yang sebelumnya bernama Asosiasi Bekam Indonesia (ABI) diminta untuk menjadi dosen lepas untuk mata kuliah ini. Saya hanya diminta bertugas 2 hari, itupun tanpa harus melakukan segala persiapan mengajar, hanya membimbing dan mengawasi.

Kok saya yang ditunjuk?

Pertama karena saya istrinya, kedua karena memiliki kualifikasi sebagai seorang sarjana dan praktisi bekam.

Weh! Jadi asisten dosen?

Lah, ini sih membongkar kenangan masa lalu, cieeeee!

Di tahun 1988 sd 1990 saya sering dapat tugas menjadi asiaten dosen mata kuliah biologi dasar, kimia dasar atau lainnya. Waktu itu, tugasnya menyiapkan ruang laboratorium dan segala alat serta bahan kimia yang dibutuhkan untuk praktikum, menyiapkan soal pretest, mengoreksi laporan juga ikut jadi pengawaa saat ujian.

Kini, masuk lab yang sedikit berbeda perlengkapannya, yaaah, namanya juga lab keperawatan, ya awalnya agak kaget juga saat melihat ada boneka segede manusia dewasa berbaring di beberapa tempat periksa, he he.

Lumayan lelah, mengawasi para mahasiswi dari jam 8 pagi sampai jam 10 lanjut kelas kedua sampai jam 12 siang.

Di sini saya merasa beruntung, termasuk orang yang mata keranjang dalam belajar. Walaupun hanya memiliki sedikit ilmu, tetapi dipraktekkan dan memberikan manfaat pada orang lain. Dalam kondisi tertentu, dimana tidak mudah mencari SDM yang dibutuhkan, kita bisa mengisi peluang itu, walaupun tidak spesialis. Tak ada rotan, akarpun jadi.

Tak ada ilmu yang sia-sia selama digunakan untuk kebaikan, di waktu yang tepat.

Add Comment