Belajar Mengenal Allah

Belajar mengenal Allah

Kajian Hijrah Online
24 Desember 2020

MENGAPA KITA HARUS BELAJAR MENGENAL ALLAH?

Karena mengenal Allah adalah sebuah proses. Dengan sesama manusia saja kita butuh interaksi berulang-ulang untuk benar-benar mengenali karakternya, walaupun tak ada jaminan memahami seutuhnya. Bagaimana dengan Allah yang kita tak bisa berjumpa secara fisik?

APA PERLUNYA KITA MENGENAL ALLAH?

Manusia adalah ciptaan-Nya. Untuk apa diciptakan, hanya Allah yang tahu, maksud dan tujuannya. Tentu kita akan tahu berdasarkan informasi yang datangnya dari Allah. Hal itu Allah sampaikan dengan firman-Nya di dalam Al Qur’an.

 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Ad-Dzariyat:51)

 

Manusia butuh mengenal Allah dengan baik agar bisa mengabdi/beribadah sesuai dengan yang diinginkan-Nya, agar kita mendapat ridho-Nya.

 

BAGAIMANA CARANYA MENGENAL ALLAH?

Ada dua jalan untuk mengenal-Nya.

Pertama, melalui ayat-ayat qouliyah, yang terang dan jelas. Allah memberikan informasi  tentang diri-Nya melalui firman-Nya. Tentu kita semua hafal surat An-Nas, bukan? Dan paham artinya? Allah mengenalkan dirinya di ayat 1-3.

  1. Katakanlah, aku berlindung kepada Robb (pencipta, pemilik, pemelihara, penguasa) manusia.
  2. Malik (raja/penguasa) manusia
  3. Ilah (yang paling dicintai, ditakuti dan sumber pengharapan) manusia

Di ayat-ayat lain juga banyak yang menginformasikan tentang Allah dan sifat-sifatnya: Allah, tiada ilah selain-Nya, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, dll.

Untuk mengenal Allah dengan jalan ini, tentu kita harus sesering dan sebanyak mungkin mempelajari ayat-ayat qouliyah, baik dengan mempelajari Al-Qur’an maupun tuntunan Rasulullah Saw. melalui hadits dan riwayat sahabat beliau, serta penjelasan para ulama.

Kedua, melalui ayat-ayat kauniyah, ciptaan Allah. Baik dari alam makro maupun mikro.

Alam makro maksudnya, alam semesta dan segala isinya sedang alam mikro merupakan alam atomic dan metafisik.

Ayat-ayat kauniyah bisa kita pelajari dari:

  1. Alam semesta raya yang menakjubkan, ruang angkasa dan segala isi serta segala peristiwa di dalamnya.
  2. Jenis makhluk hidup yang diciptakan dengan segala keunikannya.
  3. Karakter manusia yang beragam dan unik.
  4. Diri kita dengan semua system yang membuat hidup secara normal.
  5. Sejarah dengan segala peristiwa dan ibroh yang bisa kita petik.
  6. Peristiwa yang kita alami.
  7. Dll

Dari dua jalan ini Islam mengajak manusia menggunakan akal dan naqlnya untuk lebih mengenal Allah.

Akal berarti menggunakan rasionalitas dan obyektifitas memandang  suatu obyek ciptaan Allah sehingga secara keilmuanpun dapat dipertanggungjawabkan.

Manakala pendekatan naql menggunakan ayat Allah di Al Qur’an sebagai isyarat yang dapat dipikirkan tentang keberadaan Allah Swt.

Kedua metode ini akan menumbuhkan keyakinan dan pembenaran dalam hati kecilnya serta membuahkan keimanan yang mantap terhadap Allah Swt.

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” ( QS. Yunus: 100-101)

Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu. (QS. At-Thalaq:10)

Secara fitrah, manusia membutuhkan sosok yang hebat, kuat, bisa melindunginya dan tempat memberikan pengabdian, yang biasa disebut Tuhan. Banyak cara yang dilakukan, dan juga temuan yang beragam.

Apa saja metode yang digunakan sehingga berujung seperti itu?

Di luar Islam, ada metode yang digunakan sebagai jalan menuju Tuhan, yaitu dengan dugaan dan hawa nafsu. Hasil pemikiran mereka sangat berbeda dengan tuntunan Islam sehingga muncul sebutan tuhan angin, tuhan api, dll.

Sebagai contoh kisah kaum Nabi Musa yang menjadikan anak lembu sebagai tuhan dan tidak beriman kepada Musa kecuali setelah melihat Allah secara terang. Mereka menggambarkan tuhan dengan metode yang salah. Mereka menggunakan hawa nafsu dan sangkaan yang buruk tentang ketuhanan. Allah dianggapnya sama dengan makhluk yang dapat dilihat dengan mata kepala.

Begitulah yang terjadi pada ajaran di luar Islam yang mengenali tuhannya dengan dugaan dan hawa nafsu, tanpa menggunakan akal yang dilandasi ayat-ayat Allah. Hal itu membuat hatinya semakin ragu dan berujung pada kekufuran.

Terjadilah penyembahan dan pengabdian kepada sesama makhluk atau dengan cara yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

 

TANYA JAWAB

1. Bismillah, afwan saya mau bertanya diluar materi karena saya merasa ini moment yang langka untuk berinteraksi langsung dengan Umi. Jadi saya pikir, harus menanyakan hal ini.
Bagaimana menurut Umi, apabila kita sudah maksimal dalam beribadah, merasa sudah sekuat tenaga dalam bermuamalah namun semua itu sia-sia, apabila kita tidak bisa mengambil manfaatnya
Bagaimana cara kita agar kita bisa beribadah dengan baik dan hasilnya juga tidak sia-sia?
Jawab: Sia-sia menurut siapa?

Tidak setiap informasi harus kita telan begitu saja. Sumbernya harus jelas. Bisa dipertanggungjawabkan dalilnya.

Hal yang perlu kita pahami, bahwa amal sholih kita akan diterima jika 1. Ikhlash 2. Sesuai contoh/ajaran Rasulullah.
Di sini perlunya kita belajar agama, apa yang diajarkan Rasulullah Saw.
Berkaitan dengan Ikhlash, mungkin belum semua amal kita bisa Ikhlash 100%, tapi bukan berarti kita tidak perlu melakukan amalan itu. Terus lakukan sambil menuntun hati untuk lebih Ikhlash.
Allah membalas setiap amal sholih dengan kebaikan berlipat sebagaimana juga memberi balasan setiap dosa yang kita lakukan, jika belum diampuni.

2. Dalam proses belajar mengenali Allah, bagaimana sih cara Umi pribadi atau hal apa yang mesti Umi lakukan dalam mengajarkan anak dalam mengenali Allah.

Jawab: Untuk pribadi, ya mengikuti metode yang tadi Umi jelaskan, qouliyah n kauniyah. Kalau untuk anak, sesuai dengan usia. Memberi bimbingan dsengan contoh dan penjelasan yang mereka pahami. Mengaitkan setiap peristiwa dengan pendidikan tauhid.

3. Dalam belajar mengenal Allah ini, menurut ummi sendiri, bagaimana cara kita atau hal apa saja yg perlu kita lakukan dalam menggapai Cinta-Nya (Allah)?

Jawab: Cintai Allah, maka Allah akan membalas dengan cinta yang lebih sempurna.
Pecinta akan rela berkorban untuk yang dicintainya. Juga akan berusaha semaksimal mungkin menyenangkannya.
Taati Allah, kenali lebih dalam, fokuskan seluruh proses hidup untuk menyenangkan-Nya, mendapatkan ridho-Nya.

4. Apa saja yang menjadi indikator atau tanda bahwa seseorang sudah mengenal Allah?

Jawab: Salah satunya, ridho dengan ketentuan Allah, taat dengan perintah-Nya, menjalani hidup sesuai kehendak-Nya.

5. Banyak orang yang ketika ditanya tentang Allah, ia mengenal Allah. Tapi terkadang, kenapa dalam pengamalan sehari-harinya menunjukkan bahwa dia tidak mengenal Allah? Seperti ada orang sholat tapi masih korupsi, riba, mencuri hak orang lain, dll?
Apa penyebabnya?
Bagaimana mengatasi hal itu?

Jawab: Yang menilai sudah mengenal Allah atau belum, bukan pengakuan yang bersangkutan.
Sejauh mana pengenalan seseorang kepada Allah, tercermin dalam kepribadian, karakter, sikap, akhlak, dan amal ibadahnya.
Kalau itu terjadi pada orang lain, kita bisa mendakwahinya dengan cara yang bijak.
Yang lebih utama adalah terkait diri kita sendiri, sudah sedalam apa mengenal Allah?
Kita bisa rasakan kedekatan dengan Allah, nyaman dan bahagiakah saat beribadah? Apakah sudah merasakan pengawasan Allah dari setiap laku kita? Bagaimana prasangka kita kepada Allah? Masihkah mengeluh terhadap takdir Allah?

6. a. Banyak yang mendapatkan hidayah dalam berpakaian, tapi tidak dengan lisan! Apa itu karena lingkungannya yang tidak mendukung? Atau karena tidak berusaha keras untuk mengubah cara berbicara dengan orang lain?

Jawab: Bagaimana cara bicara seseorang dipengaruhi karakter dan budaya yang dimilikinya.
Bisa jadi di daerah tertentu dianggap kurang beradab, tapi di daerah lain biasa saja. Kita perlu memahami hal tersebut sebelum memvonis kualitas lisan seseorang🙏

6.b. Bukankah sekasar apapun budaya seseorang tapi jika sudah mengenal agama dan mengenal akhlaqul karimah (utamanya mengenal Allah) maka ucapannyapun akan menjadi lebih santun dibandingkan dengan mereka yang masih jauh dari Allah?

Jawab: Proses itu butuh waktu. Sudah seberapa lama seseorang tersebut mendapat hidayah “pakaian”?
Seberapa lama dia hidup di lingkungan budaya yang mungkin sudah mengurat akar dalam karakternya?Ketika ada nada “menuntut” perubahan dalam diri seseorang, Umi selalu menjadikan itu sebagai cermin. Sudahkah menuntut diri seperti itu? Khawatir, kita sibuk menuntut perbaikan diri orang lain, tapi lupa dengan diri sendiri. Atau justru merasa diri lebih baik dari orang lain? Apa artinya itu? Sesuatu yang mengharamkan surga-Nya: kesombongan

Add Comment