Berapa Peserta Bela Islam 212 jika Tidak Dihambat?

tmpdoodle1480987308203Tanggal 30 Nopember 23.30 masuk pesan di grup WA calon peserta aksi 212 di bawah bendera DDII Lampung, bahwa semua bis yang sudah di booking membatalkan sepihak. Kabar yang membuat was-was, tetapi persiapan tetap saya lanjutkan, sambil terus berharap besok tetap bisa berangkat. Saya yakin, korlap dan panitia tidak akan tinggal diam, mereka pasti sedang terus berusaha, bagaimana caranya agar keberangkatan tetap sesuai rencana.

tmpdoodle1480987509788

Alhamdulillah, sebelum berangkat ke masjid untuk sholat subuh, ada kabar yang melegakan, jam 06.30 diminta sudah berkumpul di halaman Museum Lampung, kuota peserta tidak dibatasi.

Jam 06.15 saya sampai di lokasi, di antar istri. Belum begitu banyak yang hadir. Tak satupun terlihat bis…mungkin belum datang, batin saya.

Ternyata memang tidak ada bis yang datang, sampai jam keberangkatan, tetapi panitia mendatangkan puluhan angkot dan mobil pribadi yang akan mengangkut kami. Andai angkotpun tak ada, kami sudah bertekad akan jalan kaki!

img-20161201-wa0009

Kami di antar angkot ke Pelabuhan Panjang untuk melanjutkan perjalanan. Panjang adalah pelabuhan kapal barang…jadi, kami akan ikut kapal barang yang jadwal keberangkatannya jam 09.00 dan 15.00.

Tidak mulus! Di sana sudah siap sepasukan polisi yang mencegah keberangkatan kami. Juga tedengar kabar bahwa teman-teman yang menggunakan mobil pribadi, di Bakauheni, juga dihambat dengan berbagai pemeriksaan. Bukan hanya rombongan dari Lampung, juga dari seluruh daerah pulau Sumatra yang menggunakan jalan darat.

Seorang teman, dosen yang sering memberikan pelatihan di Polda membantu panitia melobi petugas. Beliau sibuk komunikasi dengan pihak Mabes, Alhamdulillah kami bisa diberangkatkan pukul 11.00 dan 17.00, tidak sesuai jadwal normal.

Setelah deal di pelabuhan Panjang, teman tersebut ikut rombongan 4 bis yang didatangkan dari Jakarta oleh IIBF untuk mengatasi masalah hambatan yang di Bakauheni.

img-20161202-wa0017

Saya peserta biasa, tidak terlalu memahami apa saja yang sudah dilakukan panitia untuk mengupayakan keberangkatan kami. Tapi saya bisa membayangkannya dengan menyaksikan kejadian yang saya alami.

Begitu gigihnya pihak kepolisian berusaha menghambat perjalanan kami, mungkin juga seluruh peserta dari seluruh penjuru Indonesia. Entahlah…apa penjelasan yang bisa diterima nalar, di satu sisi, sampai ke masyarakat bahwa Kapolri mengizinkan, tetapi kenyataan di lapangan sangat jauh berbeda.

Bisa dibayangkan, penantian yang kami alami? Dari rumah jam 06.00, berangkat dari Panjang, yang jaraknya sekitar 10sd 15 km dari rumah, jam 17.00!

tmpdoodle1480987754290

Sampai di Tanjung Priok hari Jum,at, 2 Desember 2016 jam 04.00, tetapi merapat ke dermaga dan pintu kapal terbuka pukul 06.00.

Keluar dari kapal, kami di data satu-persatu, benar-benar satu persatu, dicatat! Bisa dibayangkan waktu yang terulur?

Di sediakan 4 minibus untuk mengangkut, kami berdesak-desakan karena memang melebihi kapasitas.

tmpdoodle1480988006692

Berangkat?

Belum!

Kami harus menunggu semua mobil keluar dari kapal!

Geregetan?

Sangat!

Dalam kondisi lelah, kelaparan, kami merasa dipermainkan. Peserta mendesak korlap untuk mengambil tindakan!

Korlap mencoba lagi melobi petugas, dengan ketegasan : kalau tidak segera diberangkatkan, kami akan berjalan kaki!

Berhasil!

Tanpa harus menunggu semua mobil keluar dari kapal, kami berangkat!

tmpdoodle1480988148145

Baru sebentar berjalan, ketemu macet! Sopir mencari jalan lain, beberapa saat berjalan, macet lagi! Akhirnya kami semua sepakat melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. GPS menunjukkan, jarak ke Monas masih 7 km!

Bismillah!

Saya berusaha mengurangi beban ransel, menitipkan jas hujan ke teman yang bawaannya tidak terlalu banyak.

Alhamdulillah, di sepanjang jalan banyak pedagang makanan. Kami beli sedapatnya, ada gorengan, roti atau apapun, lalu kami bagi-bagi ke sesama teman. Beberapa saat kemudian, banyak yang mengulurkan berbagai makanan dan minuman dari masyarakat yang sengaja menantikan peserta aksi.

Betapa trenyuh hati ini menyaksikan pemandangan sepanjang jalan. Masyarakat berebut menawarkan dan membagikan makanan dan minuman. Nampak wajah mereka kecewa saat seseorang dari kami menolak, karena sudah mengambil dari yang memberikan lebih dulu. Dengan semangat mereka mencari lagi orang-orang yang mau menerima pemberiannya.

Sepanjang jalan terdengar gema tsabih, tahmid, takbir, tahlil dan sholawat tiada putus.

Badan terasa melayang! Entah karena sudah melampaui daya tahan, atau terbebas dari kelelahan, atau tak terpikirkan.

Air mata mendesak ingin keluar, dada terasa begah, hati melambung, kebahagiaan yang tak terlukiskan jika tanpa mengalaminya langsung, bersyukur menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang memilih aktivitas ini dengan meninggalkan lainnya.

Semakin mendekati Monas, semakin sulit berjalan karena padatnya manusia. Akhirnya kami membuat shaf di sekitar tugu tani, karena benar-benar sudah tak ada celah lagi untuk lebih mendekat ke monas.

tmpdoodle1480988230766

Alhamdulillah, dengan segala hambatan dan rintangan yang kami hadapi, Allah izinkan kami sampai di lokasi sebelum acara puncak. Kami khusyu mendengarkan tausiyah dari panggung. Kami rasakan kebesaran Allah dari fenomena alam yang begitu bersahabat.

Cuaca mendung yang kami rasakan teduh, gerimis dan hujan yang datang sesuai dengan kebutuhan. Tak ada sedikitpun upaya menghindarinya, saya bahkan tak lagi memikirkan jas hujan. Baju, sajadah semua kuyup oleh air hujan, tidak mengurangi kekhusyu’an dan kebahagiaan hati ini.

Betapa…tak kan ada satu penghalangpun yang mampu mencegah kehendak Allah.

Kita tidak tahu, andai tanpa dihalangi, apakah peserta akan lebih banyak, sama saja atau lebih sedikit?

tmpdoodle1480988364678

#cerita suami

 

2 Comments

  1. fitri restiana Desember 6, 2016
    • neny suswati Desember 6, 2016

Add Comment