Berburu Produsen Kopi Luwak

Salah satu agenda kami dalam perjalanan ke Lampung Barat adalah mengunjungi produsen kopi luwak yang terkenal itu.

Kami meninggalkan acara Hippun Adat sesaat acara ditutup dan dilanjutkan mengan bebakhong (makan bersama) seluruh yang hadir.

Karena kepala sudah nyut-nyutan, sebelum acara ditutup saya sudah ke mobil, sambil menunggu Izzah Annisa. Sepertinya badan sudah menunjukkan tanda-tanda akan demam lagi. Ya Allah, tolong beri kekuatan, batin saya.

Sayang sekali kalau baru setengah agenda, harus tinggal di kamar hotel, menunggu yang lainnya melanjutkan agenda.

Setiba di hotel, sebelum masuk kamar, kami makan siang dulu di resto. sedikit memaksakan diri, walau sedikit saya harus makan.

Di kamar, saya segera ganti baju kemudian sholat. menyempatkan diri minum madu dan herbal, sebelum ke tempat tidur.

Saya berusaha menenangkan fikiran, tawakal dan berusaha untuk istirahat, bisa tidur atau tidak. Badan terasa menggigil, kata Izzah, badan saya panas, demam.

Alhamdulillah, sekitar jam empat sore kami keluar hotel, melanjutkan agenda. Menggigil sudah banyak berkurang, tapi untuk berjaga-jaga, saya minta Izzah membawa analgesik antipiretik yang memang dia siapkan dari rumah.

Dengan bantuan GPS, kami sampai di Raja Luwak, di Way Mengaku, Liwa. Sayang, ownernya sedang tidak ada, sehingga kami tidak bisa mendapatkan informasi. Alhamdulillah, kami direkomendasikan ke Ratu Luwak, yang ada di sebelahnya. Setelah berterima kasih,  kami langsung ke sana.

Di Ratu Luwakpun ownernya sedang tidak ada, tapi ada Mbak Lisna mengizinkan kami meninjau kandang luwak yang hanya terpisah pintu dari beranda rumah.

Aih! Bertemu juga akhirnya, dengan bintang kopi termahal ini.

Dulu, luwak atau musang sering diburu dan dibasmi karena dianggap merugikan, merusak tanaman kopi dan lainnya. tapi kini dia dicari-cari untuk dirawat, dicukupi makan dan kebutuhannya agar menghasilkan kopi yang mahal harganya.

Untuk mengetahui bagaimana proses dari biji kopi sampai jadi kopi luwak, tunggu di postingan khusus tentang kopi luwak, ya?

Beruntung Mbak Lisna, saya beri hadiah buku Menuju Keluarga Hafidzul Qur’an yang saya tulis sebagai kenang-kenangan pertemuan dan silaturahim hari ini, semoga bermanfaat dan menginspirasi, ya.

Terima kasih juga cicipan kopi luwaknya.

Rasanya?…Hmm, mengingatkan saya pada harumnya saat ibu ┬ámenggoreng kopi dan menumbuknya sendiri, waktu saya kecil. Nyruput sedikit saat ibu membuat kopi.

Saya bukan penikmat kopi yang baik, tapi jelas bisa membedakan kopi yang baru diproduksi dengan yang sudah lama menjadi bubuk.

Kami melanjutkan perjalanan, rencana makan sore, kemudian ke hotel dan malamnya ke kawasan Sekuting Terpadu untuk menyaksikan acara Ngupi Bebakhong di sana.

Selintas saat berangkat tadi kami melihat taman kota…sepertinya masih sempat mampir, sekedar dokumentasi.

Mobil parkir di pinggir jalan tak jauh dari taman, saya dan Izzah menyeberang jalan, mengambil posisi untuk mengabadikan gambar salah satu tempat persinggahan di perjalanan kali ini.

O owh! Jangan-jangan ini sengaja? Kok langkah kami mengarah ke sisi, dimana beberapa pedagang durian membuka lapak di trotoar sekitar taman.

“Mi, beli duren, yok?” Izzah berbisik.

“Dompet Umi di mobil,” saya jawab dengan sedikit menyesal.

“Di kantong jaket saya ada.”

“Sip!”

Tanya harga duren, harganya bervariasi.

“Yang ini 55 ribu,” kata siabang, menunjukkan duren yang paling besar.

“Yaaa, duitnya nggak cukup, Bang,” jawab Izzah memelas.

“Ini ada yang 10 ribu,” kata siabang, menunjukkan duren paling kecil yang ada di hadapannya.

“Bukannya itu bayi duren?” saya bercanda.

“Dicoba dulu, kalau nggak enak nggak usah bayar,” jawab siabang, mesem, #eh, senyum.

“Boleh…boleh…boleh,” kompak, saya dan Izzah menjawab. Ups! sama aja emak-emak, kalau ada yang murah.

Sayangnya…duren itu manis dan legit, jadi kami harus membayar.

Alhamdulillah, kami tidak kecewa dengan bayi duren yang isinya kuning dan legit.

“Kurang, Bang.”

“Nambah, dong.”

Sukses! Dua buah duren berpindah ke lambung kami.

Kenyang?

Tidak boleh terlalu kenyang, karena setelah ini agendanya makan.

Kembali kami menyambangi warung tenda di dekat tugu Ara. Karena masih sore, meja ada yang kosong.

Segera kami memesan nasi goreng, kecuali saya. Cukup minta bandrek. Rencana mau nyicip nasi goreng Izzah, nggak bakalan habis kalau saya pesan seporsi.

Terbukti! Satu porsi berdua, pun masih bersisa.

Maghrib kami sampai di hotel untuk sholat dan bersiap meninjau acara ngupi bebakhong.

Add Comment