Beri Kesempatan Anak untuk Berlatih Survive

Beri kesempatan anak untuk berlatih survive.

Baru saja saya menjaga cucu (Alif),  saat mamanya ada yang harus dikerjakan dan Hafa ada keperluan ke kamar mandi. Seperti saat menjaga anak-anak sendiri, saya lebih banyak membiarkan mereka bergerak bebas, selama aman.

Saya perhatikan saja apa yang dilakukannya, sekali-sekali mengikutinya saat menjauh dari pandangan atau ketika tangan mungilnya menggenggam jari telunjuk saya, sebagai tanda minta dituntun dan ditemani kemana dia pergi.

Usianya 14 bulan, sudah tampak sifatnya yang sangat hati-hati, itu mungkin sebabnya terhitung agak terlambat bisa jalan, baru beberapa hari ini.

Saya berdiri mendampingi, saat dia melepaskan jari yang baru saja menuntunnya, atau lebih tepat dituntunnya. Dia menuju ke bawah meja makan, dan…berusaha mengeluarkan dingklik/bangku kayu, hmm…terganjal kaki meja, saya bantu menggeserkannya sedikit. Saya belum tahu, apa tujuannya dengan memindahkan dingklik itu. Saya biarkan…perhatikan…waspada menjaganya, mengingat berdirinya yang belum kokoh.

Masyaallah…Dia geserkan dingklik itu, mepet ke kaki meja, kemudian, dengan berpegangan meja, dia injakkan kakinya ke dingklik itu, berdiri, lalu…membuka tudung saji.

Sigap saya bantu membukanya, karena tudung sajinya berat. Sedikit berjinjit, Alif melongok isi meja dan tangannya meraih piring yang terdekat. Ups! Sigap saya memindahkannya,…lha, sayur pedas, bagaimana kalau ditarik dan tumpah? Posisi wajah ada di pinggir meja.

Segera saya ambil sepotong empek-empek, kemudian saya suapkan. Bismillah!

Bermodalkan satu suapan empek-empek yang dikunyahnya, dia menjauh dari meja makan, melakukan aktivitas lainnya. Kalau yang dikunyah sudah habis, dia memandang wajah saya, membuka mulut…eh…eh…eh, kode minta suap lagi.

Wah! Harus didokumentasikan ini. Ha ha ha, begitulah kalau punya eyang bloger.

Setelah yakin aman, saya berlari ke kamar mengambil kamera,…hanya hitungan detik. Kemudian saya kembalikan dingklik ke posisi semula, di bawah meja.

Yes! Pancingan saya berhasil, Alif mengulang adegan tadi, walaupun ada sedikit berbeda, saat dingklik yang digeserkannya terbalik. Dia mencoba membaliknya beberapa kali, saat merasa butuh bantuan, dia menengok ke arah saya,…eh…eh…eh. Oke, cucu butuh bantuan eyang. Saya miringkan dingklik, lalu Alif melanjutkan, membalikkan ke posisi agar dia bisa menginjaknya untuk melongok isi tudung saji.

Persis papanya waktu seumuran, tidak mau disuap sambil diam, kecuali makan nasi sendiri, karena sambil makan sekaligus mainan. Entah berapa persen yang masuk lambung, yang lain jadi bahan percobaannya dengan segala tingkah lakunya.

Melihat cucu, seperti melihat anak sendiri.

Apa yang saya ceritakan di atas, mungkin sesuatu yang sangat biasa dan umum, tetapi saya ingin melihat sisi pendidikan dalam hal yang biasa itu.

Dari kecil, anak-anak sudah menunjukkan karakter bawaannya, seperti kehati-hatian, keberanian, kecerdasan, dan semua itu akan berkembang dengan baik dan subur jika lingkungan/ orang tua memberinya kesempatan untuk berkembang.

Terkadang, kekhawatiran orang tua yang berlebihan, tanpa sadar mengkerdilkan potensi baik yang ada pada anak.

Contoh, karena tidak suka melihat rumah berantakan dan kotor oleh ceceran makanan, maka anak selalu makan dengan disuap, bahkan sambil digendong. Jadwal makannya sangat teratur dan rapi, sehingga anak tidak sempat merasakan lapar dan tidak paham bahwa kalau lapar harusnya makan, bukan rewel.

Anak yang terbiasa dilayani, tidak pernah terlibat proses bagaimana sampai makanan itu sampai ke mulutnya, dikhawatirkan kurang menghargai proses dan tidak sabar menunggu, karena selama ini tahunya semua tersedia tanpa diminta.

Kekhawatiran yang berlebihan juga sering membatasi gerak anak, khawatir jatuh, kotor, dsb. Anak tidak mendapat kesempatan mengembangkan akalnya untuk memperoleh yang diinginkan, terbiasa teriak meminta yang dimaui.

Memberi kesempatan anak untuk survive seharusnya dilakukan sedini mungkin, sesuai perkembangan dan kemampuannya. Kita tidak tahu, sampai kapan diberi kesempatan menjaganya. Jangan sampai ungkapan kasih sayang yang kurang tepat menyebabkan anak terlambat mandiri, saat tiba-tiba dia harus survive di saat yang tak direncanakan sebelumnya.

Kasihan cape, nanti dia menangis, nanti dia sedih, dia belum mampu, dia masih kecil, dia lemah, adalah ungkapan-ungkapan yang sering dijadikan alasan untuk tidak memberi kesempatan anak berlatih survive.

Anak tahu potensinya, contoh Alif, dengan modal bisa jalan tertatih dan ngomong beberapa suku kata, dia sudah bisa berkomunikasi dan menggapai apa yang diinginkannya.

Sebagai orang tua, jangan terlalu mudah menawarkan bantuan sebelum anak mencoba kemampuannya sendiri. Itu akan melatihnya percaya diri dan hanya minta bantuan orang lain saat tahu dia tak mampu.

Padahal, kalau kita melihat orang-orang besar dan sukses, banyak yang berasal dari latar belakang penderitaan. Kesulitan hidup membuat mereka mampu bertahan dan mencapai puncak.

Pertanyaan yang sering saya lontarkan ke teman-teman, kita mau melahirkan anak dengan mental ayam sayur atau singa?

 

Add Comment