Bersaksi Adil di Dunia Maya

screenshot_2016-10-25-05-24-22-1

Adil?

Siapakah yang harus bersikap adil? Menjadi saksi dengan adil?

Hakim?

Hanya hakim?

Kalau bukan hakim tidak apa-apa? Tidak dosa?

Wah! Nggak adil banget, kalau seperti itu peraturan-Nya?

Ooo, ternyata ayat-Nya jelas, yang diperintahkan berbuat adil itu orang-orang beriman

 

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Terjemah QS. Al Maidah : 8)

 

Mungkin kita merasa tidak pernah bersaksi tidak adil, karena tidak pernah menjadi saksi saat sidang pengadilan.

Padahal, begitu bebasnya kita membuat kesaksian tanpa tahu kebenarannya, terutama di dunia maya saat ini.

Apakah kalau di dunia maya ketentuan untuk bersaksi adil tidak berlaku? Sedangkan begitu banyaknya kejadian yang merupakan akibat dari pemberitaan yang tersebar di dunia maya? Entah itu pemberitaan fitnah, prasangka, mengumbar aib atau bersaksi palsu.

Salah satu contoh, saat kita membaca berita tentang seorang pimpinan ORGANISASI tertuduh melakukan tindak kriminal, atau melakukan tindakan tidak bermoral, adilkah jika kita menganggap bahwa semua anggota organisasi tersebut berprilaku yang sama? Memiliki karakter yang sama? Sedang kita tidak pernah membaca AD/ART organisasi tersebut? Tidak pernah ikut dalam acara internalnya? Kemudian kita berkomentar seenaknya tentang organisasi itu?

Pernah membayangkan perasaan anggota lain organisasi itu? Sedihnya? Sakitnya? Mendapatkan cibiran dari masyarakat sedang dia tidak melakukan kesalahan? Hanya karena dia ada di organisasi yang sama?

Oke, mungkin itu salah satu konskuensi masuk ke dalam sebuah komunitas, sebagai makhluk sosial. Tapi bagaimana dengan kita? Apa sebutan yang layak untuk prilaku kita? Bagaimana jika ternyata berita itu fitnah?

Salah satu efek dari terbukanya informasi  adalah ini! Tanpa disadari, kita menjadi bagian dari berita palsu, tuduhan palsu, ghibah, fitnah. Kita tidak sadar karena tidak berhadapan langsung dengan yang bersangkutan! Tidak melihat ekspresinya!

Apakah itu berarti kita bisa bebas hukum karena yang bersangkutan tidak melaporkan ke polisi? Tidak menuntut?

Wow!

Benarkah? Kita bisa bebas? Bebas dari balasan prilaku kita?

Kemanakah Allah? Tidak menyaksikan! Tidak mendengar? Hah!

Baguslah kalau balasan itu kita terima di dunia, sehingga sadar dan tidak mengulanginya.

Bagaimana jika ditahan oleh-Nya? Dibiarkan? Dikumpulkan di suatu masa yang kita tak bisa lari darinya?

Eh! Ini hanya untuk orang yang beriman, ya?

Yang tidak beriman tidak berlaku, ya?

Tidak ada balasannya, ya?

Hah!

Memang orang beriman dan tidak beriman, tuhannya beda? Yang menciptakan, beda? Yang memberi rizki, beda?

Bah!

Add Comment