Bincang Kandidat, Perlukah dalam Pilkada Lampung 2018?

 

Bincang kandidiat, perlukah diadakan dalam pilkada Lampung?

Sekali lagi mendapat kesempatan mengikuti acara berkualitas melalui Komunitas Tapis Bloger. Kalau tidak bergabung di dalamnya,mungkin tidak tahu kalau ada acara ini.

Tersebutlah  Institut Demokrasi Ekonomi Agriculture dan Politik Lampung (iDeal) besutan jurnalis senior, Adian Saputra, yang menginisiasi dan menyelenggarakan acara Bincang Kandidat pada hari Selasa, 6 Februari 2018 di Kafe Dawiels, jl. Kartini, Bandarlampung.            .

“Jangan mengharapkan yang panas-panas, ya, ini acara Bincang Kandidat, bukan Debat,” begitu pengantar Bang Adian saat memberikan sambutan.

Sepengamatan saya, peserta didominasi para jurnalis, team sukses masing-masing pasangan calon, dan para bloger.

“Penuh perjuangan saya memastikan, siapa-siapa pasangan calon yang bisa hadir. Sampai sholat tubuh, saya lakukan di masjid dekat rumah Ustd. Mufti Salim, ketua DPW PKS, Alhamdulillah, calon wagub dari pasangan calon yang didukung PKS, sudah hadir di tengah-tengah kita.” Bang Adian menambahkan.

“Sengaja saya pilih Kafe Dawiels karena tempatnya mudah dijangkau dan…terjangkau.” Hadirin tertawa, memahami bahasa tersirat sang inisiator.

Direktur Eksekutif iDeal, Adian Saputra mengatakan, pihaknya mengundang semua pasangan bakal calon (balon). Acara ini bertujuan memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan gagasan kepada para kandidat. Selain itu, menjadi medium para kandidat memberikan paparan ide dan gagasan dalam membangun Lampung ke depan.

Hadir dalam bincang ini tim pemenangan pasangan calon (paslon) M Ridho Ficardo-Bachtiar Basri, Imer Darius, Fajrun Najah Ahmad, dan Levi Tuzaidi. Sementara itu dari Koalisi Lampung KeCe hadir langsung Bakal Calon Wakil Gubernur Lampung Ahmad Jajuli.

Dari tim Herman HN-Sutono, hadir Rahmat Husein DC. Untuk pasangan dan tim pemenangan Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim tidak hadir.

“Kalau Lampung dikelola baik maka kita akan maju. Faktor yang paling penting yakni leaderaship,” kata Ahmad Jajuli.

Saya heran, kenapa yang menyempatkan hadir hanya satu balon? Apakah jadwalnya bertabrakan dengan jadwal yang lebih penting yang tidak bisa digantikan orang lain?

Saya pribadi menyayangkan hal itu, karena menurut saya ini kesempatan yang seharusnya dimanfaatkan,karena yang hadir adalah orang-orang yang kritis. Benar-benar ingin tahu konsep yang disiapkan oleh setiap pasangan balon untuk maju berlaga, memberikan yang terbaik untuk Lampung.

Pilkada adalah kesempatan rakyat untuk memilih pemimpin yang sekiranya bisa mengelola Lampung dengan lebih baik dalam semua bidang. Sekaligus evaluasi pemerintahan yang sudah berjalan untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada dan mempersiapkan perbaikan serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

Banyak hal yang perlu dibahas dan dibicarakan, contoh, seperti yang saya tanyakan pada yang mewakili dari setiap pasangan balon yang hadir, tentang permasalahan E-KTP yang berlarut-larut.

Dari pertanyaan itu, dijawab oleh perwakilan pasangan balon dari petahana sebagai evaluasi juga oleh pasangan balon lain sebagai gambaran solusi dari masalah mendasar ini.

Ini auto evaluasi, atau auto kritik untuk gubernur petahana?

Nah! Ini auto evaluasi dari petahana walikota Bandarlampung.

Bagaimana solusi yang ditawarkan paslon Mustafa – Aja?

Jujur! Saya sedih memikirkan E-KTP. Bagaimana tidak? Begitu banyak urusan birokrasi membutuhkan KTP, tetapi banyak yang sulit mendapatkannya, sehingga butuh waktu lama dan ribet bolak-balik untuk urusan satu ini. Begitupun, ada yang hanya mendapatkan surat keterangan pengganti fungsi KTP dalam mengurus sesuatu.

Jadi, perlukah bincang kandidat dilakukan dalam pilkada?

Saya pikir, sangat perlu. Tentu dengan pengelolaan yang baik, sehingga biaya, waktu dan tenaga penyelenggara maupun peserta yang hadir, tidak sia-sia dan akan memberikan kontribusi signifikan untuk pemerintah daerah dan seluruh warganya.

Add Comment