Bukit Bawang Bakung

3 Agustus 2017

Malam ini lebih parah dari malam sebelumnya.

Sampai jam dua dini hari, belum bisa tidur walaupun mata sudah dipejamkan dan tidak melakukan kegiatan.

Hmm…apakah pengaruh minum kopi luwak? Atau karena suasana yang tidak bisa hening karena suara ngobrol dan tertawa-tawa orang-orang di luar kamar?

Begitupun, sebelum adzan subuh kami sudah bangun dan berkemas, karena sesuai rencana, ba’da subuh akan chek out, kemudian ikut rombongan blogger traveling yang akan mengunjungi bukit Bawang Bakung.

Dari obrolan kemarin, saat bertemu di acara hippun adat, kami penasaran dengan selimut kabut dan menanti sunset, yang dikabarkan begitu mempesona.

Ini agenda tambahan, karena saat berangkat tidak ada rencana mau kesana. Rencana, setelah dari sana, kami melanjutkan agenda semula, yaitu ke pekon Penghujung.

Huff!

Saya tidak punya bayangan apapun, tidak juga memikirkan bagaimana sampai ke sana, karena kalau tidak salah dengar, mobil bisa sampai ke sana.

Perjalanan di pagi buta, sempat membuat kami balik arah, karena banner besar di jalan masuk sudah dipindahkan. Kami kehilangan arah…untunglah, ada petunjuk lain selain banner yang bisa digunakan.

Izzah menghubungi Bang Eka, sebagi blogger yang sangat memahami Lampung Barat, secara beliau memang domisili di sana. Ternyata kami jalan lebih dulu. Kami menyusuri jalan sesuai petunjuk Bang Eka, sampai di kelokan yang membuat kami ragu melanjutkan perjalanan, akhirnya kami menunggu rombongan.

Kemudian kami mengikuti rombongan yang terdiri dari sebuah mobil dan beberapa kendaraan motor.

Udara pagi yang sejuk, benar-benar menyegarkan pernafasan dan perasaan. Kesempatan yang langka bagi saya, menghirup udara di luar rumah, apalagi di alam yang masih bersih seperti ini.

Beberapa kendala yang tak begitu berarti dapat kami lewati sampai tepat di kaki bukit.

Wow!

Ketakjuban menyaksikan teman-teman yang lebih dulu ke atas dengan ojek,membuat saya lupa mengambil gambar dari kaki bukit. Dari bawah terlihat jalan berkelok-kelok memanjat perut bukit.

Heran!

Bisa-bisanya manusia mencari penghidupan di daerah seperti itu.

Ha ha ha, saya mentertawakan keheranan diri sendiri. Namanya juga jago kandang, ibarat katak dalam tempurung. Terbiasa hidup tenang di dalam rumah, keluar rumah sekedar ke warung, agak jauh sedikit duduk di jok motor atau mobil. Lebih jauh lagi naik bis atau kapal atau pesawat. Sulit membayangkan sebagai penduduk sekitar bukit, bagaimana sehar-hari naik turun bukit menjalani kehidupan.

Sebentar kemudian, 4 pengendara motor sudah kembali menjemput kami.

Ups! piye iki!

Nggak mungkin duduk nyengklak! #Eh, duduk anggun gaya perempuan.

Untunglah si abang ojek memakai jaket, sehingga saya bisa berpegangan jaket tanpa harus memeluknya.

Ha ha ha, jadi ingat suami di rumah. Izin, ya, Bi…kepepet ini, batin saya, batin saya.

Yaaah, gimana, dong? Masa saya harus ditinggal di kaki bukit sendiri.

Duuuh! Sempet was-was juga, nggak pake helm. Abang ojeknya nggak nawarin juga…he he.

Hmm, sekali ini merasakan sensasinya ke bukit yang tinggi, walaupun tak sesempurna para pendaki gunung.

Selama ini melihat bukit dan gunung dari kejauhan, tanpa tahu apa yang ada di punggungnya, hanya lewat cerita.

Ternyata, tak jauh beda kondisi di punggung bukit dan di bawah, pohon, rumput, jalan setapak, tanaman budidaya, rumah kebun, dsb. Hanya beda ketinggian.

Masyaallah!

Yang kami nantikan perlahan muncul. Kabut beriringan dan semburat matahari pagi.

Dzikir keagungan tak lepas dari bibir dan hati menyaksikan kebesaran-Nya.

Menatap ke atas, langit indah. Kesamping, bukit seolah sedang bercengkerama dengan semburat jingga sang mentari pagi.

Melihat ke bawah, sawah menghijau dengan pematang yang berliku-liku…sangat indah.

Saya terbengong-bengong, bingung mencari obyek foto yang diambil dengan sudut yang bagus. Berulang kali membidik kabut, tapi melihat hasilnya, tidak sesuai ekspektasi.

Bersyukur, serombongan dengan fotografer profesional dengan kamera berkualitas, akhirnya…”Bang @Razzone, tolong fotoin, dong.” Ha ha ha, dengan syarat, jadi model kain Floresnya.

Malu juga sebenarnya, berpose di keramaian, tapi…ah, yang lain juga sama…walaupun sering terdengar suara,”Aduh, mati gaya sayanyaaaah!” Ha ha ha.

“Yok, kita sarapan!” terdengar Bang Indra memanggil kami.

Segera sekresek nasi bungkus berpindah ke tangan-tangan yang hadir. Ada yang sendiri, dua bungkus bertiga, nah, yang perempuan, sebungkus bertiga pun sudah mencukupi.

Saya baru sadar, ternyata tadi berangkat belum sarapan, karena belum siap.

Sebelum turun, kami sempat memperjelas arah tujuan utama, Pekon Penghujung.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya tujuan kami ubah, mengikuti agenda rombongan blogger.

Ngojek lageeee!

Walaupun ini pengalaman kedua, tetap saja saya tidak berani beraksi, memotret jalan turun saat dibonceng. Daripada…daripada, saya ikhlaskan tidak mendapatkan gambar dokumentasi saat naik dan turun bukit. Cukuplah tadi, sebelum turun, saya sempat mengintip jalan ke arah berlawanan yang menurun.

Tidak…tidak…kami sama sekali tidak kecewa, malah bersyukur dengan agenda tambahan ini.

Syukur tiada tara atas kenikmatan perjalanan ini. Berkesempatan menikmati keindahan ciptaan-Nya. Semakin terasa diri ini bagai debu, di tengah hamparan makhluk-makhluk-Nya.

Allahuakbar!

Add Comment