Buku Anak Yang Menarik untuk Kids Zaman Now

Buku Anak yang Menarik untuk Kids zaman now

Masih mengulas acara di gelaran Gramedia Writers and Riders Forum, di Perpusnas 7-8 April 2018.

Masih di hari pertama, 7 April 2018, setelah mengikuti Meet with Editors dan ishoma, saya masuk ke ruang yang sama untuk sesi kedua dengan tema, Buku Anak yang Menarik untuk Kids Zaman Now.

Natalie Indri sebagai moderator memandu tiga penulis buku anak sebagai nara sumber, semuanya perempuan.

Pembicara pertama, Arleen, penulis buku anak yang sangat produktif, telah menghasilkan 250an buku anak, sebagian bilingual dan 10 novel.

Arleen membahas tentang perkembangan generasi dan hubungannya dengan perpindahan fokus terhadap buku yang menyertainya. Ah, mengingatkan saya sebagai generasi baby boomer, dan bacaan anak yang jadi favorit saat itu. Little House-nya Laura Inglles, Empat sekawannya Enyd blyton, Donald Bebek, dsb.

Arleen membahas tentang perkembangan buku anak dari masa ke masa dengan karakter yang sesuai dengan zamannya. Seperti dalam buku Little House on The Prairie, segala sesuatu diceritakan dengan detail.

Beda lagi dengan buku anak di zaman berikutnya, contoh The Cat, intinya pada action yang heboh, tidak perlu memikirkan tujuannya apa.

Bagaimana dengan Harry The Potter di zaman keemasannya? Dalam buku ini ditonjolkan feeling dan inovasi karakter, internal konflik dieksplor lebih dalam.

Berikutnya buku Poop Fountain, isinya tentang petualangan bersama teman-teman, yang penting asyik. Nilai-nilai mainstream seakan diabaikan. Mungkin ini gambaran anak-anak yang ditinggal kedua orang tuanya pergi bekerja, sehari-hari kesepian, sehingga berusaha mencari teman untuk menghabiskan waktunya dengan petualangan yang mengasyikkan.

Berikut karakter buku anak yang baik:

  • Multi karakter, maksudnya, sang tokoh memiliki beberapa karakter istimewa.
  • Ada tokoh yang heboh.
  • Nyata, punya kekurangan.
  • Nyambung dengan logika pembaca.
  • Ada hubungan sebab akibat, jika…maka…

Pembicara kedua, Dian Kristiani yang telah menulis 150 buku, sebagian di antaranya buku-buku ensiklopedia.

Dian memberikan tips untuk mencari ide, salah satunya mencuri dengar pembicaraan anak.

Dian juga mengingatkan, jangan menggurui, selipkan nilai-nilai dalam cerita yang mengalir. Jangan buat tokoh layaknya malaikat, tidak ada manusia sempurna, sesabar-sabarnya seorang ibu,pasti pernah marah.

Pembicara ketiga, Yovita Siswati, menceritakan bagaimana selama ini riset lokasi untuk sebuah cerita dengan setting di sebuah daerah dan menjadikannya sebagai karakter yang unik. Cerita jenis ini tentu saja sangat sulit ditiru.

Huft! Luar biasa!

Saya memang belum jadi penulis buku anak, baru coba-coba, tetapi latar belakang sebagai penulis parenting sepertinya sangat berpeluang untuk bisa ikut meramaikan genre buku anak.

Setelah kelas kedua, saya menuju masjid di lantai 6, ya, sengaja tidak sholat saat dhuhur, karena antri lift dan bejubelnya peserta. Saya manfaatkan rukhsoh sholat safar dengan menjama’nya.

Setelah sholat saya sempatkan ngobrol dengan Jarni, teman dari Bekasi. Adik tingkat saat kuliah tetapi tidak sempat bertemu di kampus, malah berteman via medsos. Sementara Izzah sibuk dengan teman-teman penulis buku anak yang memang sudah sering berhubungan dan bertemu di event-event sebelumnya.

Memandang Monas dari lantai 6 Perpusnas

Asyik sekali menikmati angin menjelang sore di teras depan, sambil memandang puncak monas yang gagah.

Yess! Bersiap untuk masuk kelas ketiga, walau se dikit terlambat.

 

Add Comment