Bullying dan Penanganannya

Sabtu, 11 November 2017.

Alhamdulillah, hari ini saya berkesempatan menghadiri acara Seminar Bullying dan Penanganannya yang diselenggarakan oleh Himpunan Psikolog Indonesia Lampung (HIMPSI Lampung), bertempat di aula fakultas Pertanian Universitas Lampung.

Sebagai MC, Mbak Aulia dengan sukses membawakan acara pembukaan. Di awali dengan doa, kemudian sambutan yang di sampaikan oleh ketua Himpsi Lampung, Ibu Renyep Proborini M. Ed. Psikolog.

Ibu Rini menyampaikan, Himpsi Lampung terbentuk bulan Desember 2016 , sebagai organisasi profesi beranggotakan sarjana psikologi.

Beberapa kegiatan yang telah dilakukan Himpsi antara lain:

1. Baksos lembaga Rehabilitas narkoba
2. Pelatihan dan  konseling, bekerjasama dengan polda Lampung
Harapannya, Himpsi Lampung diterima dan bekerjasama dengan berbagai unsur untuk membantu masyarakat  dalam berbagai persoalan.
Himbauan kepada teman-teman  psikologi, bisa bersama-sama dengan himpsi membantu kesehatan jiwa dan berbagai permasalahan.
Seminar hari ini dihadiri oleh 230 orang peserta.
Sambutan kedua sekaligus membuka acara dengan resmi, oleh Bapak Drs. Sulpakar, MM, kepala dinas pendidikan dan kebudayaan Lampung.
Dalam seliau sangat mengapresiasi seminar ini, mengingat kasus bullying begitu marak, baik di rumah, sekolah ataupun kampus.
Beliau menyarankan agar sosialisasi tentang bullying dilaksanakan pada saat masa pengenalan lingkungan sekolah, supaya bullyng bisa dicegah.
Himpsi diminta segera menghuhungi diknas untuk bekerjasama dalam upaya mencegah bullying di sekolah-sekolah.
***
Seminar dipandu oleh moderator  Ibu Mira M.Psi dan sebagai narasumber Ibu Dr. Dipl.Psych.Ratna Djuwita, Psikolog.
Ibu Ratna, seorang ibu dari 2 orang putri yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Indonesia.
Ibu Ratna mengawali dengan minta kepada peserta untuk menyampaikan, apa mitivasinya mengikuti acara ini, diwakili oleh seorang peserta pria dan seorang wanita.
Pak Yudi menyampaikan bahwa motivasi nya mengikuti acara ini karen ingin tahu, apa sebab terjadi bullying. Sedang ibu Betty, sebagai kepala sekolah TK mengatakan, sering siswa-siswanya mengadukan perlakuaqn temannya. Selain itu juga memperhatikan, ada beberapa guru bersikap yang membuat siswa tidak nyaman. Beliau ingin tahu, perbuatan-perbuatan apa saja yang temasuk bullying.
***
Bulliying adalah tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk menyakiti secara verbal/fisik/psikologis, oleh seseorang/sekelompok orang terhadap seseorang/sekelompok orang yang merasa tidak berdaya.
Ternyata perkelahian, pertengkaran, tawuran, tidak termasuk bullting, kenapa? Karena kedua belah pihak berdaya.
Tindakan seperti apa yang termasuk kategori bullying? Yaitu  tindakan yang memiliki ciri-ciri:
* Ada ketidak seimbangan power antara pelaku dan korban.
* Korban mempersepsikan bahwa tindakan kekerasan yang dialami akan berulang dan korban tidak mengetahui pasti kapan pelaki akan berhenti melakukan kekerasan.
* Bullying tidak terjadi diantara pelaku dan korban saja, melainkan selalu melibatkan kebradaan orangnlin.
*Pelaku melakukn bullying sepengatuhan orangnlain karena ia memang ingin diakui.
Perbedaan antara bullying dengan hazing.
Hazing adalah kegiatan yang dilakukan oleh kelompok senior yang mengintimidasi kelomppk yunior untuk melakukan berbagaimperbuatannyang tidak nyaman, sebagai prasyarat dan trasisi dalam  proses penerimaan komujitas.
Hazing bertujuan memasukkan seseorang ke dalam komunitas dengan perlakuan tertentu yang diterima calon anggota dengan sukarela, misalnya kegiatan pada masa orientasi sekolah (MOS). Sedangkan bullying lebih cenderung bertujuan mengeluarkan korban dari sebuah komunitas. Sayangnya, adakalanya hazing menjadi pintu masuk bullying.
***
Mengapa bullying bisa terjadi?
Bullying bukan peristiwa yang tiba-tiba, tetapi merupakan hasil sebuah proses yang panjang dan rumit. Bullying merupakan gejala alamiah yang sudah nampak pada anak-anak usia di bawah tiga tahun. Jika bullying pada anak batita langsung diintervensi oleh orang dewasa (dicegah, dihentikan, dinasehati) maka bullying akan berhenti. Bahkn anak-anak akan menginternalisasi nilai, bahwa kekerasan bukan hal yang positif. Namun jika anak pelaku bullying dibiarkan dan trus mengulang perbuatannya, maka anak akan menginternalisasi nilai bahwa kekerasan adalah hal yang wajar.
Pada usia remaja, kebutuhan anak untuk merasa “eksis” relatif lebih tinggi, selain itu juga kebutuhan kelompok. Tanpa penyaluran  yangmpositif dan jika budaya sekolah mendukung kekerasan ( dianghap wajar, dibiarkan), maka bullying mudah muncul.
Selain itu, peranan keluarga, contoh-contoh perilaku public figure, film/TV, dan media sosial sangat penting. Anak akan meniru perilaku orang-orang terdekat dan idola mereka.
***
Siapakah yang berpotensi menjadi pelaku bullying? Yaitu orang-orang yang:
– memiliki kebutuhan tinggi untuk mendominasi orang lain.
– memilikimpandangannpositif terhadap kekerasan; mudah marah dan cenderung impulsif.
– memiliki kemampuan e,pati yang rendah.
– memiliki toleransi rendah terhadap perbedaan.
– sebagian pernah menjadi korban.
Pelaku akan memilih korban orang yang dianggap lemah dan tidak akan melawan.
***
Tanda-tanda siswa yang mengalami bullying:
– Enggan ke sekolah/kampus/ tempat dimana dia dibully
– Sering mengalami luka/baju robek/ kehilangan barang/ kehilangan uang dan tidak dapat menjelaskan penyebabnya.
– Perilaku berubah menjadi pemurung/pendiam/mudah tersinggung.
– Tidak mau bercerita tentang kejadian-kejadian di sekolah.
– Prestasi menurun.
– Kadang sulit tidur, menjadi pencemas.
– Mengatakan bahwa tidak punya teman.
***
Yok, bantu korban bullying! Bagaimana caranya?
Secara umum, jadilah tempat curhat baginya, dorong agar korban mau membuka diri, karena biasana anak malu untuk bercerita pada orang dewasa.
Dorong anak agar mempunyai minimal satu orang sahabat.
Yakinkan bahwa mereka menjadi korban bukan karena kesalahannya dan dan dengan menceritakan adalah langkah penting untuk keluar dari lingkaran korban.
Laporkan kepada pihak sekolah yang dipercaya dan akan bertindak secara bijak.
Fiskusikan, strategi apa untuk mencegah agar tidak menjadi korban bullying dan dorong anak untuk mencoba strategi yang paling sesuai untuk dirinya.
Biarkan anak mengembangkan minat/hobbi di luar sekolah.
***

Bagaimana membantu korban bullying usia TK, SD

‘ Jika kejadian sedang berlangsung, langsung dihentikan.

‘ Pada pelaku sampaikan bahwa tindakan pelaku tidak baik, dan ajak berpikir apa yang dia akan rasakan jika anak lain yang membulIy ia.

* Yakinkan korban untuk berani melaporkan pada guru.

‘ Pancing anak yang berkonflik untuk bernegosiasi atau kompromi (misalnya kalau merebut mainan), intinya ajari anak strategi penyelesaian konflik yang positif.

‘ Perkuat budaya saling menghormati, saling menolong (prososial), cinta damai di rumah dan di sekolah.

Role Play di kelas dan mendiskusikan apa yang dapat dilakukan siswa Iain (jangan jadi bystander, melainkan petlu untuk stand up atau setidaknya melaporkan ke guru, (jangan jadi bystander, melainkan perlu untuk stand up atau setidaknya lapor guru.

***

 

Bagaimana membantu korban bullying usia SMP dan SMA?

* Prevensi bullying dengan sosialisasi ada orang tua, siswa (tentu para guru, karyawan, dan petugas keamanan)
* Perkuat para bystander siswa, yakinkan bahwa melaporkan kejadian bullying bukan berarti berkhianat melainkan “menyelamatkan teman”.

* Perkuat kekerabatan antara ortu siswa, guru/sekolah dan siswa.

*Perkuat budaya saling menghormati, saling menolong (prososial), cinta damai di sekolah.
* Pelaku dan korban (jika masih depresif), tetap perlu konseling.

***

Bagaimana membantu korban bullying mahasiswa?

* Yakinkan anak bahwa yang ”bermasalah” adalah pelaku.
* Ajak anak men-gexplore internet tentang bullying dan bagaimana jaian keluarnya.
* Berikan kepercayaan bahwa anak dapat mengatasinya (dengan strategiz anti-strategi anti bullying) dan jika ia merasa tidak mampu, laporkan pada pihak kampus  ( dosen pembimbing akademis/PA, misalnya).

***

Strategi mencegah menjadi korban bullying

* Diamkan (pura-pura tidak tahu/tidak dengar dan tinggalkan lokasi/pelaku)

* Jangan berada sendirian di sekolah/kampus, juga selama perjalanan pulang sekolah. Selalu berada di sekolah/kampus dalam kelompok.

* Hilangkan ”apa yang dicari pelaku”.

* Humor

* Melaporkan (namun lebih baik jika hal ini dilakukan oleh orang lain yang mengetahui (bystander/saksi).

***

Peranan orang lain (saksi/bystander)

Saksi adalah orang-orang yang mengetahui bahwa ada siswa/mahasiswa yang menjadi korban bullying.
Saksi dapat mengetahui secara langsung (misalnya melihat), atau mengetahui secara tidak langsung (misalnya mendengar cerita dari siswa/mahasiswa lain).

Apa yang bisa dilakukan saksi?

Mencegah secara langsung pada saat kejadian bullying (misalnya melerai, membela korban), kemungkinan 50 % bullying akan urung.

Mengalihkan perhatian pelaku (misalnya mengajak pelaku melakukan kegiatan lain yang lebih positif)

Melaporkan pada guru yang berwenang (misalnya guru piket] guru BK

***Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan orang dewasa dalam menghentikan bullying lebih efektif daripada mengharapkan siswa berani menghentikan bullying.

Sekolah yang berbudaya ramah, prososial (suka menolong). salng menghargai, biasanya  tingkat bullying rendah.

Hubungan guru dan siswa akrab, namun siswa tetap menghormatiguru.

Hubungan guru/pihak sekolah dengan orang tua juga akrab.
Pertemuan dengan orangtua perlu bermakna
Ada pihak yang dapat menjadi mediator bagi siswa/mahasiswa (misalnya guru/dosen tertentu yang favorit dan dilatih konseling).

Mengingat begitu besarnya pengaruh negatif pada pembentukan karakter manusia, maka sangat dibutuhkanmkerjasama dari semua unsur di masyarakat dan bangsa.

 

 

 

 

4 Comments

  1. Izzah Annisa November 14, 2017
    • nenysuswati123 November 14, 2017
  2. Spesial Tips November 14, 2017
    • nenysuswati123 November 14, 2017

Add Comment