Coaching with Point of You

Couching with Point of You

Menjadi orang tua hebat di era digital

13 Oktober 2019

Hmm, sudah agak lama nggak berada di forum workshop sebagai peserta. Kesempatan yang selalu ditunggu untuk menambah energi.

Yup!

Hari ini, bertempat di ruang Aster hotel Astoria, Bandarlampung. Ruang yang tidak asing, karena sudah dua kali sebelumnya, saya ada di ruangan ini sebagai pembicara.

Uuhuy! Bangga deh dengan diri sendiri, walau rumah cukup jauh, tapi sampai lokasi sebelum waktu yang ditentukan, peserta pertama yang hadir, bahkan sebelum panitia. He he, panitia lupa, kalau lokasi ada di area, free day car, jadi terlambat karena urusan parkir mobil.

Karena pesertanya sedikit, dan penyelenggara sudah berpengalaman, tak ada kendala dalam persiapan acara.

Sebagian wajah peserta, sudah saya kenal, apalagi penyelenggaranya, dari Pesona, semua personilnya teman sendiri. Selain itu, saya sudah pernah mengikuti acara sejenis, walaupun dengan tema yang berbeda.

couching with point of you

Usia tidak menghalangi untuk terus belajar

Yes! Saya siap belajar!

Tanpa banyak membuang waktu untuk seremonial, acara segera dimulai, sesaat setelah Coach Ferlita hadir. Ini kali kedua saya ikut kelas beliau, saya suka dengan gayanya.

Setelah dibuka dengan doa, Coach Ferli menyampaikan kontrak belajar yang disepakati peserta.

Dalam acara-acara seperti ini, memang kontrak belajar di awal sangat diperlukan, agar tujuan pembelajaran tercapai sesuai waktu yang disediakan.

Kesepakatan:

1. Belajar dengan mengalami (experient). Seluruh peserta melakukan apa yang diminta coach.

2. Respek dengan peserta yang sedang sharing; mendengarkan dan tidak meninggalkan.

3. Tidak membawa/menceritakan apa yang diceritakan peserta lain, keluar ruangan.

4. Menjadikan ruangan sebagai tempat yang aman untuk sharing; tanpa penghakiman, penilaian benar-salah.

Mengapa sharing? Karena sharing sangat dibutuhkan untuk menyeimbangkan kondisi psikologis seseorang. Kita sering mendapatkan pelajaran dari sharing pengalaman orang lain. Bisa jadi, orang lain mendapatkan banyak manfaat dari sharing pengalaman kita.

Coach Ferli sedikit menjelaskan apa itu Point of You (yang sering dipelesetkan ke View, POV). Bahwa kita semua mempunyai sudut pandang yang berbeda saat memandang sesuatu, sehingga sangat wajar kalau setiap orang memiliki persepsi dan pendapat yang berbeda.

Demikian, semua peserta mungkin mempunyai sudut pandang yang berbeda terhadap Era digital, Yang menjadi tema pilihan Pesona, penyelenggara acara ini.

Sebelum membahas inti tema, Coach Ferli mengajak peserta untuk melakukan pause.

Apa itu pause?

Eh, kok saya jadi ingat tape recorder kecil yang dulu, tahun 90an, jadi alat andalan menyerap ilmu, ya? Iya, beneran!

Dulu, kalau ikut seminar atau pelatihan, apalagi bawa anak yang masih dalam gendongan, saya merekam isi pelatihan dengan tape, karena sering tertinggal mencatat. Nah, malamnya, setelah anak-anak tidur, saya putar ulang sambil melengkapi catatan yang tertinggal. Nah, salah satu tombol tape itu, pause.

Pause adalah berhenti sejenak/jeda untuk kemudian dilanjutkan.

Apa pentingnya pause?

Bayangkan, setiap hari, berapa orang yang kita sapa? Apa kabar? Sehatkan? Bahagiakah? Namun, berapa kali kita menyapa diri sendiri?

Hai Neny, apa kabar? Apa yang kamu pikirkan? (UPS! Kayak Mr. FB). Bagaimana perasaanmu? Bahagia? Kecewa? Marah? Bagaimana kesehatanmu? Sudah makan dengan baik, kah? Kamu masak yang kamu suka atau yang suami atau anak-anak suka? Dll.

Terkadang, kita memikirkan dan memenuhi kebutuhan orang lain, tapi abai pada kebutuhan apalagi kesenangan sendiri. Kurang adil bahkan dzolim. Sering, sinyal-sinyal itu diabaikan.

Dengan melakukan pause, apalagi kalau bisa kita lakukan secara reguler, tentu kesiapan kita menghadapi tantangan dan permasalahan dalam hidup akan lebih powerfull.

Dalam sesi pause, beberapa peserta bersedia sharing, apa yang dirasakan setelah melakukan pause beberapa menit.

couching with point of you

Kartu-kartu bergambar yang digunakan dalam acara

Berikutnya, coach Ferli meminta peserta mengambil gambar yang telah disediakan. Sayangnya, saat itu saya kurang memperhatikan, pilih gambar yang seperti apa. Yang saya tangkap, pilih gambar yang menarik perhatian.

Nah, dari awal duduk, saya sudah memperhatikan hamparan kartu-kartu di lantai, yang disusun sedemikian rupa. Ha ha, mungkin karena terbiasa mengamati dan mengambil yang terdekat, saya sudah memperhatikan satu gambar itu. Maka saat ada perintah itu, tanpa pikir panjang atau memperhatikan yang lain, saya ambil gambar itu.

couching with point of you

Gambaran kekhawatiran

Nah, saat mengikuti arahan saat mengamati gambar itu, baru ngeh, kalau perintah tadi, mengambil gambar yang menggambarkan rasa kekhawatiran terhadap Era milenial. Dan saya percaya dengan intuisi saya, bahwa gambar yang saya ambil mewakili perasaan, dalam hal apa kekhawatiran saya terhadap Era milenial.

Ini sharing saya di forum, tentang gambar yang saya ambil.

1. Yang menarik dari gambar yang saya ambil: gambar balita seusia cucu saya dengan ekspresinya.

2. Saya melihat sang anak ketakutan dan sebagai orang tua, saya juga merasakan ketakutan. Dalam pikiran saya, saat foto itu dibuat, sang anak ketakutan karena ketahuan memainkan hp orang tuanya. Dia sudah tahu, bahwa itu perbuatan yang dilarang. Orang tuanya pun ketakutan, khawatir, anaknya sudah mengenal dan senang bermain hp. Khawatir, jika itu terjadi terus menerus, akan bisa menimbulkan kecanduan hp.

Ketika seorang anak kecanduan hp, itu akan sangat mengganggu tumbuh kembangnya. Selain itu juga khawatir pengaruh negatif dari apa yang diakses dari hp.

Di gambar itu ada keterangan: Fear.

Apakah saya ingin mengganti kata-kata itu?

Tidak! Feat/ketakutan orang tua atas kondisi itu harus tetap dijaga agar tetap waspada, jangan sampai yang ditakutkan itu terjadi.

Semua peserta mendapatkan kesempatan sharing, apa yang dirasakan dan dipikirkan terkait gambar yang dipilihnya.

couching with point of you

Gambaran harapan

Berikutnya, peserta diminta mengambil gambar yang menggambarkan harapannya.

Kali ini, saya memilih dengan sadar, gambar yang sesuai dengan harapan, walaupun saat itu belum tahu, harapan yang seperti apa.

Yes! Saya sudah temukan, gambar seorang adik memeluk abangnya dari belakang, dengan keterangan forgiveness.

Apa harapan saya?

  • Keluarga memiliki ikatan yang kuat
  • Saling memahami, kelebihan dan kekurangan.
  • Saling dukung
  • Mengembangkan potensi diri masing-masing dengan dukungan keluarga.
couching with point of you

Tingkat kefokusan akan sangat mempengaruhi hasil usaha

Sesi berikutnya, peserta diminta memilih dua kartu sekaligus dalam kondisi tertutup, sehingga gambarnya tidak terlihat. Masing-masing mengandalkan intuisi, mungkin tanpa alasan jelas, mengapa itu yang diambil.

Demikian dalam hidup. Sering kita berhadapan dengan hal-hal yang bukan pilihan, mau tidak mau harus dihadapi.

Kartu pertama yang, dimaknai sebagai tantangan. Peserta harus menerima gambar yang diambilnya sebagai lambang tantangan dalam hidupnya.

Pilihan saya?

Ternyata gambar…

Dengan kilat, jujur saya mengakui, inilah tantangan/ hambatan yang belum sukses saya taklukkan, masalah sering tidak fokus. Apakah parah? Bukankah ini kasus yang umum pada wanita yang multi tasking?

Sebenarnya, tidak terlalu parah, hanya saja saya ingin meningkatkannya.

Apa yang membuat saya sering tidak fokus?

Sayang mengabaikan peluang, apalagi yang suatu saat lalu, pernah saya harapkan.

Ya, saya merasa terlalu mudah tergiur dengan banyak kesempatan mempelajari bidang ilmu tertentu, sehingga tidak maksimal dan mencapai puncak sukses di suatu bidang tertentu. Hanya sampai tahapan hampir (almost) sukses.

Buktinya? Berderet sebutan TUKANG ( PE-…..) pernah saya sandang, uhuy!

Mungkin saya pembosan, cepat jenuh, kurang gigih di bidang tertentu, atau…kurang minat bersaing?

Kesadaran terhadap tantangan /hambatan dari dalam, tentu sangat membantu untuk memperbaiki diri.

couching with point of you

Hal-hal yang jadi penyebab macet/ stuck, perlu dipertimbangkan untuk diganti.

Gambar keempat, sebuah gambar baut karatan! Bagaimana gambar ini bisa bercerita tentang sebuah peluang? Apa yang bisa dilakukan?

Sontak saya tertawa memperhatikan gambar itu. Mengapa gambar ini seolah cerminan diri sendiri? Tua, dan karatan!

Okelah, untuk fisik memang sudah seperti gambar itu, tidak bisa diperbarui, tapi tidak dengan konsep atau prinsip yang dipegang dalam hidup. Tak selamanya prinsip yang selama ini diyakini, dapat menuntun kita menjadi lebih baik.

Jadi, apa yang bisa dijadikan peluang?

Yup! Sesuatu yang tua dan karatan, memang harus diganti dengan yang baru agar lebih produktif. Saya akan mengganti konsep-konsep yang sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini, era digital.

Misalnya, tidak semua kesempatan yang ada, harus diambil. Selektif, ambil yang sesuai dengan tujuan yang menjadi fokus pencapaian, dan abaikan lainnya, walaupun menarik. Selain itu, perlu menyesuaikan dengan konsep anak yang berbasis kehidupan era digital.

Langkah berikutnya, peserta diminta membuat rencana aksi; 24 jam ke depan, satu pekan ke depan dan sebulan ke depan.

Acara ditutup dengan kesan dari setiap peserta, satu dua kata. Wew! Semua positif.

Saya?

“Hayo fokus, Neny!”

couching with point of you

Foto bersama, penyelenggara dan peserta.

Terima kasih tak terhingga untuk Team Pesona atas persembahannya bagi masyarakat lampung. Semoga ke depan, semakin banyak lagi yang bisa ditawarkan ke masyarakat untuk memperbaiki kualitas kehidupannya.

Add Comment