Daarul Hikmah: Lembaga Profesional dalam Membangun Peradaban

Benar! Tidak semua rencana yang baik menurut kita, dikabulkan Allah untuk terlaksana.

Saat suami menerima undangan Milad ke 30 Yayasan Daarul Hikmah Rajabasa Lampung, sebagai ketua komite SDIT Permata Bunda 1, saya sudah berniat ikut menghadiri.

“Umi boleh masuk nggak, ya, kan yang diundang ketua komite, bukan  pribadi?” agak ragu saya dengan rencana itu.

“Ya boleh, lah, masak ya tega menolak orang lama.” Suami menegaskan.

Iya, juga, sih!

Walaupun bukan apa-apa di Yayasan Daarul Hikmah, tapi saya termasuk saksi sejarah perjalanannya.

Tsaaaaah!

Lho? Jangan nggak percaya?

Saat DH sedang membangun, saya dan teman-teman membawa bibit tanaman hias dari kampung untuk di tanam di tritisan masjid, kelas dan rumah ustadz.

Saya juga panitia kegiatan dauroh pertama di DH.

Jelek-jelek begini juga saya alumni Ma’had Daarul Hikmah, lho, walaupun hanya sanggup tiga semester. Kalah dengan ngidam anak pertama, akhirnya semester terakhir direlakan.

Haa, nggak banyak yang tahu, kan? Apalagi pengurus di atas tahun 1993.

Kalau suami sih masih eksis di DH. Beliau pernah memimpin Ma’had Murobbiyatul Al Aulad (MMA) Darul Hikmah ( setara dengan D2 PGTK Islam) selama 13 tahun. Belum lagi hampir selalu jadi pengurus di komite SDIT Permata Bunda 1, salah satu sekolah yang bernaung di bawah yayasan.

Kembali ke rencana ikut hadir di milad ke 30-nya, ternyata Allah berkehendak lain.

Sabtu pagi, setelah jalan sehat, saya merasakan badan tidak enak, seperti mau demam. Yaaa, melihat kondisi seperti itu, suami tegas melarang saya ikut.

Sedih, deh!

Tapi prediksi suami hampir selalu tepat untuk kondisi kesehatan saya, he he, bahkan sepertinya beliau lebih mengenali dibandingkan diri saya sendiri yang memang kurang memperhatikan kesehatan.

Sebelum suami berangkat, bahkan saya sudah nyungsep di bantal berselimut tebal.

Walau begitu, suami sudah paham, apa yang saya butuhkan untuk mereview sebuah acara. Dari lokasi, beliau mengirimkan foto-foto dan rekaman video acara.

Wuih! Pak Rosidin memang top!

Ustadz Nadzir Hasan memberikan sambutan sebagai wakil para pendiri yayasan Daarul hikmah yang didirikan tahun 1987, mengisahkan, DH didirikan atas bantuan DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia) yang saat itu diketuai Mr. M. Natsir, perdana menteri pertama Indonesia. 9 orang pendiri DH yang sebagian telah meninggal.

Yayasan Daarul Hikmah, di launching 30 tahun yang lalu, tepatnya 13 November 1987, dengan ketua pertama Bapak Drs. Dulhadi.

Visi: Menjadi lembaga pendidikan dan dakwah yang professional menuju peradaban madani.

Misi:

  1. Menyelenggarakan lembaga pendidikan dan dakwah yang mampu melahirkan generasi madani.
  2. Membangun iklim dan lingkungan pendidikan dan dakwah yang kondusif
  3. Membangun SDM yang professional berkarakter islami dan berjiwa pemimpin
  4. Mengembangkan tata kelola yang professional, efektif dan efisien.
  5. Membangun kemitraan dengan memperhatikan prinsip kesetaraan dan keterbukaan

Nilai-nilai organisasi: integritas, sinergi, produktif

Budaya kerja: kerja ikhlas, mawas dan tuntas.

Yang pertama dilakukan adalah membangun masjid dan komplek Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Daarul Hikmah, yang saat itu merupakan PPM pertama di Lampung. Bisa dimaklumi, untuk perkembangan di awal, sedikit tertatih, walaupun mahasiswa terus ada dan kegiatan belajar mengajar terus berlangsung. Sambil perbaikan tata kelola organisasi di sana sini.

Alumninya pun tidak sedikit, yang sekarang eksis di pemerintahan, politik maupun di masyarakat.

Salah satunya Ustadz Ahmad Jajuli, yang saat ini sebagai salah satu anggota DPD, dan hadir di acara ini memberikan tausiah.

Pertumbuhan terasa lebih nampak sejak berdirinya TK Qurrota A’yun(1993) yang mengkombinasikan kurikulum Diknas dan pendidikan Islam, dengan nama Islam Terpadu, yang di masanya juga merupakan hal baru di dunia pendidikan.

Membersamai TKIT QA, memprediksi kebutuhan guru-guru TK Islam yang sepertinya akan menjamur, atas izin pihak yayasan, suami mendirikan Ma’had Murobbiyatul Al Aulad, setara D2,  tanggal 11 November 1999 dan berakhir September 2013, dengan alumni sebanyak 400-an orang yang mengabdi di berbagai daerah di Indonesia.

Aaaah, nggak usah diceritakan deh bagaimana MMA menggeliat-geliat mempertahankan eksistensinya. Apapun, tetap harus disyukuri, walau tidak banyak, tapi lulusan MMA sudah menorehkan pengaruh pada pembentukan generasi di beberapa daerah.

Alhamdulillah, dengan pengelolaan dana seperti mengelola TPA, (mengutip pendapat seorang teman yang sama-sama mengajar TPA) MMA bertahan sampai 13 tahun dan berakhir ketika diberlakukan aturan, untuk penerimaan guru TK, yang dibutuhkan selevel S1, sedang untuk mencapai lembaga pendidikan S1, MMA tidak ditunjang kekuatan dana.

Herannya, di rekaman video yang suami kirim dari lokasi milad, tak ada catatan bahwa di Yayasan Daarul Hikmah pernah ada yang namanya Ma’had Murobbiyatul Al Aulad Daarul Hikmah.

He he he, bukan protes, hanya sedih aja, ibarat seorang anak yang tidak diceritakan ketika orang tuanya dengan antusias menceritakan anak-anaknya yang lain. Seolah-olah tidak diakui keberadaannya. Hiks!

Yaaa, sekedar mewakili perasaan para dosen (saya salah satunya) dan mahasiswi yang pernah ada, yang sampai sekarang masih sering minta tolong perbanyak legalisir ijazahnya.

Ups! Baper, ya, saya?

Tapi nggak apa-apa, kok, yang penting Allah tak akan pernah lupa mencatat dan membalas setiap amal baik kita, kan?

Kita lanjut yok, bernostalgia.

Disusul kemudian pendirian SDIT Permata Bunda 1 pada tahun 2002. Kami pun membersamainya, dengan menarik anak pertama kami yang naik ke kelas dua di SD lain, kemudian kami daftarkan di SDIT PB, dan seterusnya sampai 6 orang anak kami pernah mencicipi pendidikan di sini, kalau nggak di TKIT atau SDITnya. He he he, setia, ya, kami?

Perkembangan luar biasa terjadi menjelang tahun 2010, dimana di tahun yang sama, berdiri tiga sekolah baru:

TKIT Qurrota A’yun 2 berdiri tahun 2010

SDIT Permata Bunda 2 berdiri tahun 2010

SDIT Permata Bunda 3 berdiri tahun 2010

SMPIT Boarding school, dan yang terakhir, SMPIT Alawiyah di tahun 2017.

Bahagia rasanya melihat perkembangan Daarul Hikmah, yang selama ini menjadi mitra dalam mendidik anak-anak kami.

Semoga ke depan, semakin banyak bakti berbalut cinta untuk bangsa dan negara yang kita cintai ini.

 

Add Comment