Dahulukan Membayar Hutang atau Berkurban?

Membayar hutang adalah kewajiban yang semua kita pahami dan ulama sepakati. Berbeda halnya dengan berkurban, ada lerbedaan pendapat di antara ulama tentang hukumnya. Tetapi jika keduanya dibandingkan, tentu membayar hutang harus didahulukan daripada berkurban.

Hanya saja, sebagai manusia, kita sering terpengaruh, apalagi kalau sudah membawa-bawa perasaan.

Sebagian kita mungkin malu, saat membaca kisah inspiratif tentang seorang nenek miskin yang membeli kambing untuk berkurban dari hasil menabung hariannya, atau kisah-kisah lain yang  sejenis. Malu, karena kondisi kita tampak jauh lebih baik darinya, tetapi tidak berkurban. Tetapi pada kenyataannya, seperti itu adanya. Bukan tidak mau, tapi tidak ada dana untuk berkurban.

Setahun lalu, saya mendaftar ikut tabungan kurban. Setiap hari saya sisihkan uang untuk tabungan kurban yang akan diambil setiap bulan oleh petugas. Saya niatkan berkurban sambil berharap rizki dari Allah untuk melunasi hutang-hutang yang ada sebelum berkurban. Terkesan melambung, memang, tapi apa yang tak bisa jika Allah berkehendak?

Hampir satu bulan menabung berjalan, ada kebutuhan anak yang sangat mendesak dan tidak  bisa ditunda. Akhirnya, dengan terpaksa uang itu dipakai.

Saat petugas menelpon,”Tanggal berapa saya bisa jemput tabungan kurban?”

Dengan terbata-bata saya menjawab,”Bagaimana kalau dobel  bulan depan, yang bulan ini belum cukup?”

“Boleh, Bu, tidak masalah.”

Pertengahan bulan kedua, saya menghubungi petugas untuk mengkonfirmasi agar tabungan tidak usah diambil tiap bulan, saya akan menyimpan sendiri,, untuk menghindari kegelisahan saat tanggal pengambilan.

Sampai, satu bulan sebelum hari raya kurban, petugas menghubungi lagi, menanyakan jadi tidaknya kurban tahun ini.

“Gimana, ya, sampai saat ini rizki untuk kurban belum kelihatan, belum kepegang,” jawab saya dengn tidak enak hati.

“Ooh, tidak apa, Bu, semoga segera mendapatkan rizkinya.”

“Aamiin.”

Saya sedikit lega, setidaknya panitia sudah tidak menghitung nama saya lagi. Mungkin ini jawaban Allah, karena hutangpun belum terlunasi.

Dua hari kemudian, anak saya yang di Turki mengabarkan bahwa dia menitipkan hadiah melalui temannya yang pulang ke Indonesia, beberapa barang dan uang.300 dollar.

Masyaallah!

Uang dollar? Untuk pajangan atau bagaimana? Kan nggak  bisa dipakai belanja di warung?

“Uangnya untuk apa, Tif?” Saya memperjelas amanahnya.

“Untuk Umi, terserah mau untuk apa?”

“Bukan untuk dipajang?”

“Nggak, lah, Umi.” ???

“Kalau gitu, harus dirupiahkan dulu.”

“Oh, iya, ya, ya sudah, nanti aku minta tolong teman.”

Hmm, untuk apa, ya?

Kalau untuk bayar hutang, belum melunasi juga, tapi hutang kan bukan kewajibannya untuk membayar?

Hmm, apa ya, yang berkah dan menyenangkan hatinya?

Allah…apakah ini Kau maksudkan rizki untuk berkurban? Bukankah tahun lalu juga Hatif menghadiahi kami kurban, walaupun memberitahukannya setelah hewan kurban dipotong?

“Tif, uangnya boleh untuk kurban?”

“Boleh banget, Mi.”???

“Nanti kalau sisa, Umi belikan tafsir, ya?”

“Iya, Mi, Alhamdulillah, berkah.”

Alhamdulillah, matur nuwun, ya Allah. Betapa Engkau Maha bijaksana. Kalau begini, kurban juga nggak malu sama yang masih ada sangkutan hutang, kan hadiah.???

Ini rizki akhirat, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami dengan wasilah kurban ini, aamiin.

***

Tiga Dzulhijjah, ba’da sholat Subuh ada yang menelpon suami, mengabarkan bahwa ada seseorang yang menghadiahi hewan kurban atas namanya.

Masyaallah…betapa besar karunia yang Engkau berikan, Alhmdulillah.

***

Ketika manusia tak mampu mengambil keputusan memilih antara dua kebaikan, maka Allah yang mengmbilkan keputusan untuknya.

Allahuakbar…Allahuakbar…Allahuakbar.

Add Comment