Dari Lampung ke Boyolali, Naik Pesawat atau Bis?

Transit di Soeta

Dari Lampung ke Boyolali, bingung, mau naik apa?

Ini perjalanan saya yang ketiga dari Lampung ke Boyolali, mungkin bisa diambil pelajarannya untuk sahabat yang akan melakukan perjalanan.

Ada beberapa alternatif pilihan berkendara jika ingin ke Boyolali atau tempat lain di daerah Jawa.

Pertama, kendaraan pribadi atau rental mobil.
Untuk yang masih muda dan fisiknya kuat, bisa saja menggunakan motor. Dalam hal ini, perlu dipertimbangkan kelayakan kendaraan yang akan digunakan. Berapa lama perjalanan, sangat tergantung kecepatan yang dipilih dan lamanya istirahat.
Kalau pergi rombongan, tentu lebih aman menggunakan mobil pribadi atau sewaan/rental. Kelebihannya, kita bisa mengatur waktu sesuai keperluan, juga bisa mampir-mampir tanpa terbebani perasaan dengan driver atau penumpang lain. Yang jelas, biayanya lumayan besar: biaya rental, bahan bakar, biaya kapal, belum lagi makan dll. Walaupun ada fasilitas google maps, alangkah baiknya kita mengumpulkan informasi dari orang lain yang pernah ke sana. Untuk pilihan ini, saya belum pernah melakukannya, jadi tidak bisa bercerita lebih banyak.

Kedua, menggunakan bis.
Banyak biro perjalanan antar propinsi yang bisa kita pilih, sesuai anggaran yang kita buat dan fasilitas yang disediakan.
Beberapa yang sudah pernah saya gunakan, yaitu Rosalia Indah, Puspa Jaya dan Damri.
Perjalanan pertama, dati Lampung saya menggunakan Puspa Jaya. Karena ada seorang teman di Sragen yang akan ditemui, maka saya memilih rute Bandarlampung-Solo, karena pool terakhirnya sudah masuk wilayah Sragen, dan teman saya menjemput di sana. Keesokan harinya, saya diantarkan ke Boyolali. Pulangnya saya menggunakan bis Rosalia dari pool yang ada di Kertosure, karena ada yang mengantatkan ke sana.
Perjalanan kedua, dari Bandarlampung saya menggunakan bis Damri, tetapi hanya ada yang sampai Jogja. Saya diturunkam di pool bis yang menuju Solo. Di tugu Kertosuro, seorang teman yang akan pulang ke Boyolali, menunggu saya supaya bisa ikut mobilnya. Pulangnya naik bis Rosalia Indah dari terminal Boyolali.
Puspa Jaya, Rosalua Indah dan Damri, ketiganya ada kekurangan dan kelebihannya.
Perbandingan ongkos ketiganya, dengan patokan Bandarlampung-Jogja, paling murah Damri, disusul Puspa Jaya dan tertinggi Rosalia Indah.
Damri, driver dan kondekturnya saat itu ketemu yang ramah, tidak terburu-buru dan memfasilitasi untuk sholat lebih dari yang lain, maksudnya, saat sholat subuh, kalau yang lain tidak istirahat untuk sholat, sedang ini, berhenti di masjid di sekitar Brebes untuk sholat subuh. Fasilitasnya bangku yang cukup nyaman, free wifi, sayang…saat saya menggunakan, tidak ada kuotanya. Snack dan mihum saat berangkat, berhenti di dua tempat rest area.
Puspa Jaya, untuk ongkos, lebih mahal dari Damri tapi masih lebih murah dari Rosalia Indah. Fasilitas: ac, toilet, berhenti untuk makan dan ishoma di dua tempat, snack dan minum saat berangkat.
Rosalia Indah, terkenal ngebut. Memang iya, saya membuktikannya, hanya saja, karena perjalanan malam, jadi tidak begitu terasa. Taunya setelah sampai tempat, waktunya beda beberapa jam dari yang lain, walaupun faktor kapal juga jadi salah satu penyebab. Lebih mahal, tapi mendapat makan 2 kali di rest area.
Masih banyak armada bis lain yang belum saya coba, mungkin sahabat bisa menambahkan.

Ketiga, menggunakan pesawat.
Perjalanan ketiga saya ke Boyolali, bersama rombongan yang terdiri dari 4 orang wanita. Dengan pertimbangan supaya tidak terlalu cape, kami sepakat menggunakan pesawat. Tiket kami pesan secara online untuk keberangkatan jam 08.00 dari bandara Radin Inten II, transit di bandara Sukarno Hata, lanjut ke bandara Adi Sumarmo, Boyolali.
Saat chek in, kami sepakat tidak menitipkan barang di bagasi, malas antri saat pengambilan. Barang-barang masih bisa dimasukkan cabin pesawat. Saya lupa, kalau barang di bagasi, saat transit kita tidak perlu memindahkannya. Jadilah kami kerepotan dengan barang, walaupun di tempat-tempat tertentu bisa menggunakan troler, tapi ada area yang kita harus membawanya sendiri, yaitu dari pintu sebelum ruang tunggu keberangkatan sampai membawanya ke pesawat dan sebaliknya. Sahabat yang pernah transit di Soeta bisa membayangkan, seberapa jauhnya terminal kedatangan B ke terminal pemberangkatan A? He he he, barang bisa didorong menggunakana stroller, tapi kaki tetap harus melangkah sampai ke sana, karena sebelumnya tanya ke petugas, katanya belum perlu naik bis shuttle.

Stroller meringankan beban bawaan, walau hanya di area tertentu

Awal tujuan kami adalah kecamatan Ampel Boyolali, karena ada suatu sebab, ke sananya ditunda sampai acara berlangsung, tanggal 14 Januari, pagi-pagi. Perubahan itu saya terima tanggal 10 Januari, malam hari, saya sudah tidur dan terbaca sebelum subuh. Akhirnya saya putuskan membicarakannya pada tombongan saat transit, karena tiket pesawat sudah tidak bisa dikensel, harus berangkat hari itu.
Sebelumnya beberapa alternatif kemungkinan tempat menginap sudah saya fikirkan, sekaligus konfirmasi kepada yang bersangkutan, sampai sebuah keputusan yang Alhmdulillah diterima rombongan. Kami akan menginap di Rumah Qur’an yang sedang mengadakan dauroh qur’an dengan sistem pengambilan hari sesuai kondisi peserta.

Cekrek dulu, ah! Belum tentu ada kesempatan ke sini lagi.

Sampai di Adi Sumarmo eesuai jadwal, sekitar jam 13.00, kami sholat dulu. Sengaja kami keluar bandara dengan berjalan kaki, dengan niat order go car, karena ada peraturan, angkutan online tidak diperkenankan mengambil penumpang di bandara. Kalau ketahuan, dendanya 500.000. Kata petugas, ke luar bandara berjalan sekitar 200 m. Mengapa tidak menggunakn bis bandara? Karena diantara kami belum pernah ada yang menggunakan rute ini. Kalau bis bandara, hanya bisa mengantarkan ke terminal bis, untuk mejuju lokasi dauroh, di Wonorejo, Gondangrejo Karanganyar, kami belum tahu.

“Dibuat santai aja, ya. Kalau cape istirahat, kita foto-foto dulu.” Saya coba menghibur, terutama anak-anak kami.
Benar, sampai di depan, saya mencari jnfo, bertanya pada petugas yang ramah, bagaimana supaya kami bisa sampai ke aamat.
“Ibu nggak bisa pesan go car di sini, kasihan, nanti didenda. Ibu harus keluar dulu sampai lampu merah, baru order di sana.”
“Kalu naik bis sampai mana?”
“Bisa ke terminal, tapi ibu harus masuk dulu beli tiket, harganya 20.000.”
“Kalau taksi, berapa?”
“Sampai terminal, 100.000.”
“Tapi cuma sampai terminal, ya! Ke Wonorejonya naik apa?”
“Nah, sebentar sayabtanyakan teman saya yang rumahnya di sana.”
Baik banget, petugas itu memanggilkan temannya, tapi jelas saja penjelasannya membingungkan orang yang belummpernah menempuh rute itu.
“Jauh, nggak lampu merah?”
“Sekitar sepuluh menit, jalan kaki.”
O ow! Sepuluh menit jalnnya siapa? Laki-laki? Bagaimana dengan kita, perempuannyang nggak biasa angkut-angkut?
Berunding lagi, apa kami akan mencari penginapan di Boyolali? Cek tarif go car dan grab, berapa ongkos menuju lokasi tersebut.

Laparrr

“Kalau lapar, makan dulu, tadi Bunda bawa rendang dan alpokat,” kata Bu Reni. Beliau penganut mazhab keto, bekalnya tanpa nasi.
“Yaaa, pokatnya bonyok!”
Dengan santainya Husna dan Syifa makan rendang di trotoar.
“Kita, kan turis domestik, cuek aja,” saya komentar sambil nyengir.
Setelah makan, kami lanjutkan perjalanan sampai ada sebuah rumah makan yang tidak jauh dari bandara, kami hanya pesan semangkuk sop tulang dan dua porsi nasi, plus minuman sesuai kesukaan masing-masing. Rendang dikeluarkan untuk menemani.
Selesai makan, hujan deras. Kami coba order go car, Alhamdulillah ada yang berani menjemput kami di warung itu, padhal masih wilayah larangan.
“Saya berani ambil, karena hujan deras,” kata drivernya, saat ngobrol di jalan.
Alhamdulillah, sebuah pelanggaran aturan yang menolong kami. Terima kasih, ya, Pak. Bisa dibayangkan kalau kami harus menunggu hujan reda yang tak tahu kapan, kemudian berjaln keluar area bandara?
Sampai di lokasi, hujan masih deras. Alhamdulillah, tidak perlu bertanya-tanya, alamatnya mudah dicari.
Kami disambut dengan ramah, ternyata…hari Jum’at libur, sedang kaminhanya mengambil sampai hari Sabtu pagi.
“Tapi boleh, kan, Mbak?”
“Boleh, Bu,”jawab ustadzahnya, ramah.
“Ya sudah, paling nggak kita dapat malam Sabtu dan paginya.”

Perjalanan kami belum selesai, tapi sudah direncanakan untuk pulangnya. Bu Reni dan Syifa sudah dipesankan tiket pesawat, dengan harga hampir 3 kali lipat tiket bis. Saya nyantai aja, naik bis, biar nggak perlu angkat-angkat bawaan, lebih banyak yang bisa dilihat saat siang, istirahat saat malam dan yang penting, ramah untuk isi dompet.😁.

 

18 Comments

  1. Kang Erman Januari 19, 2018
    • nenysuswati123 Januari 19, 2018
  2. rika widiastuti altair Januari 19, 2018
    • nenysuswati123 Januari 19, 2018
  3. Lela Trisanto Januari 19, 2018
    • nenysuswati123 Januari 19, 2018
  4. Tety mjdh Januari 20, 2018
    • nenysuswati123 Januari 20, 2018
  5. Mery kusyeni Januari 21, 2018
    • nenysuswati123 Januari 22, 2018
  6. agustinus leantoro Januari 22, 2018
    • nenysuswati123 Januari 22, 2018
  7. Dwi Septiani Januari 23, 2018
    • nenysuswati123 Januari 25, 2018
  8. Ade UFi Februari 1, 2018
    • nenysuswati123 Februari 1, 2018
  9. yahya Juni 21, 2018
    • nenysuswati123 Juni 21, 2018

Add Comment