Destinasi Wisata di Gunung Sitoli, Nias.

9 Januari 2019, hari ketiga di Gunung Sitoli.

Kami diantar keluarga Abdurrohim ke penginapan Garuda, di pusat kota Gunung Sitoli. Rencana hari ini, akan melihat lokasi rumah pertama sejak mereka bersepakat menerapkan kehidupan sedekat mungkin dengan sunnah rasul dan sahabat. Juga mengunjungi destinasi wisata di Gunung Sitoli.

Saya, istrinya dan Abdullah, salah satu anaknya, naik bentor, sedang beliau mengendarai motor, memboncengkan suami.

destinasi wisata di gunung sitoli

Naik becak motor dengan Siti Hajar dan Abdullah

Aha!

Mata blogger saya mulai beraksi, sambil pikiran merencanakan sesuatu, tentunya.

Sayang, naik becak motor berbeda dengan becak asli, seperti di kota kelahiran saya, Metro. Dalam hal ini, tentu berbeda dalam hal kecepatan. Lha iyalah, tenaga motor kok dibandingkan dengan gowesan manusia. Artinya, saya tidak dapat mengambil gambar yang bagus dalam keadaan berjalan dengan kecepatan motor. Apalagi siang hari, layar tab hanya bisa dilihat dengan pencahayaan yang tinggi, akibatnya, batere boros, tab tiba-tiba ngdrop. Mau tidak mau segera disambung ke power bank.

Destinasi yang pertama menarik perhatian adalah musium pusaka Nias, walaupun hanya terlihat papan namanya di pintu gerbang yang terlihat saat kami lewat.

Kemudian tugu pohon natal, tugu korban gempa, taman Yaahowu yang terlihat indah dengan pantainya yang tertata rapi, terakhir tugu duren.

destinasi wisata di gunung sitoli

Mengunjungi masjid Jami’ Ilir Gunung Sitoli, bertemu dengan tetangga saat keluarga Abdurrahim tinggal di sana

Setelah check in di penginapan Garuda di jl. Kelapa, kami pergi ke masjid Jami’ Ilir, Gunung Sitoli, yang berjarak sekitar 200 m dari penginapan. Tujuannya, untuk napak tilas tempat tinggal keluarga Hasan Basri, yang juga tempat lahirnya.

Rumahnya hanya berjarak sekitar 10 m dari masjid. Sayangnya, rumah itu sudah tak ada lagi, dibangun oleh pemiliknya yang baru. Dulu, rumah itu dibangun sendiri, hanya saja menempati tanah orang lain, dengan perjanjian, setelah 7 tahun, maka rumah itu jadi miliknya. Mungkin itu sejenis sewa tanah, tapi uang sewanya langsung dibuat rumah.

Di sana kami bertemu dengan tetangganya yang menyaksikan bagaimana masa kecil Hasan dan saudara-saudaranya. Mendengar cerita tentang peristiwa gempa tahun 2005 yang berkekuatan 8.7 sr dan memporakporandakan pulau Nias. Masjid dan rumah keluarga Abdurrahim, yang tetap kokoh berdiri saat hampir semua bangunan di sekitarnya runtuh.

Setelah dianggap cukup mengumpulkan bahan untuk melengkapi buku, kami berpisah. Pak Abdurrahim, istrinya dan Abdullah kembali ke Olora, saya dan suami pergi ke destinasi wisata dengan becak motor.

destinasi wisata di gunung sitoli

Tugu Gempa Nias, tertulis nama-nama korban gempa tahun 2005

1. Tugu Korban Gempa Nias

Hanya dengan 5000 rupiah, kami sampai di Tugu Korban Gempa Nias. Sebenarnya tidak terlalu jauh jika berjalan kaki, hanya saja kami menghemat waktu dan tenaga. Mengingat, misi kami belum selesai, walaupun tambahan. Saya juga harus memikirkan kekuatan fisik, mengingat, sekembalinya dari sini, setumpuk tugas sudah menanti.

Tugu untuk mengenang peristiwa gempa dahsyat yang terjadi di pulau Nias di tahun 2005 dan menelan banyak korban. Gempa yang memporak-porandakan kehidupan saat itu. Di tugu ini dituliskan nama-nama korban yang terdata. Tugu dikelilingi air mancur yang indah. Di seberang jalan, terlihat masjid Al Furqon yang nampak indah dan megah. Sayang, kami tidak menyempatkan ke sana, belum waktu sholat dan ada beberapa tempat yang akan kami datangi.

destinasi wisata di gunung sitoli

Taman yang sangat indah, dengan latar belakang pantai yang terawat.

2. Taman Yaahowu, Gunung Sitoli

Taman Yaahowu, didekatnya ada pantai yang sangat indah dan terawat. Biasanya, pantai wisata ada jauh dari pusat kota, tetapi di sini, pantai menyatu dengan taman kota, indah sekali. Seperti kolam renang, tapi sangat besar.

destinasi wisata di gunung sitoli

Pantai di Taman Yaahowu

Memandang ke segala arah, semua indah. Laut lepas, pelabuhan kapal, rumah adat, taman kota, tugu durian, tugu gempa, masjid, vihara dan pasar kuliner.

destinasi wisata di gunung sitoli

Salah satu bangunan di Taman Yaahowu

Kalau saja waktunya luang, mungkin bisa berlama-lama di sini, hanya saja perlu disiapkan perbekalan yang mencukupi. Bagaimanapun kita harus berhati-hati saat memilih kuliner, mengingat penduduk muslim hanya 5%. Terutama makanan yang mengandung protein hewani produk lokal.

Menjelang dzuhur, kami kembali ke penginapan untuk istirahat, sholat dan makan siang. Kami makan di warung padang dekat masjid Jami’i. Rencana berikutnya, mengunjungi Musium Pusaka Nias.

destinasi wisata di gunung sitoli

Naik becak motor, angkutan andalan di Gunung Sitoli

Saat kami bersiap berangkat ke musium, ada telpon dari staf kantor kandepag. Ada titipan untuk Pak  Abdurrahim yang harus diambil. Baiklah, sekalian jalan. Setelah bertanya kepada resepsionis penginapan, berapa ongkos ke kantor kandepag kemudian ke musium, kami segera memanggil becak kosong yang lewat di depan penginapan. tanpa transaksi.

destinasi wisata di gunung sitoli

Salah satu rumah adat di lokasi Musium Pusaka Nias

3. Musium Pusaka Nias.

Sebagaimana biasa, sebelum pergi ke suatu tempat, saya mencari sedikiti formasi tentang tempat tersebut di internet. Di situlah saya merasakan, pentingnya peran blogger dalam promosi pariwisata. benar-benar membantu calon pengunjung. Setidaknya ada sedikit bekal sebelum membuat perencanaan agar kunjungannya efektif dan bermanfaat. Review dari beberapa blogger, tentu berbeda, tergantung sudut pandang yang dianggapnya penting untuk ditonjolkan atau mana yang menarik menurutnya.

destinasi wisata di gunung sitoli

Di depan gedung Musium Pusaka Nias

Lokasi museum di tengah pemukiman penduduk. Loket tiket ada di pinggir jalan raya, di depan gang besar menuju lokasi. Di sisi kanan jalan masuk, terlihat guest house, sedang sebelah kiri, kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Lokasi musium tidak terlalu luas, untuk ukuran keberagaman isinya.

Saat memasuki lokasi, kita langsung dihadapkan pada sebuah bangunan rumah adat, yang di depannya terdapat gulungan besi kerangka bangunan. Sebagai pengingat kejadian gempa dahsyat di Nias tahun 2005.

destinasi wisata di gunung sitoli

Gerbang tanaman menuju kebun binatang mini di lokasi Musium Pusaka Nias

Di sebelah kanannya, berdiri juga rumah adat dengan model yang berbeda. Di antara keduanya, ada pintu tanaman melengkung, mengarah ke kebun binatang mini.

Di sebelah kiri rumah adat pertama, tampak Musium Pusaka Nias, yang dari depan nampak dua rumah adat yang disatukan. Karena tujuan utama adalah musium, maka kami mengutamakan memasuki gedung itu.

Di pintu kami disambut dua resepsionis yang ramah, menginformasikan bahwa untuk memasuki musium membeli tiket seharga 5000K. Aturan yang diberlakukan, pengunjung tidak boleh mengambil gambar, kecuali di ruangan empat.

destinasi wisata di gunung sitoli

Bersama Ivon Zebua, guide yang ramah.

“Kenapa tidak boleh mengambil gambar?” saya bertanya, dengan sopan.

“Itu peraturan yang diberlakukan, Bu?” jelas guide cantik asli Nias tersebut, yang kemudian mengenalkan dirinya, Ivon Zebua. Saya suka dengan logatnya, seperti bule yang bicara pakai bahasa Indonesia.

“Mungkin karena ini rahasia negara, benda-benda pusaka?” Sok pinter, saya, he he he.

Dia hanya tersenyum, tapi jelas sedang menerka-nerka, sedang menghadapi tamu model apa, nih? Nah! Sok tahu lagi, kan? Terlihat jelas bukan orang Nias, saya pakai ransel kecil, membawa tab, kacamata nangkring di kepala, suami membawa kamera tergantung di lehernya.

Setelah memberi penjelasan di ruang pertama, dan pastinya banyak saya tanya, Ivon menginformasikan tentang izin mengambil gambar.

“Bu, untuk tamu tertentu, ada izin untuk mengambil gambar, dengan menandatangi surat pernyataan yang sudah kami persiapkan, dengan administrasi 10 K perorang,” kata sicantik ini.

Yess!

“Terima kasih, oh ya, saya blogger, sering menulis untuk mempromosikan destinasi wisata yang kami kunjungi.” Saya meyakinkannya, bahwa izin yang diberikan tidak salah orang.

Setelah mengisi formulir dan membayar administrasi, Ivon melanjutkan mendampingi kami. Mungkin banyak pertanyaan saya yang terlalu mendetail dan membuatnya pusing atau malas, akhirnya dia menawarkan hal lebih baik untuk membantu saya.

“Kalau Ibu mau, bisa saya panggilkan senior yang lebih menguasai dan menjelaskan semua yang ada di musium ini,”

“Wow! Terima kasih sekali.”

destinasi wisata di gunung sitoli

Herman Giawan dan suami

Ivon segera memanggil seorang guide pria yang segera menghampiri kami. Setelah Ivon memberi kata pengantar, pria ini mengenalkan diri, namanya Herman Giawan.

destinasi wisata di gunung sitoli

Ini ada di ruangan empat Musium Pusaka Nias

Baiklah, untuk cerita tentang Nias yang saya dapat dari dalam musium, insyaallah akan saya ceritakan di lain tulisan. Saya akan menyampaikan hal lain yang ada di luar gedung musium tapi masih di dalam wilayah musium.

Hari sudah menjelang sore saat kami keluar dari gedung museum. Sepakat masuk ke area kebun binatang mini. Entahlah, tidak tertarik masuk ke rumah adat, sehingga tidak mencari informasi, bolehkah masuk ke sana.

destinasi wisata di gunung sitoli

Kolam renang anak-anak

Di bilang kebun binatang, sepertinya kurang pas, walaupun disebut mini. Saya lebih melihatnya sebagai taman yang ada beberapa kandang hewan di dalamnya, seperti rusa, buaya, unggas, terutama berbagai jenis burung dan monyet. Beberapa pohon yang ditanam, juga diberi nama, sepertinya memang dibuat dengan tujuan wisata edukasi.

Kebun binatang mini tertata indah, dengan beberapa tempat istirahat yang terbuat dari batu.  Agak kebawah tampak kolam renang untuk anak-anak, uniknya, airnya berasal dari laut. Yap, masih pantai juga, bahkan pelabuhan kapal tampak jelas dari sana.

Lumayan cape, persediaan minum sudah habis. Kami segera meninggalkan lokasi musium setelah mengambil foto seperlunya.

Pulang ke penginapan dengan becak motor. Menjelang maghrib. Di tengah perjalanan, becak, lebih tepat motornya, seperti mengalami gangguan. Kami turun, memberi kesempatan driver memperbaiki kerusakan. Sepertinya ada yang membelit di bagian roda motor. Butuh waktu beberapa menit. Alhamdulillah, teratasi. Kami sampai di penginapan dengan melebihkan ongkos, dan nampak sekali sang driver sangat berterima kasih.

Malam hari, setelah makan di warung seafood padang, kami tidak kemana-mana, istirahat.

***

destinasi wisata di gunung sitoli

Siap berangkat dari bandara Binaka, Gunung Sitoli

Setelah sholat Subuh, saya membuka google maps, meneliti rute dari penginapan sampai bandara. Kalau sempat, pengen mampir di destinasi wisata yang dilewati, yaaah, walaupun hanya mengambil foto. Saya sudah kumpulkan nama-namanya:

Pantai Nusa Lima, Marina Beach, Pantai Malaga, Pantai Humene, Masjid Jami” Humene, Tanjung Ndira, Bambu House, Taman Doa Maria, Mega Beach.

Kata Pak Abdurrahim, mobil travel menjemput jam 07.30, perjalanan ke Bandara kurang dari 30 menit, penerbangan menjelang jam sebelas, artinya masih ada waktu untuk mampir-mampir.

Sayangnya, travel datang jam 08.30, belum jelas juga, apakah Pak Abdurrahim datang ke penginapan atau dijemput ke Olora? Ada mis informasi, rupanya. Rasanya tidak mungkin menjemput ke Olora, butuh waktu hampir setengah jam, artinya tambah waktu lebih panjang ke bandara. Syukurlah, sebelum jam 9 Pak Abdurrahim, istrinya dan Abdullah, datang.

Kami segera berkemas berangkat ke bandara. Hmm, sepertinya tidak sesuai rencana. Perjalanan ke bandara butuh waktu sekitar 30 menit, sedangkan jadwal terbang jam 10.50, setidaknya maksimal jam 10.00 sudah harus check in. Belum lagi harus mencari makanan yang aman, minimal sebelum terbang harus makan, karena pagi tadi hanya sarapan sekedarnya. Sepanjang perjalanan, hanya beberapa tempat pemukiman muslim, dan belum tentu ada warung makan. Sebelum keluar dari pusat kota, harus sudah menemukan warung muslim.

Akhirnya, rencana mampir ke beberapa tempat untuk berfoto, batal. Tidak mungkin kami mempertaruhkan jadwal penerbangan.

Kami berpisah di pintu keberangkatan, dengan membawa oleh-oleh kue kering khas Nias dan ikan tongkol bakar yang dikemas dalam kardus disegel. Selain itu beberapamsisir pisangbyang dibungkus plastik.

Masalah muncul saat check in.

“Apa ini isinya, Pak?”tanya petugas, saat kami menimbanag barang untuk diletakkan di bagasi pesawat.

“Kue kering,” jawab suami. Benar, kan, isinya kue kering? He he he.

“Yang ini?”

“Pisang.”

“Maaf, Pak, ini tidak boleh dibawa di bagasi.”

“Kalau dibungkus kardus?”

“Tetap tidak bisa, Pak, resikonya rusak atau mengotori yang lain, ini harus ditinggal.”

“Di kabin?” Saya coba negosiasi.

“Tidak boleh juga, Bu.”

Okelah, setelah selesai urusan, kami meninggalkan petugas.

“Gimana, kita kembalikan, mungkin mereka belum pulang?” Saya mencari keluarga Abdurrahim di luar ruangan, mungkin mereka belum pulang.

“Jangan, kita usahakan dulu, kalau bisa lolos di pintu terakhir, ya kita bawa, kalau ga bisa, ya biar untuk petugasnya.” Jawab suami.

Hmm, baiklah, sattu pintu pemeriksaan lagi, untuk masuk ke ruaang tunggu.

He he he, Alhamdulillah, bisa lolos. Maafkan, bukan bandel atau mau melanggar peraturan, semata-mata menjaga hati saudara. Tentu mereka kecewa kalau usul saya tadi, mengembalikan, kami lakukan.

Di tiket, kami menumpang lesawat Garuda rute Binaka langsung ke Sukarno Hatta. Ternyata, sempat transit sebentar di bandara Minangkabau menurunkan dan menaikkan penumpang yang akan ke Jakarta. Penumpang dengan tujuan Jakarta tetap di pesawat.

“Turun bentar, yok, foto,” saya ajak suami. Dih, katrok banget, kan?

“Kan nggak boleh turun,” jawabnya.

“Ya izin dulu sama petugas.”

“Umi yang izin.”

Hmmm, siapa takut?

Saya menghampiri pramugari yang berdiri di ekor pesawat, yang terdekat dengan kursi kami.

“Mba, saya tujuan Jakarta, boleh izin turun sebentar, mau ambil foto?”

“Silakan Ibu izin petugas darat, ya.” Jawabnya, ramah.

Saya segera ke pintu yang terbuka di bagian depan, minta izin pramugari yang sedang menyambut penumpang.

“Silakan izin petugas darat, Bu.”

Saya segera menuruni tangga, menemui petugas yang sedang berdiri di bawahbtangga pesawat.”

“Pak, izin foto sebentar, nggak jauh-jauh, kok.”

“Silahkan, Bu.”

destinasi wisata di gunung sitoli

Turun sebentar di bandara Minangkabau, hanya untuk cekrek…cekrek

Cekrek…cekrek…cekrek.

Malu mau pose macam-macam,pastinya banyak yang melihat, entah para petugas, penumpang yang baru mau masuk atau ada juga penumpang yang melihat dari dalam pesawat.

Ha ha ha, ketawa kalau ingat pengalaman itu. Blogger nanggung!

Nggak apa apa, yang penting dapat foto di bandara Minangkabau.

Nah, sebelumnya saya greget. Suami pegang kamera pinjaman bagus, tapi kurang peka mendokumentasikan. Akhirnya saya pinjam, dan sepanjang penerbangan ke Jakarta, saya pegang untuk mengambil gambar selama di angkasa. Lunas! Beberapa kali terbang,baru ini berkesempatan memotret langit dari ketinggian. Sebenarnya, ada rasa khawatir pakai barang pinjaman, apalagi belum diberi tutorial. Insting aja, kan hanya cekrek-cekrek, otomatis tersimpan. Yang penting bisa membuka, cekrek dan menutup lensa.

Di bandara Minangkabau tidak lebih dari 30 menit, pesawat langsung menuju Jakarta. Wajar kalau tiket Garuda lebih mahal, sampai saat ini, kalau dibandingkan dengan 3 merk pesawat lain, garuda masih lebih unggul, baik dari fasilitas maupun pelayanannya.

destinasi wisata di gunung sitoli

Kasihannn

Sampai di Sukarno Hatta, kami berjalan santai, ada waktu transit sekitar 2 jam. Lucu sekaligus kasihan, melihat suami menggendong pisang yang lumayan berat. Niat baik, diterima dengan baik, demikian upaya menjaga silaturahim.

Alhamdulillah, perjalanan terlaksana sesuai rencana. Buku, sedang dalam proses penerbitan, semoga prosesnya lancar dan bisa menjadi bacaan sekaligus rujukan dalam pendidikan anak-anak kita.

7 Comments

  1. Rika Widiastuti Altair Februari 14, 2019
  2. Naqiyyah Syam Februari 14, 2019
  3. Ummu arrahma Februari 14, 2019
    • nenysuswati123 Maret 19, 2019
  4. Tika Dwi Lestari Februari 25, 2019
  5. Lilih Muflihah Maret 18, 2019
    • nenysuswati123 Maret 19, 2019

Add Comment