Di Pelalawan, Kami Dikuliti

Membedah berarti menguliti dan melihat isi.

Dalam seminar ini, kami membedah buku Menuju Keluarga Hafidzul Qur’an, sedang buku ini merupakan kisah perjalanan keluarga kami, berarti kami siap dikuliti untuk diambil manfaatnya.

Antusiasme peserta nampak dari sikap mereka saat  menyimak pemaparan kaki, juga saat tanya jawab.

Walaupun sedikit terganggu dengan sound system, bahkan sempat mati lampu, tapi tidak mengganggu  peserta yang terdiri dari berbagai latar belakang profesi maupun usia.

Berbagai hal berkaitan dengan proses lahirnya penghafal Al Qur’an ditanyakan, dari keutamaan penghafal Al Qur’an, bagaimana memotivasi anak-anak, kendala-kendala yang dihadapi, dll.

Itu yang kami harapkan, dengan begitu kami optimal dalam menyampaikan apa yang mereka butuhkan. Kami tidak sedang menyampaikan teori, tetapi apa yang sudah pernah kami hadapi dan lakukan.

Pertanyaan tidak hanya di forum, karena keterbatasan waktu, beberapa peserta bertanya via WA.

Beberapa pertanyaan membuat saya tertohok. Sangat mendasar dan urgen, terkait dengan konsep keimanan, ini pertanyaannya:

 

Cita-cita menjadi orang/keluarga hafidz adalah dambaan setiap kita , namun dalam perjalanannya ada yang bisa dan tidak. Ketika orang yang sukses menjadi hafidz, apakah karena mereka mendapat anugerah Allah, bakat atau pola didik? Begitu juga kalau gagal, apakah karena tidak dapat anugerah, anak tak berbakat, atau pola/guru yang salah?

Ini jawaban saya:

Anugerah?

Hidup kita adalah anugerah, apalagi kalau bisa merawatnya sesuai dengan tuntunan Allah.

Hidup ini ujian, untuk melihat siapa-siapa hamba-Nya yang beramal sebaik-baiknya.

Ketika kita tahu amalan terbaik yang dicintai Allah, maka lakukan semaksimal mungkin. Nilai manusia ada di prosesnya, kesungguhannya, perjuangannya. Allsh yang berhak mewujudkan hasilnya. Hasil yang diberikan Allah, juga ujian  bagi kita.

Bakat?

Bakat itu hanya istilah manusia, bahasa psikologi.

Pernahkan Allah membahas masalah  bakat?

Yang ada, potensi taqwa dan fujur, dua kecenderungan yang ada pada setiap manusia, tinggal bagaimana kita mengelolanya.

Kita mengatakan ada bakat setelah ada  bukti karya nyata!

Pola? Metode pendidikan?

Nah, ini wilayah manusia yang boleh dibahas???

Pertanyaan dilanjutkan:

Setiap anak punya potensi yang berbeda dan kita tidak bisa memaksa anak harus berprestasi disemua bidang

Ilmu quran ini apakah masuk kategori “potensi” atau bukan? Ada anak yang payah kali untuk belajar quran?

Saya jawab:

Keyakinan kita terhadap sesuatu akan berpengaruh pada yang akan terjadi. Tak ada yang tak mungkin  bagi Allah. Jangan mencegah sesuatu yang mungkin dengan keyakinan kita.

Kita tldak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Beri kesempatan yang sama pada setiap anak, serahkan hasilnya pada Allah.

Kita manusia, hanya berusaha dan berdoa untuk yang terbaik sesuai keridhoan-Nya. Kita tidak tahu sebuah takdir sebelum Allah mewujudkannya.

Demikianlah, dalam setiap acara, saya berusaha meninggalkan no WA, memberi kesrmpatan kepada peserta untuk menindaklanjuti kajian, agar yang belum berkesempatan bertanya, bisa bertanya atau menggali lebih dalam.

Kami mungkin tak punya banyak harta untuk betbagi, tapi berharap pengalaman yang kami tularkan lebih bernilai dari sekedar materi.

One Response

  1. mahbub solihin Juni 12, 2017

Add Comment