Dialog Publik, Propinsi Ramah Anak dan Perempuan

8 Februari 2018, Begadang Resto, Bandarlampung.

Alhamdulillah, berkesempatan menghadiri undangan melalui Komunitas Tapis Bloger, untuk mengikuti acara dialog publik dengan tema, mewujudkan Lampung sebagai propinsi yang ramah anak dan perempuan.

Sempat terfikir, ada masalah apa sehingga tema ini diangkat? Apakah selama ini Lampung tidak ramah terhadap anak dan perempuan?

Oo, sepertinya latar belakang dari digelarnya acara ini karena di Lampung masih sering terjadi kekerasan terhadap anak dan perempuan. Hal ini berdasarkan data yang diungkap oleh Ibu Dewi Budi Utami, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak propinsi Lampung.

Dalam pemaparannya, sebagai pembicara pertama, Ibu Dewi Budi Utami mengungkapkan, berdasarkan data BPS pada tahun 2016 dari 8.205.141 penduduk Lampung 2.722.910 adalah anak-anak, yang artinya, 30 persen penduduk lampung adalah anak-anak.  b

Berkaitan dengan kasus kekerasan yang terjadi di Lampung hingga September 2017, 64,42 persen korbannya anak-anak, itu yang terdata, bagaimana dengan yang tidak dilaporkan?

Pembicara kedua, Ibu Dewi Arimbi, pengusaha wanita dan praktisi politik, mengutip pepatah Afrika,”Mendidik seorang anak butuh orang sekampung.” Beliau mengartikan, kita tidak bisa mendidik anak sendirian, dibutuhkan kerjasama¬† masyarakat di lingkungannya, juga kebijakan serta fasilitas dari pemerintah. Beliau juga mengatakan bahwa wanita bukan makhluk lemah, bukan sekedar membantu ekonomi keluarga, tetapi bahkan bisa menjadi pencari nafkah utama, menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Pembicara ketiga, Ibu Renvi Liasari, seorang aktivis advokasi perempuan dan anak, menceritakan beberapa kasus yang pernah ditanganinya bersama teman-temannya di NGO.

Walaupun Ibu Dewi Arimbi dan Ibu Renvi Liasari hanya mendapat waktu sepuluh menit untuk pemaparan, karena pengunduran acara pembukaan, yang sedianya dihadiri oleh istri gubernur Lampung, Ridho Ficardo yang berhalangan hadir dan digantikan oleh Ibu Hasiah Bakhtiar, istri wakil gubernur Lampung, sebagai peserta saya cukup puas dengan kesempatan dialog yang diberikan moderator.

Beberapa pertanyaan dan tanggapan disampaikan oleh peserta yang berasal dari berbagai organisasi perempuan dan komunitas. Ada yang menyoroti dari sisi budaya, ekonomi dan fungsi gender.

Saya, sebagai co founder Komunitas Peduli Perempuan dan Anak, KPPA Tunas, yang belum lama hadir, memperkenalkan diri dan menyampaikan gagasan, bagaimana seharusnya kita membahas permasalahan dari berbagai sudut pandang. Ketika kita sibuk membahas korban kekerasan, berarti kita fokus memikirkan akibat. Kalau hanya memikirkan bagaimana mengatasi akibat, tanpa ada tindakan perbaikan pada penyebab timbulnya korban, mmaka korban itu akan terus diproduksi. Energi kita terkuras habis, sedang korban terus bergelimpangan.

Kekerasan terhadap perempuan dan anak, merupakan sebuah permasalahan dari berbagai keprihatinan yang sedang kita alami, yaitu merosotnya akhlak dan etika, berbagai penyakit masyarakat, dan yang sedang marak dibicarakan adalah kasus LGBT.

KPPA Tunas, di awal kiprahnya mengambil porsi memperbaiki salah satu penyebab, yaitu perempuan.

Kenapa perempuan jadi salah satu penyebab, bukankah dia korban?

Sebagian perempuan memang pernah jadi korban, tetapi kalau kita perbaiki kualitas perempuan, maka yang sudah jadi korban akan berusaha bangkit dan yang belum jadi korban bisa mencegahnya.

Apa yang dilakukan KPPA Tunas?

Di awal kiprah, KPPA Tunas fokus pada upaya menjadikan perempuan cerdas, bijak dan bahagia dengan proses edukasi menggunakan beberapa metode dan sarana sesuai dengan kondisi zaman.

Langkah awal adalah dengan memanfaatkan kemudahan teknologi, membentuk grup-grup diskusi menggunakan aplikasi Whatsapp, membuat funpage  KPPA Tunas, blog, yang itu semua untuk mengapresiasi perempuan-perempuan untuk meningkatkan kualitas diri agar dapat menjalankan perannya yang sangat mulia.

Adanya teknologi harusnya mempermudah kita untuk meningkatkan kualitas diri.

Ke depan, KPPA Tunas siap bersinergi dengan berbagai pihak, baik offline maupun online, untuk masa depan perempuan, anak dan generasi, begitulah harapan dengan lahirnya KPPA Tunas: Perempuan Berdaya, Generasi Jaya.

Add Comment