Diskusi AJI : Media Kritis, Pilkada Demokratis

Dalam diskusi yang digelar Aliansi Jurnalis Indepensi, yang bertindak sebagai moderator adalah Padli Ramdan (Ketua AJI Bandarlampung).

Hadir dalam acara yang bertempat di kantor sekretariat AJI itu, dari unsur KPU, perwakilan media cetak dan online, utusan partai politik,  beberapa NGO, blogger, seniman, mahasiswa dan masyarakat umum.

Pembicara pertama, Dra. Handi Mulyaningsih, M.Si. salah satu anggota KPU Lampung berharap media bisa kritis mengawal pilkada, sehingga membantu masyarakat bisa menentukan pilihan dan terselenggaranya pilkada demokratis. Hendaknya media cermat terhadap calon dan timsesnya, bukan hanya yang terkait dengan pelanggaran undang-undang pemilu, juga etika dan sosial.

Selain itu juga diharapkan kritis dalam memilih narasumber, sehingga bisa memberikan pendidikan politik pada masyarakat agar cerdas dalam memilih dalam pemilu.

Pembicara kedua, Fajrun Najah Ahmad , sekum DPD Partai Demokrat Lampung, yang juga jurnalis di media online Harian Fokus, menyampaikan beberapa point, antara lain,

*Media harus menjadi wasit yang adil dalam pilkada.

*Jadilah media yang idealis bisnis, karena pada kenyataannya media sebagai profesi, tetapi seharusnya tetap memiliki sisi idealisme.

*Masing-masing media harus punya kriteria jelas, mana iklan, mana advertorial, mana berita.

*Sosialisasikan program calon, agar masyarakat siapa yang memiliki program yang sesuai dengan kebutuhan daerahnya.

*Sampaikan rekam jejak calon dari kapasitas profesionalisme dan kepemimpinannya, bukan masalah personalnya.

*Kritis dan memberi pandangan/ masukan/solusi bagi para calon.

*Seorang jurnalis dituntut memiliki kecermatan yang lebih tinggi, sehingga tidak sekedar menginformasikan apa yang disampaikan calon dan timsesnya.

*Harusnya media menghindari berita berbau politik yang berefek pada pembunuhan karakter.

Pembicara ketiga, Bang Juwendra, pimred Duajurai.co menyampaikan beberapa point, antara lain:

*Ada 4 fungsi media dalam pilkada:

-Fungsi informasi (pilkada)

-Fungsi sosialisasi (calon)

-Fungsi investigasi, menyampaikan/membuka rekam jejak masing-masing calon, dengan upaya sendiri.

-Fungsi kontrol/mengawasi jalannya proses pilkada di semua sisi.

*Media harus jelas keberpihakan politiknya dalam ruang editorial/ tajuk, tetapi  netral dalam pemberitaan. Seorang pemimpin redaksi harus bisa membuat tajuk/editorial yang baik.

*Jurnalis/ wartawan harus berefleksi, kenapa memilih profesi itu, kenapa bermain media, dan harus memahmi makna profesi yang dipilih.

*Media itu cermin, merefleksikan apa yang ada di depannya, harus sama seperti aslinya, harus jadi cermin yang bersih, agar pantulannya sesuai dengan apa yang dipantulkan.

*Jurnalis harusnya independen, agar profesi dan pribadinya terjaga marwahnya.

Pembicara terakhir, Toni Wijaya, dosen Fisip Unila, menegaskan bahwa:

* Media tidak dilarang berpihak

*Untuk Lampung media lebih ke penghasilan, tidak jelas keberpihakannya.

*Media mainstrem sekarang jauh di bawah sosmed, tingkat kepercayaan masyarakat.

*Masyarakat tahu ada berita pilkada, bukan dari media, tapi dari spanduk/baliho.

*Sebuah hasil penelitian menyatakan bahwa,  75% pemilih menentukan pilihan lebih karena kenal, dari teman, saudara, bukan dari media.

Para peserta antusias menanggapi berbagai tema yang dibicarakan oleh pembicara, salah satunya Bapak Pulung Suwandaru, seorang seniman senior menanggapi, seharusnya media terus mengontrol setelah calon terpilih, seperti misalnya, janji yang pernah diucapkan saat kampanye.

Sebuah tema diskusi yang layak dijadikan konsumsi intelektual yang bergizi, dan satu harapan saya, semakin banyak pihak-pihak media yang kembali kepada idealismenya, bergandengan tangan mewujudkan dalam kerja nyatanya sebagai salah satu edukator masyarakat.

 

 

Add Comment