Festival Sekala Brak & Liwa Fair 2017

29 Juli 2017, sekitar jam setengah sebelas. Kak Ikhsan, owner Penerbit Aura menghubungi via WA, menawari saya untuk ikut terlibat dalam pembuatan buku anak bersama penulis buku anak Izzah Annisa. isinya tentang Lampung Barat dan direncanakan tanggal 1 sd 3 Agustus pergi kesana, bersamaan dengan festival yang akan digelar.

Asyeeeek!

Saya menyatakan siap, walaupun belum izin suami.

Hah!?

Nekad?

Nggak…nggak…Saya, kan kenal banget sama suami, jadi sudah bisa memprediksi jawabannya.

Misalnya beliau tidak berkenan, saya akan berusaha membuatnya ridho dan mengizinkan.

Kalau ternyata nggak berhasil juga?

Ya, saya yang akan ridho membatalkannya, simpel, kan?

Benar, kan?

Setelah jelas apa yang akan saya lakukan, berapa lama, pergi dengan siapa, bagaimana akomodasinya, beliau ridho dan memberikan izin.

Sedih, malam harinya badan terasa tidak nyaman, gejala akan demam. Mungkin efek dari kecapaian, seminggu sebelumnya memang full kegiatan, banyak keluar rumah, sedang besok ada agenda dengan teman-teman blogger.

Dengan berat hati, saya segera membatalkan keikutsertaan dalam kegiatan hari Minggu, 30 Juli, supaya kordinator blogger bisa segera mencarikan pengganti.

Benar!

Keesokan harinya saya demam!

Bagaimana ini?

Saya mencoba menenangkan diri, mengevaluasi yang sudah-sudah, bagaimana pola sakit yang sering saya alami. Sepertinya sudah hafal.

Dipicu kegiatan yang overload, istirahat kurang, asupan gizi terlalaikan, badan lelah, puncaknya demam, kemudian berangsur normal. Dari puncak demam sampai pulih, biasanya berkisar 3 sampai 4 hari.

Bismillah! Semoga ketenangan dapat membantu proses kesembuhan lebih cepat. Ditambah istirahat dan asupan yang memadai, walaupun sulit karena kehilangan selera makan. Saat-saat seperti ini suplemen memainkan perannya, sari kurma + madu, vitamin C dan buah.

Dalam kondisi seperti itu saya berkordinasi intensif dengan Izzah sebagai pimpinan proyek. Apa yang harus saya persiapkan, tugas saya nantinya apa saja, teknisnya seperti apa. Bahasan bagaimana bukunya nanti, belum terlalu detai. Yang penting, kita fokus pada survey untuk setting isi buku.

Tanggal 1 Agustus pagi, disambut dengan pertanyaan suami.

“Umi sudah sehat atau merasa sehat?”

Saya hanya nyengir. Tanpa dijelaskan pun, beliau sudah paham.

“Semoga segera benar-benar sehat, doakan, ya.”

“Aamiin.”

Jam sembilan lewat sedikit, jemputan datang. Langsung berangkat.

Ini perjalanan ketiga saya ke Lampung Barat yang ketiga kalinya. Saya sudah menghubungi Nir, gadis yang pernah rawat inap di rumah saya. Insyaallah, kalau memungkinkan, ingin bersilaturahim ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan yang santai, kami membicarakan tentang buku yang akan ditulis.

Menyenangkan sekali mendapatkan kesempatan belajar hal baru.

Selama ini saya menghasilkan buku-buku parenting, kini berkesempatan membuat buku anak.

Terlalu berbeda, kah?

Tergantung dari sudut mana memandangnya.

Kalau secara global, ya sama saja. Sama-sama menulis, hanya kontennya yang berbeda.

Perbedaan ini yang memotivasi untuk menambah ilmu kepenulisan.

Saya pikir, ilmu bisa dipelajari dengan cara fleksibel. Seperti ilmu kepenulisan, tidak harus ikut kelas menulis, seminar atau workshop. Banyak penulis yang sukses berawal dari otodidak. Dengan mau membuka diri belajar dengan siapapun, insyaallah kita bisa meningkatkan kualitas diri dan lebih produktif dalam berkarya.

Begitu asyiknya ngobrol, sampai saya tidak memperhatikan, di daerah mana kami istirahat untuk makan siang dan sholat dhuhur, sepertinya sudah masuk daerah Bukit Kemuning.

Sampai di Sumberjaya, saya menyarankan istirahat di rest area, sekaligus mengambil gambar dari ketinggian.

Ya, diperbatasan kecamatan Sumberjaya dan kecamatan Way Tenong, ada rest area yang ada patung Bumi Sekala Bekhak, berseberangan jalan dengan masjid indah di atas bukit yang sering jadi tempat mampir para pengendara.

Saya benar-benar menikmati, karena pada kunjungan pertama tidak sesantai ini dan sekedar mampir di masjid. sedang yang sekarang, ada kepentingannya untuk dokumentasi, siapa tahu nanti dibutuhkan dalam proyek buku, atau entah apa. Bahkan, kami menyempatkan diri naik ke puncak bukit Bumi Sekala Brak.

Indahnya alam Lampung Barat!

Menjelang Ashar kami mendekati pusat kota Liwa, tapi diputuskan sebelum ke hotel, mampir ke Kawasan Sekuting terpadu, pusat diselenggarakannya festival Sekala Brak dan Liwa Fair.

 

Sore hari, pengunjung belum terlalu ramai. Sengaja kami melihat-lihat lokasi, sebelum mengikuti acara yang sudah dijadwalkan.

Memasuki gerbang arena pameran, kami disambut indahnya lampion warna warni yang bergelantungan. Dilapangan berdiri panggung besar sebagai pusat kegiatan, di hadapannya terhampar lapangan bersih yang menghubungkan dengan tenda besar. Di bawah tenda tersusun kursi, meja dan lain-lain sesuai kebutuhan acara yang sedang berlangsung di panggung. Di sekeliling lapangan, berjajar tenda-tenda seragam berwarna putih, sebagai stand-stand peserta Liwa Fair. Arena yang begitu tertata rapi, membuat pengunjung betah berlama-lama di sana.

Tak jauh dari lapangan, terlihat masjid megah, sebagai islamic center kota Liwa.

Tidak terlalu lama melihat-lihat, kami segera menuju hotel yang sudah dibooking beberapa hari sebelumnya.

Sempat berulang kali menelpon pemilik hotel, karena kami kesulitan. Alamat tidak sesuai dengan petunjuk GPS.

Setelah jelas, kami segera ke sana.

Memasuki gerbang, ada semacam keraguan. Kemudian Kak Ikhsan menemui pengelola, kami menunggu di parkiran, sudah menurunkan barang dari bagasi.

Kak Ikhsan muncul dan menunjukkan hasil jepretan isi kamar yang akan kami huni, dengan penawaran, kita lihat hotel yang lain dulu, sesuai saran pengelola.

Seperti tidak ada persaingan antar pengelola, justru dengan ramah mereka menunjukkan hotel lain sebagai alternatif.

Di hotel yang ditunjukkan, sepakat kami pilih, tentu dengan pemberitahuan kepada pengelola hotel pertama dan mengucapkan terima kasih atas pengertian dan bantuan. Begitu deh kalau urusan menginap bagi wanita, banyak banget pertimbangannya. Ah, Kak Ikhsan memang pengertian.

Kembali, saya bertemu dengn air yang super dingin. Saya minta izin Izzah, untuk menggunakan air termos jatah minum untuk mandi. Izzah yang baik, tentu mengizinkan, karena tidak merasa perlu minum air dari termos itu.

Setelah sholat maghrib kami keluar, ke pusat kota Liwa, mencari makan malam.

Yes! Sampai juga ke kota yang jadi angan-angan selama ini!

Setelah tengok sana-sini, akhirnya kami memutuskan untuk makan di warung tenda di dekat tugu Ara, pusat kota Liwa.

Wuih! Rame!

Lumayan lama kami menunggu tempat duduk yang bergantian, sambil menunggu Kak Ikhsan membeli pulsa dan sibuk menelpon.

Gerimis halus turun perlahan.

“Kita bungkus aja, makan di hotel?” saya berinisiatif.

Sepakat! Akhirnya kami bawa pulang empat porsi nasi dengan lauk pesanan masing-masing dan dua gelas bandrek yang dibungkus plastik.

Wuih! Rasanya mantabs! Sepertinya besok bakalan balik ke sana, deh.

Harusnya, setelah makan, segera istirahat, karena besok pagi akan mengikuti acara Hippun Adat, tapi…dua wanita menginap, mana bisa tanpa obrolan seru?

Jam 00.00 lewat, belum bisa tidur juga, walaupun sudah saling mengingatkan tidak bicara lagi. Namanya hotel terbuka, suara obrolan supir-supir box, tamu-tamu lain dan pegawai hotel, sampai ke kamar kami.

Bagaimanapun, saya harus tidur! Entah jam berapa terlelap sebentar, dan jam 4 pagi saya terbangun, seperti biasa.

2 Comments

  1. razone August 17, 2017
    • nenysuswati123 August 17, 2017

Add Comment