Firasat

26 Maret 2019

Jam 04.30 grab tetangga sudah menjemput, sesuai pesanan. Saya berpamitan pada suami dan Harish, berangkat ke bandara. Baru beberapa ratus meter, masuk pesan wa dari panitia, menanyakan posisi. Hari ini mendapat amanah, menjadi narasumber di kajian ba’da Dhuhur di masjid Nurul Taqwa, kantor pusat Indosat di Jakarta.

firasat

Kajian Spesial Ba’da Dhuhur di masjid Nurul Taqwa

Jadwal terbang jam 06.10.

Mampir di masjid dekat bandara, sholat subuh. Alhamdulillah, jam 05. 15 sudah check in di bandara Raden Inten II.

Penerbangan sesuai jadwal, sampai di Soetta sebelum jam enam. Segera menjawab pesan panitia, mengabarkan kalau sudah mendarat.

“Apakah ibu keberatan untuk memesan grab dari bandara?”

“Soalnya driver kami belum datang?”

“Jika keberatan, paling lambat jam 8 driver akan menyusul kemungkinan

“Khawatir Ibu nunggu terlalu lama.”

Saya tidak langsung menjawab. Mempertimbangkan beberapa detik. Saat pergi sendiri, yang menjadi pertimbangan adalah tanggung jawab kepada suami, yang memberi izin. Kalau ada masalah, pasti beliau yang paling merasa bersalah, memberi izin istri pergi sendiri.

“Lebih aman, dijemput, tapi kalau memberatkan, gpp, nggrab. Diputuskan saja.” Saya jawab dengan mantap.

Walaupun sudah beberapa kali ke Jakarta, dan sudah mempelajari lokasi dari Google Maps, tapi kan belum pernah masuk lokasinya. Belum pernah ketemu dengan contack person yang berkomunikasi selama ini.

“Baik bu. Insyaallah kita jemput, tapi mohon menunggu kalo tidak keberatan.”

“Gpp, sama-sama nunggu, kan? Hanya beda tempat.”

Benar, acaranya setelah sholat Dzhuhur. Misalnya butuh persiapan, jam 11 sudah di lokasi. Sebelumnya menunggu.

“Mohon maaf Ibu, kami jemput pakai mobil ambulance ZID Indosat, untuk antisipasi kalau ketemu kemacetan,” kata Yosep Suhendar, panitia yang dari awal berkomunikasi.

“Nggak masalah, sama-sama mobil juga.” Saya menjawab, ringan.

Akhirnya, jam 08.40 kami meninggalkan bandara Soetta, langsung menuju lokasi.

Namanya lingkungan perkantoran, dan panitianya laki-laki, jadi ya terkesan agak kaku. Beda di tempat-tempat sebelumnya, walau belum kenal dengan panitia, tapi biasanya heboh dan akrab, karena sama-sama perempuan.

Jam 11 ada sedikit briefing, menyamakan gelombang antara panitia, nara sumber dan moderator yang sempat bikin keder di awal. Ha ha ha, ternyata moderatornya presenter dan ustadz yang sudah punya nama. Sukeri Abdillah, MBA.

Kayaknya salah posisi, deh? Harusnya beliau yang jadi narasumber. Namun beliau sungguh pandai membesarkan hati yang terasa menciut. Biasa, penyakit kambuhan, minder komplek.  Nggak salah juga, kan temanya tentang keluarga awam yang melahirkan para penghafal Al Qur’an. He he he, perlahan, beradaptasi dengan posisi yang diamanahkan. Tanpa beban, karena tidak ada rekayasa atau pencitraan, apa adanya. Ha ha ha, awam kok bangga!

Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Suka dengan cara kerja yang profesional. Tidak memakan waktu dan SDM banyak. Untuk lengkapnya, bisa di tonton di Fp KSI Indosat

Setelah makan siang, saya segera diantar ke bandara. Tentu dengan membawa suvenir dari Indosat.

Firasat

Oleh-oleh : tas, dompet, tempat minum dan kartu perdana.

Jadwal terbang jam 15.50. Kali ini Suhendar tidak ikut, toh hanya mengantarkan sampai bandara.

Karena masih agak lama, perjalanan tidak terburu-buru, sampai saat masuk pintu tol. Seperti ada alarm di hati, tapi saya abaikan, belum yakin.

Saya ingat obrolan saat perjalanan dari Soeta. Ketika saya tanya perbedaan jarak ke Soetta dan ke Halim, beliau sempat mengatakan,”Kalau ke Halim lewat tol, sayang, baru masuk sebentar, terus keluar.”

Perjalanan berlanjut, masih dengan ngobrol tentang anak, sampai mata saya membaca petunjuk arah di pintu tol berikutnya, loooh?

“Pak, ini mau ke Cengkareng?”

“Iya, kenapa Ustadzah?” Reflek, driver, Pak Hkim, memperlambat laju mobil.

“Kita ke Halim, Pak. Afwan, saya nggak ngomong, saya pikir sudah tahu.”

Benar! Sama sekali tidak terpikir bahwa beliau tidak tahu kalau tiket saya naik pesawat dari Halim Perdana Kusuma. Saya pikir sudah diberi tahu Suhendar, yang memesan tiket.

Sigap, beliau mengalihkan arah, untung pas ada jalan keluar tol. Terpaksa melawan arus di bawah tol, hanya beberapa meter.

“Penerbangan jam berapa, Ustadzah?”

“15.50,” saya jawab dengan sedikit tegang.

“Bukan 14.50, kan.”

“14.50 harus sudah cek in.”

“Insyaallah terkejar.”

Saya tidak berani mengajaknya ngobrol lagi. Beneran merasakan naik ambulance. Sirine dinyalakan, kadang membunyikan klakson dengan suara khasnya jika di depan ada kendaraan yang menghalangi dan selalu menggunakan jalur darurat jika ada.

Dalam hati saya berbisik,”Maafkan ya, para pengguna jalan yang lain, bukan mau menipu, tapi ini benar-benar darurat. Panjang, kan urusannya, jika tertinggal pesawat?”

Agak lega saat membaca petunjuk jalan, arah ke bandara Halim. Saya memantau google maps, berapa menit lagi bisa sampai. Lega, saat masuk lokasi, jam menunjukkan pukul 14.55.

Alhamdulillah. Kepulangan dengan sedikit drama, batin saya, bahkan sempat saya buat status di fb, tapi segera saya hapus karena ditegur salah satu teman. Tanpa sadar, saya menggunakan latar belakang orang berjemur di pantai.

Jam 16 lebih, kami menaiki pesawat. Mesin sudah siap, tapi tiba-tiba ada pengumuman dari pilot, bahwa penumpang dimohon bersabar sebentar, sekitar 10-12 menit, karena ada sedikit masalah dokumen pesawat. Tambahan sedikit drama.

Entah jam berapa pesawat take off.

Hingga ada pengumuman, sebentar lagi pesawat akan mendarat, penumpang bersiap sesuai petunjuk.

Heran! Kenapa pemandangan darat menghilang. Saya duduk di pinggir, jadi tahu kondisi di luar pesawat. Terasa pesawat menabrak awan tebal, terlihat mendung. Saya duduk paling depan. Memperhatikan seorang pramugari yang duduk di bagian depan, menghadap penumpang. Berulang kali menerima informasi melalui telpon dinding. Saya curiga, pasti ada yang tidak beres. Bagusnya, sang pramugari tidak menampakkan ekspresi panik, walaupun tegang, pasti ada terlihat.

Akhirnya, pilot mengumumkan bahwa kondisi cuaca tidak memungkinkan pesawat mendarat, solusinya, perjalanan dialihkan ke Palembang dan mendarat sementara di bandara Sultan Badaruddin II, Palembang, diperkirakan pukul 18.40, sambil menunggu perkembangan cuaca. Hmm. Saya menghitung perbekalan di dalam tas. Tidak membawa pakaian ganti, kecuali pakaian dalam. Sempat terpikir, kalau harus bermalam di bandara, bagaimana? Saya tidak ada persiapan? Segera saya abaikan, hal-hal yang berpotensi membuat gelisah.

“Ya Allah, Engkau Yang Maha menguasai seluruh makhluk, mohon, lindungi kami. Izinkan kami kembali ke pelukan keluarga dengan selamat.”

Apa lagi yang bisa dilakukan penumpang kecuali mengikuti arahan awak pesawat dan berdoa? Segala kemungkinan bisa terjadi, sesuai kehendak-Nya. Istighfar tiada putus. Bukankah ampunan Allah yang sangat kita harapkan untuk situasi terburuk dalam kehidupan?

Alhamdulillah, dalam situasi seperti itu, Allah memberikan ketenangan pada saya. Bisa jadi, itu efek, sepanjang perjalanan, saya membaca dzikir Al-Ma’tsurot Kubro. Hanya terlintas, bagaimana yang menunggu di rumah, terutama suami dan Harish? Saya belum bisa memberi kabar, sedang perhitungan di awal, akan sampai rumah sekitar jam lima sore.

Setelah mendarat, saya segera mengirim pesan via WA di grup keluarga.

“Umi sudah mendarat, tapi…di sini.”

firasat

Bandara Sultan Badaruddin II, Palembang

Suami segera menelpon, tapi tidak saya angkat. Segera sholat, karena tidak tahu, sampai kapan transit di sini. Selesai sholat, terdengar pengumuman, segera kembali ke pesawat. Sebelum mematikan tab, saya sempatkan mengirim pesan.

“Mau mendarat di Branti nggak bisa, cuaca buruk, terus ke Palembang, ini sudah di pesawat, mau terbang lagi, semoga nggak apa apa.”😘

Bismillah. Penerbangan diperkirakan sekitar 40 menit.

Penerbangan malam. Dingin. Bersyukur membawa jaket. Alhamdulillah masih ada snack dan minuman, untuk menjaga kondisi. Saat dingin meningkat, perut mulai terasa mengeras, kembung. Segera saya oles dengan krem penghangat, di bagian perut dan tengkuk. Saat pergi sendiri, hampir tidak berharap pada pihak lain, kecuali Allah. Saa berpikir, masing-masing tentu sedang sibuk dengan dirinya.

Walau terlihat sangat berhati-hati, Alhamdulillah, pilot berhasil mendaratkan pesawat dengan mulus. Cuaca hujan, tapi tidak terlalu deras. Petugas bandara menyambut kami dengan payung, masing-masing satu.

Apresiasi untuk Citylink dengan layanan terbaiknya.

Saya duduk sebentar di ruang tunggu bagasi, walaupun tidak membawa barang di bagasi. Membuka tab.

“Alhamdulillah, Umi sudah sampai Branti. Gimana selanjutnya?”

“Nggrab aja.”

Ok. Suami sudah memberi petunjuk.

Jam sembilan malam, saya pulang diantar grab.

Pintu rumah segera terbuka, saat mobil berhenti di depan rumah. Segera muncul Harish dan suami, dengan wajah yang sulit dideskripsikan. Segera suami mengambil foto berdua dan dikirim ke grup keluarga.

***

Cerita suami sebelum tidur.

Malam, sebelum keberangkatan saya, suami berulang kali bangun. Mungkin khawatir kesiangan, pikirnya, karena saya harus berangkat ke bandara jam 04.30.

Saat saya berpamitan dan grab yang membawa saya berangkat, perasaannya tidak karuan. Seakan melihat saya untuk terakhir kalinya. Selalu memantau wa, karena saya selalu memberi kabar saat berganti posisi.

Jam 13.48, suami mengirim foto saya saat pergi ke Way Kambas, di grup keluarga. Saya heran, karena tidak ada kaitannya dengan chatt sebelum dan sesudahnya, tapi tidak saya tanyakan.

Menurut pengakuannya, seharian gelisah. Bahkan sempat terpikir, siapa yang akan menggantikan, kalau saya tidak ada?

Ya Allah! Astaghfirullah.

Hmm, suami memang jujur dan polos. wk wk wk.

Tambah gelisah lagi, saat diperkirakan harusnya sudah sampai, kok belum ada kabar.

Kata Harish, setiap ada suara mobil dari kejauhan, suami langsung membuka pintu, melihat ke jalan depan rumah. Cuaca memang sedang hujan deras. Sholat Ashar, Maghrib dan Isya, tidak ke masjid. Dua agenda pengajian, dibatalkan, setelah mendengar kabar, saya mendarat di Palembang.

Sholat Isya sambil menangis. Baru kali ini merasakan ketakutan kehilangan yang luar biasa. Bahkan, kalau masih bisa terhubung, beliau akan melarang saya ikut terbang lagi. Nunggu di Palembang, entah menginap di hotel atau menghubungi teman-teman yang ada di Palembang.

Artinya, keputusan saya untuk tidak intens berkomunikasi, ada baiknya. Supaya saya tetap tenang. Yang di rumah juga bersungguh-sungguh berdoa. Itu hadiah dari Allah, untuk merasakan kedekatan, ketergantungan dan berharap hanya pada-Nya.

Dan satu lagi, gimana gitu rasanya, ada orang yang takut kehilangan. Ups!

Alhamdulillah, apapun, selama dilakukan dalam rangka menunaikan amanah yang tidak bermaksiat kepada-Nya, dalam amar ma’ruf nahi munkar, semoga Allah meridhoi.

Firasat itu alarm, bukan untuk menghentikan kebaikan, tetapi untuk semakin banyak berdoa dan bermohon kebaikan kepada Allah. Semua ada dalam genggaman-Nya, maka mintalah kepada-Nya. Dalam hal apapun!

Hari ini istirahat, besok, jadwal ke Jogja dan…dan…dan. Mohon doanya, ya, teman-teman.

14 Comments

  1. desma Maret 27, 2019
    • nenysuswati123 Maret 27, 2019
  2. Rika Widiastuti Altair Maret 27, 2019
    • nenysuswati123 Maret 27, 2019
  3. Tia Meirizta Maret 27, 2019
    • nenysuswati123 Juni 11, 2019
  4. Wahyuningsih Maret 27, 2019
    • nenysuswati123 Juni 11, 2019
  5. Fara Maret 27, 2019
    • nenysuswati123 Juni 11, 2019
  6. Rinda Maret 28, 2019
    • nenysuswati123 Juni 11, 2019
  7. Fatiamuna Maret 31, 2019
    • nenysuswati123 Juni 11, 2019

Add Comment