Gerakan Lampung Membaca

 

Tidak dapat dipungkiri, saya sangat antusias saat bertemu dengan orang cerdas, terlepas dari perbedaan pemikiran.

Dari mana tahu seseorang itu cerdas?

Bagi saya simpel, untuk menilai seseorang itu lumayn cerdas. Biasanya bicaranya lancar, argumentatif, solutif, percaya diri, kritis dan idealis. Bukan berarti yang pendiam otomatis tidak cerdas,lho, tapi rasanya kurang menggairahkan.

Kalau ada yang beda cara menilai kecerdasan seseorang, nggak masalah. Mungkin ini termasuk selera pribadi.

Alhamdulillah, hari ini berkesempatan mengikuti acara pencanangan Gerakan Lampung Membaca. Salah satu nara sumbernya memiliki kriteria cerdas versi saya, Najwa Shihab, duta baca Indonesia. Selain cerdas, beliau juga cantik dan populer. Wajar kalau itu menjadi daya sedot yang luar biasa untuk mendatangkan peserta.

Saya tidak bisa memperkirakan, berapa ribu peserta yang hadir, tapi mau tidak mau harus diakui, bahwa penarik masa di acara hari ini yang utama adalah hadirnya Najwa Shihab.

Dari mana hal itu saya simpulkan?

Pertama, saat Najwa Shihab datang bersama istri gubernur Lampung, yang mendapat predikat duta baca Lampung, peserta yang didominasi pemuda, mahasiswa dan pelajar tersebut berteriak histeris.

Kedua, saat tokoh dan narasumber dihadirkan ke panggung atau memberi sambutan, peserta tidak antusias. Berbeda saat Najwa yang tampil,wowww! Bisa dibayangkan situasi jumpa fans, kan? Bagusnya, di bagian depan duduk para pejabat, sehingga fans Najwa tidak meraksek ke depan.

Beruntung, saya dan teman-teman komunitas pegiat literasi mendapatkan tempat duduk tak jauh dari panggung, sehingga agak leluasa untuk mengambil gambar, dengan memanfaat kesempatan untuk para fotografer.

Dalam sambutannya, kepala Perpustakaan Daerah dan Kearsipan propinsi Lampung, Ibu  Herlina Warganegara, MM. mengatakan bahwa dalam rangka hari Kunjung Perpustakaan dan Giat Membaca, Perpusda, Pemerintah Daerah dan pegiat literasi,mencanangkan Gerakan Lampung Membaca dengan tema Lampung Cerdas.

Beberapa upaya telah dilakukan perpusda, antara lain membuat surat edaran untuk aparat desa, agar alokasi dana desa ada yang diperuntukkan pengembangan perpustaan desa, juga mengadakan mobil perpustakaan keliling ke desa, lembaga pemasyarakatan, sekolah dan freeday car.

Bapak Muhammad Syarif Bando, kepala Perpusnas mengatakan bahwa perpusnas meregulasi perpustakaan dari tingkat pusat hingga desa. Perpustakaan menjadi wajib di setiap level. Sedih saat dikatakan bahwa minat baca bangsa Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang diteliti, sedangkan Indonesia paling banyak memiliki aksara. Logikanya, nenek moyang kita adalah para pembaca.

Beliau mengingatkan, orang-orang besar dunia adalah pembaca, seperti Mahatma Ghandi, Bung Karno, Hatta, Hamka, dll. Sesungguhnya kekuatan terdahsyat adalah kemampuan berpikir, yang itu akan terasah dengan banyak membaca.

Gubernur Lampung, Bapak Ridho Ficardo, merencanakan membangun perpustakaan terbaik di Indonesia dengan fasilitas yang membuat nyaman pengunjung, di tempat yang strategis, dekat dengan penyelenggara pendidikan dan mudah dijangkau, di tahun anggaran 2018. Rencana di sekitaran jalan Zainal Abidin. Juga diharapkan, perpustakaan bisa buka sampai jam dua dini hari, untuk melayani mahasiswa yang sedang mengerjakan tugasnya.

Sedangkan Bapak Dedi, selaku ketua DPRD Lampung, siap mendukung rencana-rencana yang akan mencerdaskan Lampung ke depan.

Saatnya duta baca, Najwa Shihab bicara, yang disambut teriakan histeris pengunjung, terutama para pelajar.

Menyikapi diangkatnya sebagai duta baca, Najwa mengatakan, hal itu merupakan sebuah tugas sekaligus kecintaan.

Menurutnya, masalah bangsa Indonesia bukan pada minat baca yang kurang, tetapi akses yang minim, sehingga muncullah angka urutan minat baca dunia yang sebenarnya membuatnya pesimis sebagai duta baca. Tetapi dia yakin, dengan gerakan bersama, legislatif yang punya wewenang membuat undang-undang, pemerintah yang memiliki aparat, perpustakaan sebagai regulator, pegiat literasi sebagai ujung tombak dan duta baca sebagai provokator, masalah itu bisa teratasi.

Bagaimana membangkitkan minat membaca? Najwa menjawab:

Pertama, harus ada dorongan dari dalam diri sendiri, yang ini akan muncul jika mendapat dukungan dan berawal dari keluarga. Anak-anak yang berasal dari keluarga pembaca akan suka membaca sebelum pandai mengeja.

Kedua, jadikan membaca sebagai rutinitas, bagian dari agenda harian. Jika tak bisa sekaligus, bisa dicil, misal pagi 5 menit, siang 5 menit, sore 5 menit, malam 5 menit.

Ketiga, yakinkan diri bahwa investasi dalam pendidikan akan memberi keuntungan maksimal, menghabiskan uang di otak tidak akan ada yang mencuri.

Beberapa alasan agar kita suka membaca:

*Membaca bisa membuat hidup lebih berkualitas.

*Menurut hasil penelitian: membaca 6 menit bisa menurunkan detak jantung, sehingga bisa mencegah stress dan pikun, berbeda halnya dengan menonton.

*Di Yunani kuno, setiap perpustakaan bertuliskan”Tempat untuk Membahagiakan Jiwa”

*Di zaman banjir berita hoax seperti sekarang ini, membaca melatih kita menganalisa, mencerna dan memilih, mana-mana yang layak untuk dipercaya.

Najwa juga berpesan, jangan membatasi diri dalam memilih bacaan. Mulailah dengan yang disukai, untuk memudahkan jatuh cinta pada aktivitas membaca. Kalau suka novel, mulailah dari situ, atau komik, dsb. Membaca juga tidak harus buku. Manfaatkan gawai untuk mencerdaskan diri dengan banyak membaca, entah itu buku elektronik atau web dan blog.

Nara sumber terakhir, Hasan Ashari, pemuda pegiat literasi, yang mampu memanfaatkan media menjaring teman-teman yang peduli terhadap upaya pengadaan perpustakaan untuk masyarakat yang jauh aksesnya untuk mendapatkan bahan bacaan. Saat ini telah bergabung lebih dari 300 relawan dalam Komunitas Pustaka Bergerak Lampung.

Acara meriah hari ini diakhiri dengan bagi-bagi doorprice berupa sepeda dari gubernur Lampung. Juga sedekah buku untuk masyarakat yang jauh dari perkotaan. Beberapa buku penulis Lampung, termasuk buku Menuju Keluarga Hafidzul Qur’an, dihadiahkan kepada duta baca, Najwa Shihab sebagai kenangan. Semoga sempat dibaca.

Semoga pencanangan Gerakan Lampung Membaca ini memotivasi seluruh unsur masyarakat untuk lebih memperhatikan dan bersama-sama berupaya meningkatkan aktivitas baca, terutama anak-anak dan remaja, yang semakin mengkhawatirkan dengan kecanduan gawainya.

2 Comments

  1. Ranger Kimi Oktober 1, 2017
    • nenysuswati123 Oktober 1, 2017

Add Comment