Gharar

Berikut adalah karya seorang mahasiswa, sebagai tugas dari kampusnya, tanpa edit dari admin. Hanya ditambah gambar sebagai pemanis.

 

Naik Angkot kan gatau ongkosya! Gharar dong?

Oleh : Muhammad Farhan Izzuddin – Mahasiswa STEI SEBI

gharar, angkot

Salah satu angkutan kota di Bandarlampung

Penah naik angkot? Atau kendaraan umum semacamnya? Angkot adalah alternatif ketika akan menuju suatu tempat namun tak memiliki kendaraan. Pak supir akan mengantar ke arah tujuan sesuai dengan arahnya dengan tarif sesuai dimana penumpang turun.

 

Memang sih, di zaman sekarang tuh udah jarang yang namanya Angkot, yang ada juga ge Gojek, Grab, Uber, dll. Namun yang unik dalam naik Angkot ini adalah kebiasaan masyarakat disekitar kita tidak langsung membayar angkot, melainkan dibayar ketika mereka turun. Dan yang lebih uniknya adalah, bagi para pendatang dari luar kota, ketika naik angkot itu tidak mengetahui tarifnya. Wew.

 

Jadi, Sebenarnya akad apakah naik angkot tersebut? Ini menjadi pertanyaan saya sendiri sebagai penulis. Hehe. Melihat dari segi transaksinya, menggunakan fasilitas umum seperti angkot ini adalah masuk kedalam model transaksi Ijarah, karena termasuk dalam jasa sewa, sewa tenaga dari supir, sewa kendaraan, dll. Nahhh, angkot kan dikategorikan sebagai transaksi sewa jasa mengantarkan, tadi kalo dalam fikih kan namanya ijarah. Syarat upah yg jadi kewajiban penumpang itu yg pertama, fee/harga tersebut diketahui baik nominalnya atau pun referensinya. Makanya tidak diperkenankan menyewa jasa tertentu dengan upah/harga yg belom diketahui. Kedua, upah harus sesuai kesepakatan antara si penumpang sama penjual jasanya, intinya disini sama sama ridho. Jadi harom dong??. Et, gak sampe situ penjelasannya.

 

Ketika penumpang naik angkot tanpa adanya akad dan kemudian bayar setelah mereka turun, maka hal tersebut tidak termasuk akad apapun. Melainkan hanya pembayaran ongkos (ujroh) menurut satu pendapat. Ketika naik angkot disertai ucapan akad sewa dan tidak dibayar sewaktu naik, dengan kata lain akan dibayar ketika turun, maka itu termasuk akad ijaroh yang tidak sah (Fasidah). Oleh karena itu, ketika naik angkot jika bayar saat turun, maka ketika naik tidak perlu ucapan transaksi. Ketika ada ucapan, maka harus bayar saat itu juga.

Tapi kalo keadaanya kita gatau harga jasanya gtu brarti termasuk Gharar dong? Nah, ternyata ada Gharar yang diperbolehkan. Contohnya seperti perihal Angkot ini. Kok bisa?

Meskipun pada dasarnya Gharar dilarang, tetapi dalam beberapa kondisi tertentu horor diperbolehkan. Contohnya adalah Gharar sedikit Jika terjadi error dalam suatu akad akan tetapi Gharar yang terjadi itu sedikit dan tidak diperhitungkan, Maka hal itu tidak menjadi masalah dan tidak haram.

Ibnul Qoyyim Al Jauziyah dalam kitab Zaadul Ma’ad jilid 5 halaman 728, menuturkan bahwa tidak setiap Gharar menyebabkan keharaman. Jika sedikit atau tidak bisa dihindari atau tidak menyebabkan akad menjadi tidak sah… Beberapa dengan Gharar yang banyak dan bisa dihindari yaitu jenis-jenis jual beli yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam atau praktik serupa. Maka inilah yang merusak keabsahan suatu akad.

Jadi, yang diharamkan adalah Gharar yang banyak jika Ghararnya sedikit, tidak haram. tetapi kemudian timbul pertanyaan, apa yang membedakan banyak dengan sedikit kok? Adakah ukurannya?

Ad Dasuqi salah seorang ulama mazhab Maliki telah menjawab pertanyaan tersebut. Menurutnya, “Ukuran yang sedikit itu adalah yang dimaklumi oleh orang-orang pada umumnya”. Jadi Gharar sedikit itu adalah Gharar yang sudah dimaklumi adanya dalam suatu tradisi pasar di mana orang-orang menganggapnya hal yang biasa dan tidak ada yang merasa dirugikan. Sebagai contoh lainnya yaitu WC dengan harga masuknya biasanya dipatok Rp. 2.000,- sekali masuk. Di sini ada Gharar. Sebab setiap orang berbeda-beda dalam pemakaian air di WC itu. Ada yang habis 2 gayung ada yang habis ber gayung-gayung. Akan tetapi harganya sama tetap Rp. 2.000,- tetapi ini sudah lumrah adanya, penyedia WC pun tidak merasa dirugikan. Sebab se-boros apapun orang buang hajat tidak akan habis 1 Sumur. Hehe.

Kesimpulan yang bisa penulis ambil dari peristiwa Angkot ini adalah, Sebenernya nih yak, ‘Urf kita dalam penggunaan Angkot ini masih tergolong Gharar. Cuman, dengan penjelasan tadi, bisa disimpulkan penggunakan Angkot ini adalah Gharar yang sedikit atau Gharar yang dimaklumi oleh orang-orang pada umumnya. Jadi masih diperbolehkan J. Waallahu’alam

Add Comment