Gramedia Writers and Riders Forum Hari Kedua

foto bersama Dewi

Foto bersama Dewi Noviami, Komite Buku Nasional.

Aku mencintai kamu lebih dari yang lain, karena kamu penulis.(Pramudya Ananta Toer)

8 April 2018, Gramedia Writers and Riders Forum hari kedua.

Setelah mandi dan selesai membereskan semua urusan barang bawaan, kami berkumpul di halaman belakang yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan, sarapan sambil meneruskan obrolan tadi malam.

Diskusi yang asyik antara 3 penulis, walaupun saya sedikit canggung di awal karena merasa belum jadi penulis buku anak, tetapi setelah tahu lebih banyak, ternyata Mbak Irma juga menulis novel dan buku parenting. Mbak Irma mengeluarkan beberapa buku dan kami mendiskusikannya.

Jam 9 kami diantar ke lokasi, karena Mbak Irma ada agenda lain, tidak bisa ikut GWRF hari kedua.

Saya sudah berencana, hari ini tidak full mengikuti sesi kelas, ingin mengeksplore perpustakaan nasional yang belum begitu lama diresmikan ini, soalnya terlihat keren banget dan mumpung ada di sini.

ruang utama bangunan tua perpusnas

Memasuki ruangan bangunan terdepan di perpusnas, kita akan di sambut pemandangan ini

Saya menyempatkan mengambil foto-foto di bangunan depan, perpustakaan asli sebelum gedung 24 lantai dibangun. Terkesan remang-remang, ditambah koleksi yang ada di sana temanya sejarah membaca. Beberapa naskah kuno terpajang di etalase.

perpustakaan bergerak

Di ruangan ini digambarkan semangat pegiat literasi, mengelola perpustakaan bergerak dari zaman ke zaman

Di sisi kanan ada ruangan Peristiwa Membaca dan Perpustakaan Bergerak.

Saya tidak sempat memperhatikan detail isi ruangan ini, karena waktu sudah hampir jam sepuluh, kelas pertama akan segera mulai.

Kami registrasi untuk mendapatkan tiket kelas hari ini, sekaligus 3 sesi.

Sebelum masuk kelas, saya sempatkan menjelajah lantai 2 perpusnas. Di lantai ini pusat administrasi perpustakaan. Tampak petunjuk arah sesuai dengan keperluan pengunjung. Hanya sekilas, kemudian saya langsung ke lantai 4 menggunakan lift.

Books Fair

Books Fair, All Around The World bersama Dewi Noviami

Kelas pertama, Books Fair All Around The World, dengan nara sumber Dewi Noviami dari Komite Buku Nasional.

Di kelas ini peserta dikenalkan dengan lembaga Komite Buku Nasional yang dibentuk untuk mendukung kemajuan literasi Indonesia terutama keikutsertaannya pada pameran buku kelas dunia.

Dewi banyak menceritakan pengalamannya selama ini bekerja di KBN dan perjuangan timnya dalam pameran-pameran buku Internasional. Denga slide dan video yang ditunjukkan, saya merasa ikut dalam perjalanannya.

Kondisi literasi Indonesia yang menyedihkan di mata dunia, menjadi motivasi kuat untuk terus membangkitkannya. Indonesia tidak kekurangan tokoh literasi yang diakui dunia, sebagai contoh, quote Pramudya Ananta Toer di atas menjadi display back ground di pameran buku Internasional di Frankfurt, Jerman tahun 2015.

Salah satu contoh hasil yang diperoleh mengikuti pameran buku Internasional, lebih dari 1000 buku Indonesia terjual hak penerjemahannya ke dalam bahasa asing, seperti Inggris, Jepang, Mandarin, Arab dan Perancis.

Ada 3 bidang di KBN, yaitu:

-Bidang Produksi menangani program dukungan dana penerjemahan dan program dukungan sastra (residensi penulis)

-Bidang promosi, menangami pameran buku dan humas.

-Bidang pengembangan menangani riset dan menyelenggarakan workshop, seminar dan diskusi.

Setiap buku bisa diikutkan pameran Internasional dengan mengikuti prosedur dan memenuhi syarat dan ketentuan di KBN. Jika ingin tahu lebih banyak tentang KBN, kita bisa mengikuti media sosialnya.

Fiuh! Saya puas banget dengan kelas ini.

Di kantin, sambil makan kami mengatur rencana. Izzah dan Syahid akan jalan-jalan ke Monas, saya melanjutkan kelas kedua. Dari pagi saya chattingan dengan Khairani Pilliang yang akan ikut sesi ketiga, kami janjian bertemu. Selama ini kenal di fb.

penulis milenia

Tiga nara sumber penulis milenia: Rain Chudori, Almira Bastari, Elvira natali

Kemudian saya ke ruang serbaguna, tempat kelas Menulis untuk Pembaca Milenia. Karena terlambat, di panggung sudah tampil MC dan 3 orang nara sumber yang masih muda-muda, Rain Chudori, Almira Bastari, Elvira Natali. Satu pun karya dari ketiga penulis ini belum saya baca.

Terasa sekali, seolah saya memasuki dunia lain. Dengan narasumber usia muda, seusia anak saya. Bahasa dan gaya bicaranya khas anak milenia. Mengingat rencana eksplore perpusnas, saya tidak berlama-lama di kelas ini, melipir keluar saat sesi tanya jawab.

lantai 3

Salah satu sisi di lantai 3

Menuju ke lantai 3, ingin melihat apa yang ada di sana, menggunakan eskalator.

Lantai 3 dipilih panitia untuk klinik editor, ups! Naskah saya ada di loker. Sambil melihat-lihat ruangan, saya masih menimbang-nimbang, apakah contoh naskah yang saya bawa akan dikonsultasikan atau dibawa pulang lagi. Atas saran Izzah, akhirnya saya daftar ke panitia untuk ikut klinik editor, kemudian saya ke lantai satu mengambil naskah.

Tidk terlalu lama menunggu, no urut saya dipanggil.

Saya menemui seorang editor muda di meja yang ditunjukkan panitia. Setelah membaca naskah yang saya baca, beberapa pertanyaan diajukan, saya jawab dan langsung terjadi dialog tentang apa yang saya tulis. Saya tidak terlalu berharap naskah saya langsung diterima, mengingat begitu banyak naskah yang masuk ke panitia, tetapi masukan-masukan dari editor profesional yang saya dapatkan tentu sangat berguna bagi langkah kepenulisan saya ke depannya.

Setelah mengikuti klinik editor, saya keliling lantai tiga, menengok sisi yang tidak digunakan untuk konsultasi naskah. Hanya sekilas, kemudian saya ke lantai 5.

serasa terjebak di ruang mewah, di lantai 5

Di lantai 5 terasa sepi, hanya saya sendiri. Ruangan kosong. Di sini pusat perkantoran, wajar kalau tidak ada manusia, kan hari Minggu. Ada ruang kerja kepala perpusna, kepala kerja deputi 1, ruang tata usaha dan jajarannya.

Hiih! Kok perasaan nggak enak, ya? Nunggu lift, tidak ada yang segera terbuka pintunya, padahal sudah saya pencet tombolnya. Padahal saya sudah berniat, mana yang duluan terbuka, saya akan ikut, entah ke atas atau ke bawah. Mau pakai tangga darurat, kragu-ragu karena sendirian.

ramai

Alhamdulillah, akhirnya ada lift yang berhenti, saya segera masuk, di dalamnya ada dua orang gadis. Saya pencet tombol ke lantai 8, anehnya lewat tanpa berhenti. Yang menyala malah tombol 21, padahal saya tanya kedua gadis tadi tidak menuju lantai 21, dan terasa cepat sekali, tiba-tiba pintu sudah terbuka di lantai 21. Karena merasa tidak nyaman, kami bertiga keluar semua di lantai 21. Alhamdulillah, di sini ramai, karena ternyata memang di sini tempatnya ruang diskusi, ruang baca koleksi dan ruang layanan monograf terbuka.

Beberapa gadis sedang menunggu lift, tapi belum menentukan akan ke lantai berapa. Ada yang mengajak ke lantai 24, 23, tapi saya ingat, belum sholat. Saya putuskan ke lantai 6, sholat kemudian istirahat, sambil menunggu ketemu Khairani.

Khairani Pilliang

Senangnya bertemu teman fb yang lama dirindukan

Selesai sholat Ashar, saya ke lantai satu menjumpai Khairani, sekalian registrasi pindah ke kelas puisi yang menghadirkan master puisi Indonesia. Sayang, ternyata sudah penuh. Rupanya peminat puisi sangat banyak, terbukti ruang auditorium di lantai 2 dan balkon di lantai tiga sudah dipesan semua. Tapi saya tetap ikut Khairani, masuk ke balkon auditoriun di lantai 3. Acara belum dimulai. Saat MC muncul di panggung, saya pamit untuk keluar, tidak nyaman, merasa mengambil hak orang lain yang sudah memesan tempat, walaupun saat itu masih terlihat bangku-bangku kosong.

Kembali ke lantai 4 menggunakan eskalator, mengikuti kelas yang sudah saya pesan tiketnya jauh-jauh hari. Alhamdulillah, kelas Jelajahi Dunia dan Tulis Ceritamu baru saja dimulai.

Baiklah, saya cukupkan dulu, tinggal satu tulisan lagi terkait acara Gramedia Writers and Riders Forum yang belum tayang, tunggu ya.

Salam literasi.

Baca juga Tips Memilih Sekolah untuk Anak.

 

One Response

  1. Izzah Annisa Mei 1, 2018

Add Comment