Gramedia Writers and Riders Forum

Gramedia Writers and Riders Forum
Perpusnas 7-8 April 2018

Terkadang malu!

Saya senang ikut acara kepenulisan ataupun yang berkaitan dengan literasi, tetapi rasanya produktivitas belum signifikan.

Entahlah, apakah ukuran saya yang kurang menghargai, merasa sudah banyak mengikuti acara kepenulisan atau ekspektasi kepada diri yang terlalu tinggi? He he he, ukurannya sebatas “apa yang saya rasa”, nggak obyektif banget, kan?

Mungkin itu semua karena faktor umur, dimana saya mulai nyemplung ke dunia kepenulisan baru tahun 2013, di saat usia sudah mencapai 48 tahun.

Mengandalkan  autodidak, sampai dengan tahun 2016 menghasilkan 12 buku antologi, 6 buku solo selfpublishing dan satu buku solo terbit mayor. Selain itu, hingga kini rutin menulis di beberapa blog pribadi, facebook, funpage, plukmee, IG dan tweeter.

Dengan mengikuti acara kepenulisan, bertemu dengan para penulis sukses, tentu memacu adrenalin saya untuk lebih giat menulis. Sayang, saya sering memaafkan diri saat semangat menurun dengan berbagai excuse.

“Ya iyalah, dia masih muda, peluangnya luas, bebannya belum banyak, focus ke nulis, sudah lama dan berpengalaman,dll.”

Kebanyakan mikir dan cari pembenaran, malah nggak nulis-nulis, he he he.

Rambu gedung di lantai 1
perpustakaan Nasional

Alhamdulillah, berkesempatan ikut acara yang digelar oleh Gramedia Grup bertempat di Perpustakaan Nasional pada tanggal 7 dan 8 April 2018.

Acaranya tidak berbayar, hanya melakukan pendaftaran online untuk pemesanan tiket sesuai acara yang dipilih, karena selama dua hari begitu banyak kelas yang dibuka dengan narasumber orang-orang sukses di dunia literasi.

Sengaja saya mengisi semua sesi selama dua hari, mengingat banyaknya kelas menarik yang disediakan, sekaligus efektivitas waktu. Sayang, kan, jauh-jauh datang dari Lampung dengan biaya yang lumayan untuk ukuran kantong saya dan badan yang lumayan cape?

Saya pergi dengan Izzah Annisa, penulis buku anak yang karyanya sudah berderet di rak toko buku, teman blogger sekaligus salah satu motivator menulis bagi saya.

Kami berangkat menggunakan pesawat dengan harga tiket yang tidak terlalu jauh berbeda dibandingkan dengan tiket Damri, dengan harapan agar tidak terlalu cape dan bisa berangkat pagi, jadi cukup menginap semalam di Jakarta. Pulangnya kami memilih Damri, karena sudah tidak memburu waktu dan poolnya di stasiun Gambir, tidak jauh dari perpusnas. Izzah mengajak Syahid anaknya, dengan rencana mengajaknya jalan-jalan.

Alhamdulillah, sesuai rencana, perjalanan berangkat nyaris mulus sempurna. Kami menyewa grabcar untuk sampai di lokasi, yang kalau dilihat bangunan terdepan layaknya seperti rumah tua. Petugas menyambut ramah dengan alat detektor untuk semua barang bawaan.

Salah satu sudut di lantai 1 Perpusnas

Setelah melewati ruangan di bangunan depan,  kami langsung ke gedung perpusnas dan segera registrasi. Di halaman perpustakaan sedang berlangsung acara pembukaan, berhubung banyak yang harus kami bereskan dengan barang bawaan, kami segera masuk ke gedung perpustakaan.

Panitia penyelenggara GWRF dan petugas perpusnas dengan  ramah menyambut dan memberi petunjuk kemana kami bisa menitipkan barang bawaan hingga sore nanti.

Di ruangan penitipan barang, kami mendapatkan kunci loker bernomor yang dibagikan petugas, saya segera mencari loker sesuai nomor dan memasukkan barang-barang yang sekiranya tidak dibutuhkan selama acara berlangsung.

Kami menuju lantai 4, tempat kelas Meet with The Editors diselenggarakan. Heran! Saya pikir kami datang terlambat, karena sudah setengah sepuluh, seingat saya acara dari jam 09.00 sd 12.00? Panitia, pun belum ada?

“Ibu mau ke ruang apa?” seorang petugas perpustakaan menghampiri.

“Ruang serbaguna, Pak, tapi kok masih sepi?”

“Mulai jam sepuluh, Bu.”

Ups! He he he, iya, saya cek di tiket. Ternyata jam sembilan pembukaan GWRF.

Perpustakaan buku anak di lantai 7 Perpusnas

“Kita jalan-jalan dulu, yuk?” ajak Izzah.

“Ibu mau ke ruang apa?” tanya petugas.

“Perpustakaan anak di lantai berapa, Pak?”

“Di lantai 7, Bu.”

Sip! Lumayan setengah jam, kami ke perpustakaan anak dulu.

Kami menggunakan lift.

Wow!

Salah satu sudut di perpus buku anak

Ruangan yang sangat nyaman dan membuat betah.  Terasa lapang, sebagian sisi berdinding kaca dan bisa melihat ke luar gedung,  anak-anak bebas bergerak, dengan beberapa bantal besar dan sofa yang sangat bikin pewe (posisi wueeenak)

Koleksi buku tidak terlalu banyak, jika dibandingkan dengan luas ruangan dan perlengkapan lainnya  lainnya, berbeda sekali dengan perpustakaan yang selama ini saya kunjungi, lebih banyak rak buku disbanding tempat duduk untuk membaca.

“Hampir jam sepuluh,” saya mengingatkan Izzah dan Syahid untuk segera turun ke lantai empat.

Kami segera turun menuju ruang serbaguna di lantai empat. Terlhat peserta sudah memenuhi tiga baris kursi, moderator dan narasumber sudah di depan, bersiap-siap naik ke panggung.

Sekian dulu, insyaallah nanti disambung dengan cerita di kelas Meet with The Editors, ya.

Add Comment