Hippun Adat Sekala Brak

2 Agustus 2017

Jam 06.30 kami sudah turun dari lantai dua dan berkumpul di rumah makan milik hotel. Memang ada fasilitas sarapan, walaupun jam segitu belum ada tamu lain yang makan.

Nasi uduk!

Ha ha, jadi ingat rumah! Kalau tidak sempat buat sarapan, beli nasi uduk jadi alternatif.

Ternyata memang khas Lampung, menu sarapan yang paling sering dijumpai, nasi uduk, lontong sayur, bubur ayam dan gorengan.

Di jadwal acara, Hippun Adat digelar jam 08.30 sd 14.00, tapi karena belum tahu lokasi, maka setelah sarapan kami segera berangkat, setelah bertanya kepada salah satu pegawai hotel.

Namanya orang asing, walaupun sudah bertanya, menyalakan GPS, masih saja tidak segera menemukan lokasinya. Setelah bertanya kepada salah satu penduduk, baru kami menemukan. Wajar, lokasinya bukan di pinggir jalan raya, seperti kawasan Sekuting Terpadu.

Memang, di pinggir jalan arah masuk gang, terpasang benner besar. Tapi yaaa, gitu deh. Penumpang di belakang kurang bisa membantu.

Sampai di lokasi, kami melihat panitia sedang bersiap-siap. Sebagian merapikan karpet alas tenda, kursi-kursi, ada juga yang menguji coba sound system.

Izzah berjalan lebih dulu menemui salah seorang di sana, yang kemudian menunjuk seorang pria yang sedang duduk di barisan kursi yang sudah rapi.

Saya?

Sempat bengong! Belum tahu mau melakukan apa, tapi segera sadar dan menyusul Izzah menemui pria tersebut. Saya belum tahu informasi apa yang sudah di dapat Izzah sebelumnya, tapi berusaha menyesuaikan diri mengikuti mendengarkan percakapannya sebagai pembuka, sampai kemudian Izzah mengenalkan saya.

Hmm, sepertinya masih ada gap yang harus segera dihilangkan. Maklumlah, tuan rumah mungkin belum siap menerima kami yang tidak tercantum dalam daftar undangan, ha  ha ha, semacam tamu tak diundang.

“Kami berencana menulis buku anak yang mengangkat kearifan lokal, jika berkenan, Hippun Adat akan menjadi salah satu tema yang diangkat.”

Jrenggg!

Setelah jelas, lancarlah komunikasi di antara kami.

Laaah! Izzah malah pamit meninggalkan kami untuk melihat-lihat perangkat Hippun Adat.

Ya, okelah! Diiringi suara sound system yang sedang diselaraskan, wawancara, #eh, obrolan kami lanjutkan. Untuk menyelamatkan informasi yang disampaikan, saya merekamnya, walaupun tidak utuh, karena tidak dari awal. Saat melihat gelagat beliau harus segera bersiap, saya menyodorkan note yang sudah saya buatkan kolom identitas. Hiks! Mungkin tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi?

Beliau pamit dan mempersilakan kami melihat-lihat istana yang sedang disiapkan untuk gelaran Hippun Adat, sebentar lagi.

Saya lirik notes yang sudah diisinya.

Wow! Ternyata saya barusan ngobrol dengan orang kedua di Kepaksian Bejalan Diway.

Nama: Yudistira

Jabatan: Pemapah Dalom

Gelar/Adok: Raja Junjungan Paksi.

Aaah! Sekali lagi saya ketinggalan langkah dengan Izzah, tapi memang seharusnya begitu. Doi sudah punya pengalaman dalam acara adat seperti ini, walaupun tema dan tempatnya berbeda.

Di atas, Izzah sedang bicara dengan seorang pria berusia cukup lanjut, saya sedikit mendengar pembicaraannya, tentang panggilan.

O ow! Tadi kami melakukan pelanggaran dalam panggilan, seharusnya saat kita masuk dalam lingkungan adat tertentu, mengikuti aturan yang diberlakukan. Tapi dimaafkan, maklumlah, belum tahu.

“Abang itu untuk panggilan umum, tapi dalam adat, semua memangginya Atin.”

Hi hi hi, iya, tadi kami bicara dengan Raja Junjungan Paksi, enak banget nyebut Bang, Abang! Jadi ingat abang somay, abang bakso.

Maafkan kami, ya, Atin.

Di atas, kami menemui beberapa ibu sedang menyiapkan hidangan. Kami tidak ingin mengganggu, dengan banyak bertanya, cukup mengangguk dan tersenyum.  Jepret sana- sini, mengumpulkan gambar sebisa mungkin. Untuk keterangan, nanti bisa menyusul.

Saat hampir selesai, Atin muncul, mengajak kami sarapan!

Waduh! Diajak sarapan Pemapah Dalom? Gimana, nih?

“Oh, iya, terimakasih, tadi sudah.” Spontan kami menjawab serempak, sambil undur diri keluar dari ruangan mewah itu. Ya nggak enak, lah! Siapa kami tiba-tiba makan bareng pejabat adat?

Entahlah! Masuk ke area ini seperti terpapar aura kerajaan,merasa diri rakyat jelata, padahal selama ini memandang siapapun dengan derajat yang sama.

Kami turun, melanjutkan melihat-lihat sekitar bangunan istana yang baru selesai dipugar, setelah rusak terkena gempa beberapa tahun lalu.

Di bawah, kami bergabung dengan teman-teman blogger yang mulai berdatangan, ngobrol sedikit dengan panitia yang bertugas di dinas pariwisata.

Ah! Melihat dandanan yang hadir, saya jadi ingat saat persiapan keberangkatan. Izzah mengatakan, kita harus menyesuaikan diri dari sisi pakaian, laki-laki memakai sarung yang dipakai selutut dan kopiah, wanita menggunakan sarung batik khas yang biasa digunakan ibu-ibu.

Dua hari sebelum keberangkatan, saya sudah menemukan sarung batik yang saya gunakan setelah melahirkan, jadi masih bagus karena jarang dipakai. Herannya, saat packing, sarung itu entah kemana nyelipnya. Untunglah masih menyimpan rok panjang bermotif batik.

Senang banget melihat pakaian adat yang digunakan, bagus-bagus. Tapi saya jarang menemukan wanita ada di bagian utama perhelatan itu.

Bagaimana Hippun Adat berlangsung?

Tunggu kelanjutannya, ya.

 

Add Comment