Ibu, Pintu Surga yang Paling Tengah

Selama ini, sering mendengar perbincangan dan bahasan tentang keutamaan orang tua, salah satunya pengibaratan orang tua sebagai pintu surga. Sebelumnya belum tertarik mencari, sumber hadits yang membahas masalah itu, sampai ada amanah untuk menjadi pembicara di Lampung Barat dalam rangka hari Ibu sekaligus memperingati maulid Nabi.

Alhamdulillah, di salah satu blog saya dapatkan. Semoga tidak ada cacat dalam pemuatan, mengingat saya belum punya kitab hadits Tirmidzi dan Ibnu Majah untuk merujuk sumber langsungnya.

Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, engkau bisa sia-siakan pintu itu atau engkau bisa menjaganya.

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dan lagi, ini bukan tentang ibadah mahdhoh yang kita harus berhati-hati sekali terhadap tambahan sekecil apapun dari yang dicontohkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

 

Sekitar 300 orang wanita berstatus ibu berkumpul untuk silaturahim dan mendengarkan apa yang akan saya sampaikan.

Saya terharu setiap bertemu dengan ibu-ibu sepuh yang masih rajin datang ke majelis ilmu. Ingat dengan ibu saya yang usianya hampir 90 tahun, yang sekarang sudah tidak bisa ikut pengajian lagi, karena biasanya kalau pengajian di kampung, jalan kaki ke mushola. Ibu masih kuat jalan, tapi tidak bisa agak jauh, apalagi kalau siang hari. Kalau pagi, setelah subuh masih bisa jalan santai. Belum lagi pendengarannya yang sudah jauh berkurang, yang tentu saja menjadi penghambat saat mendengarkan tausiyah atau ngobrol dengan teman-temannya. Alhamdulillah, ibu masih bisa membaca Al Qur’an dan buku-buku serta mendengarkan berita atau ceramah di radio, walaupun dengan volume maksimal, sehingga di masa tuanya masih bisa beraktivitas yang menjadi penyenang hati dan bermanfaat.

Lebih terharu lagi mengingat apa yang akan saya sampaikan, merekalah yang  akan dibicarakan.

Mereka pintu-pintu surga bagi anak-anaknya. Dan bagaimanakah mereka? Terawat dengan baik ataukah termasuk yang disia-siakan.

Ya Allah, saya berusaha menahan hati untuk tidak menangis selama menyampaikan materi. Saya takut membayangkan apa yang mereka rasakan mengingat generasi anak-anak kita, generasi muda zaman ini, sebagian memprihatinkan dari sisi akhlak.

Saya tidak bisa memberikan data tentang hal itu, hanya sekedar meyimpulkan dari apa yang saya perhatikan di lingkungan rumah, saat bertamu, tontonan yang sering diberitakan dan bahasa pergaulan di medsos. Saya selalu berharap, generasi berakhlak akan semakin terus bertambah.

Begitu istimewanya kedudukan orang tua sehingga mendapatkan kemuliaan sebagai salah satu pintu/ sarana masuk surganya seorang anak. Sebenarnya, hal itu sangat wajar mengingat begitu besar peran orang tua terhadap kesuksesan hidup anak, baik di dunia maupun akhirat.

Tanpa mengabaikan peran ayah, mari kita bahas sebab-sebab yang melayakkan seorang ibu mendapat kemuliaaan sebagai pintu surga bagi anak-anaknya.

  1. Mengandung

Hanya seorang ibu yang bisa mengandung, karena  begitulah sunatullahnya, pembagian perannya. Hanya ibu yang pernah mengandung yang bisa memahami bagaimana beratnya tugas seorang ibu dari sisi ini.

 

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

(Terjemah QS. Luqman : 14)

 

Dalam keadaan lemah yang bertambah lemah!

Saya jadi ingat, entah pada kehamilan yang keberapa. Suatu hari saya dan suami harus pergi ke sebuah acara, dalam pandangannya saya begitu lelah, sehingga terucap,”Kalau saya bisa menggantikan membawa kandungan itu.”

Saya mentertawakan ucapannya dan segera menguat-nguatkan diri.

“Ahai! Mana bisa! Ini bagian saya, ibunya!”

 

  1. Melahirkan

Ini hal kedua yang tidak bisa digantikan oleh siapapun, walau kini sudah bisa dibantu dengan kemajuan teknologi. Tapi tetap saja, proses melahirkan tidak bisa dihapuskan atau dilompati untuk lahirnya generasi penerus.

Ketika suami menunggui saya melahirkan anak pertama yang atas takdir Allah titipan itu diambil kembali, dia berjanji pada dirinya untuk tidak marah berlebihan apalagi mendholimi saya, istrinya, ibu anak-anaknya. Dia jadi saksi bagaimana perjuangan seorang ibu untuk menghadirkan keturunan, bertaruh nyawa, seluruh daya dan doa dikerahkan, mengharap pertolongan Allah.

  1. Menyusui

Mungkin, ada yang beranggapan bahwa menyusui adalah memenuhi kebutuhan asupan makanan bayi. Kalau semata-mata itu, tidak harus ibunya juga bisa melakukan, seperti memberi susu formula atau susu sapi/kambing kepada bayi, atau susu ibu yang diperas dan diberikan dengan botol atau sendok oleh orang lain. Tetapi kalau yang dimaksud menyusui adalah memberikan air susu ibu secara langsung kepada bayi, dengan kelembutan, belaian, komunikasi penuh kasih sayang, maka hal ini tidak bisa digantikan oleh orang lain. Missal digantikan berarti statusnya berubah, menyusu kepada ibu susu, bukan ibu kandungnya.

 

  1. Merawat

Dalam situasi tertentu, mungkin seorang ibu bisa saja memutus rantai tugasnya hanya sampai melahirkan, setelahnya dilakukan oleh orang lain, tetapi dalam kondisi biasa, normal, merawat bayi dilakukan oleh ibu yang melahirkannya. Hampir tidak ada bayi yang sehat selamanya, tenang tanpa rewel sedikitpun, tidur teratur dan tidak mengganngu ritme tidur, istirahat atau aktivitas ibu lainnya. Terutama tiga bulan pertama pasca melahirkan, seorang ibu butuh masa adaptasi yang tidak mudah dan tidak sama lamanya dengan situasi yang baru, dengan hadirnya seorang bayi dengan segala urusannya. Itu semua butuh pengorbanan waktu, tenaga dan kesabaran. Dan semuanya akan bernilai pahala selama dilakukan dengan ikhlas, yang itu semua melayakkannya jadi pintu yang menyeleksi siapa-siapa yang layak memasukinya.

 

  1. Mendidik

Mengandung membutuhkan waktu sekitar 9 bulan. Melahirkan, rata-rata merasakan deritanya sekitar satu hari. Menyusui, sekitar 2 tahun.

Mendidik? Butuh waktu berapa lama untuk mendidik seorang anak?

Jika kita mengacu pada metode pendidikan sahabat Ali bin Abi Thalib, yang membagi fase pendidikan dengan 3 x 7 tahun, berarti proses pendidikan itu berlangsung setidaknya 21 tahun!

Yang pasti, dibutuhkan kesabaran untuk menjalani prosesnya, selain juga keimanan dan wawasan keilmuan untuk menghasilkan anak didik yang berkualitas..

Hmm, apakah masih butuh alasan lain untuk memperkuat kelayakan posisi seorang ibu sebagai pintu surga bagi anak-anaknya?

 

Lalu, bagaimana cara merawat pintu surga ini agar berkenan membukakan daunnya untuk kita?

 

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia

(Terjemah QS. Al Isro’ : 23)

  1. Berbuat baik, sebaik-baiknya!

Apa ukuran sebaik-baiknya? Secara subyektif, posisikan diri sebagai mereka dan perlakuan seperti apa yang kita harapkan!

  1. Jangan mengatakan “AH!”

Dalam ayat ini ditekankan jangan mengatakan “Ah” ketika orang tua dalam perawatan anaknya, karena biasanya ujian kesabaran adalah saat orang tua dalam kondisi lemah, sakit, bahkan pikun, benar-benar menguji kesabaran bagi anak yang merawatnya. Dan lagi, dalam kondisi seperti itu orang tua biasanya sangat sensitif karena merasa menjadi manusia tidak berguna dan merepotkan anaknya. Berbeda saat orang tua masih sehat, berkemampuan mencukupi kebutuhan dan menolong dirinya sendiri, mereka sangat memaklumi sikap-sikap anaknya yang kurang berkenan, karena pada dasarnya orang tua sangat pemaaf terhadap anak-anaknya.

  1. Jangan membentak!

Mengatakan “Ah!” saja tidak diperkenankan, apalagi membentak yang jelas-jelas akan melukai perasaan orang tua, setidak peka apapun mereka.

 

  1. Ucapkanlah perkataan yang mulia.

Yang seperti apa?

Lembut dan menyenangkan hatinya. Tidak semua hal perlu disampaikan pada orang tua. Filter kabar mana yang perlu disampaikan, mana yang sebaiknya disimpan sendiri. Buat di masa tuanya mereka merasakan ketenangan dan ridho terhadap anak yang selama ini telah diberikan pengorbanan seluruh apa yang bisa dikorbankannya sebagai orang tua. Jadikan suasana akhir kehidupannya sebagai kehidupan yang baik dan membahagiakannya, sehingga husnul khotimah diberikan Allah untuk beliau.

 

Lalu, sebagai orang tua, terutama sebagai ibu, bagaimana caranya menjadi pintu surga yang mendapat perawatan yang baik?

 

  1. Ridho diciptakan sebagai seorang wanita

Apakah ada yang tidak ridho diciptakan sebagai wanita?

Ada! Yaitu wanita-wanita yang sering mengeluh tentang hal-hal yang berkaitan dengan ciri khas sebagai wanita, seperti hal-hal yang terkait dengan haid, mengandung, melahirkan , menyusui, merawat anak dan beberapa batasan-batasan Allah, seperti ketentuan wanita/ istri dipimpin laki-laki/suami.

  1. Ikhlash menjalani peran-perannya

Tidak ringan memang, menjalani peran-peran sebagai seorang ibu. Ketidak ikhlasan itu biasanya berdampak pada sikap-sikap saat menjalaninya. Melakukannya dengan terpaksa, asal-asalan dan ingin segera selesai dan terbebas dari hal-hal tersebut.

  1. Taat kepada Allah

Untuk terdaftar sebagai calon penduduk surga, salah satu syaratnya adalah beriman dan taat kepada Allah, bagaimana halnya menjadi pintu surga yang menjadi sarana masuknya anak ke dalam surga?

  1. Mendidik anak agar menjadi sholeh

Hanya anak-anak sholeh yang berakhlak yang mampu merawat orang tuanya dengan kelembutan, keikhlasan dan kasih sayang. Anak sholeh tidak jadi dengan sendirinya. Ada proses panjang yang harus dilaluinya untuk mencapai tahapan itu, yaitu proses pendidikan. Pihak utama yang mendapat amanah untuk itu adalah orang tuanya.

 

Sebagian peserta tampak mengusap matanya dengan tissue. Entah apa yang menyelinap dalam hatinya sehingga tak mampu membendung mutiara-mutiara bening itu. Lebih-lebih saat seorang ibu bertanya tentang nasib anak-anak yang sudah baligh tapi masih meninggalkan sholat.

Mendidik dan membiasakan anak untuk tidak meninggalkan sholat membutuhkan proses yang panjang, lama dan konsisten. Dengan mencontohkan, mengajak, mengingatkan, dsb.

Orang tua kadang bangga saat menunjukkan anak-anak balitanya yang sudah bisa sholat, tetapi karena kurang konsisten dalam membimbingnya, sering terjadi justru ketika mereka remaja, terbawa pergaulan yang tidak sehat, begitu mudahnya meninggalkan sholat.

Saya tekankan! Orang tua harus lebih kasihan anaknya disiksa dan mendapat hukuman di akhirat karena meninggalkan sholat dari pada kasihan saat anak kecapean, ngantuk atau tidak tahan dengan bantahan mereka saat diingatkan untuk sholat. Rasa kasihan itu seharusnya membuat orang tua berjuang lebih keras lagi untuk menjaga anak-anaknya konsisten menegakkan sholat.

Itu untuk urusan sholat, bagaimana dengan yang lainnya?

Saat kita membicarakannya, barulah tersadar, bahwa banyak yang terlalaikan dalam urusan penting hidup kita. Urusan yang berkaitan dengan kehidupan akhir nan abadi.

Kemana kita selama ini? Apa yang lebih menyibukkan dibanding urusan maha penting, keselamatan kehidupan abadi kita nanti?

Allah, beri kami kesempatan menuntaskan tugas-tugas penting ini.

 

Add Comment