Jangan Meninggalkan Generasi Lemah

وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (Surat An-Nisa’, Ayat 9)

Mungkin setiap kita berbeda dalam menanggapi ayat ini.

Sebagian beranggapan, supaya tidak meninggalkan anak-anak yang lemah, orang tua harus mencukupi kebutuhan mereka. Semakin banyak anak, semakin besar kebutuhan yang harus dipenuhi, logikanya begitu.

Pemikiran seperti itu menjadi salah satu alasan, banyak keluarga mengatur kelahiran dan jumlah anak. Berusaha untuk memiliki anak sedikit, supaya kebutuhan dan pendidikannya tercukupi. Dengan demikian, mereka akan menjadi anak-anak yang sejahtera.

Ada lagi orang tua yang sibuk mempersiapkan finansial, sebagai warisan bagi anak-anaknya.

Namun, ada juga yang memikirkan dari sisi yang berbeda. Hak Allah sepenuhnya akan memberikan berapa anak untuknya. Sebagai orang tua, berikhtiar menunaikan amanahnya.

Kapan kita mati, hanya Allah yang tahu.

Sebagai orang tua, tentunya kita ingin meninggalkan anak-anak dalam kondisi mereka sudah dewasa dan siap hidup mandiri.

Namun kita menyadari sepenuhnya bahwa itu adalah hak Allah, kehendak Allah.

Ada baiknya kita berpikir dan mengantisipasi jangan sampai hal itu terjadi, meninggalkan anak yang lemah.

Sebagai manusia kita bisa bahkan harus berikhtiar bagaimana caranya, kapanpun Allah menghendaki ajal kita, sudah ada upaya maksimal kita untuk mempersiapkan anak.

Saya sepakat dengan ulama yang berpendapat, hendaknya kita tidak meninggalkan generasi yang lemah dalam akidah, ibadah, ilmu dan ekonomi.

Dalam mempersiapkan anak yang tidak lemah, kita harus berusaha mendidik mereka untuk siap menghadapi kehidupan secara mandiri, tidak terlalu bergantung kepada orang lain. Menjadi kuat, survive menjalani kehidupannya.

Selain menanamkan pendidikan keimanan, membiasakan ibada, mencintai ilmu dengan menjadi pembelajar mandiri, mereka juga harus memiliki ketrampilan hidup dasar, untuk menolong dirinya.

Salah satu tuntunan Rasulullah saw. untuk hal ini yang tidak termasuk perbuatan sia-sia selain dzikrullah adalah melatih kuda, berenang dan berlatih memanah

Apakah hal ini masih sesuai dengan zaman?

Apakah kita memahami hadis ini persis seperti teksnya?

Bagaimana jika kita tidak punya kemampuan untuk mewujudkan itu?

Saya pribadi memahami, kalau memang memungkinkan tentu sangat dianjurkan kita bisa mengajarkan tiga keterampilan hidup itu kepada anak. Namun jika memang belum atau tidak memungkinkan, setidaknya kita memahaminya secara maknawi/substantif.

Jadi di sini ada tiga unsur yang harus kita tanamkan dan ajarkan kepada anak, yang mana nantinya anak itu memiliki jasmani yang kuat, terampil berkendaraan dan menggunakan senjata.

jangan tinggalkan generasi lemah

Di usia TK, Harish mulai belajar berenang

  1. Berenang

Berenang adalah aktivitas yang melibatkan hampir seluruh anggota tubuh. Titik tekannya melatih kekuatan dan keterampilan tubuh. Yang menjadi tujuan adalah kekuatan jasmani.

Hadits itu diriwayatkan oleh Jabir bin Abdilah dan berbunyi: “Segala sesuatu yang tidak mengandung dzikrullah (menyebut nama Allah) merupakan perbuatan yang sia-sia, senda gurau dan permainan belaka; kecuali empat perkara, yaitu: senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah dan mengajarkan renang.”

Saya belum mencari tahu, bagaimana kondisi Madinah saat Nabi bersabda tentang berenang. Bagaimana melaksanakan sabdanya? Di sungai, danau atau laut? Mungkin berbeda ketika Umar bin Khattab yang menganjurkannya, karena saat itu wilayah Islam sudah sangat luas dan berbagai kondisi daerah. Ada daratan dan perairan.

Umar bin Khattab berkata, “Ajarilah anak-anakmu berkuda, berenang, dan memanah.”

Berikut salah satu artikel yang bagus untuk dicermati terkait dengan dalil tsb.  >>>https://ibtimes.id/memanah-renang-dan-berkuda-bukan-sunnah/

Saat ini untuk berenang, tidak semua orang bisa dengan mudah mendapatkan tempat berenang. Jika di desa tidak semua desa punya sungai. Jika di kota maka harus mengeluarkan biaya untuk bisa berenang di sarana yang tersedia, kolam renang.

Jika belum bisa menyelenggarakan belajar berenang, kita bisa melakukan hal lain yang substansinya sama: badan sehat, kuat dan trengginas. Bisa dengan berlari, melompat, memanjat, olah fisik, bela diri, dll.

jangan tinggalkan generasi lemah

Harish, di @sigerhorse Bandarlampung, bukan hanya menunggang, tapi juga ikut serta memberi makan, membersihkan kandang dan memandikan. katanya supaya dikenali kuda

  1. Menunggang Kuda

Menunggang kuda substansinya menguasai kendaraan. Terlepas dari kelebihan kuda dibanding jenis kendaraan lainnya, kita fokuskan untuk satu hal ini. Hidup kita sangat banyak terbantu jika kita menguasai kendaraan.

Saat ini, selain sulit mendapatkan tempat berlatih berkuda, seandainya ada, perlu menyiapkan biaya. Apalagi kalau harus punya kuda sendiri.

Bertahap. Anak-anak diberi kesempatan untuk belajar bersepeda, sesuai ukuran badannya. Sepeda relatif mudah didapat dan terjangkau harganya.

jangan tinggalkan generasi lemah

Usia 10 tahun belum dapat izin punya SIM, namun secara fisik Harish sudah mampu. Dengan aturan di tempat yang tidak membahayakan diri dan orang lain

Kemudian meningkat belajar mengendarai motor. Orang tua harus bisa menyelaraskan antara kemampuan anak sesuai pertumbuhan fisik dan keberaniannya, juga tentang tanggung jawab terhadap peraturan yang harus ditaati.

Tidak ada larangan anak bisa mengendarai motor sebelum usia boleh memiliki SIM.

Kondisi orang berbeda-beda.

Di daerah pegunungan, ketrampilan mengendarai motor sangat dibutuhkan. Tanpa ribet dengan urusan SIM. Berbeda dengan di kota, kadang kepemilikan SIM tidak selaras dengan rasa tanggung jawab dipemiliknya.

Ketika anak sudah bisa mengendarai motor, suatu saat kondisi darurat, bisa sangat menolong.

Batasan kepemilikan SIM adalah usia dan memenuhi syarat yang ditentukan pihak kepolisian. Namun ketrampilan, sangat terkait dengan ketekunan berlatih.

Bersyukur kalau berkesempatan bisa mengendarai kuda. Sebagai kendaraan bernyawa, tentu ada hubungan emosional yang terjalin dengan penunggangnya.

 

jangan tinggalkan generasi lemah

Latihannya dalam pengawasan dan bimbingan. Sambil diselaraskan dengan kesiapan mental dan sikap bertanggung jawab

  1. Memanah

Memanah membutuhkan sarana sebagai senjata. Mungkin Rasulullah Saw. Menghendaki umatnya  bisa menguasai dan terampil menggunakan senjata. Yang tujuannya adalah agar bisa membela diri dan mengatasi gangguan dari pihak lain.

Anak panah termasuk senjata tajam, kan? Sama halnya dengan pisau.

Membahayakan jika di tangan orang yang tidak paham dan tidak bertanggung jawab.

Sejak kecil anak kita kenalkan dengan senjata tajam dan fungsinya secara bertahap. Bukan hanya senjata tajam, apapun yang berpotensi mendatangkan bahaya.

Di awal mungkin kita kenalkan potongan kuku. Selanjutnya pisau, dan lain-lain.

Selain mengenalkan dan membimbing cara menggunakannya, juga manfaat dan bahayanya.

Untuk memanah, minimal membutuhkan busur dan anak panah. Kalau di kampung, mungkin kita bisa membuatnya sendiri. Andainya pun tidak bisa membuat atau tidak menemukan busur dan anak panah ada permainan yang mirip dari sisi keterampilan, menyerang sasaran dari jarak jauh, yaitu ketapel.

Kalau di kota kita harus mencari tempat untuk berlatih dan menyewa atau membeli busur dan anak panah, jika mampu, bisa memilikinya.

Saat bertemu kesempatan, ajarkan memanah. Banyak unsur pendidikan penting yang bisa didapatkan dengan belajar memanah, selain mahir menggunakannya sebagai senjata untuk membela diri.

Mari siapkan generasi kuat, pemimpin dunia yang diridhoi Allah.

Baca juga tips mendidik anak di masa pandemi

4 Comments

  1. Emmy Herlina Juni 27, 2020
    • nenysuswati123 Juli 3, 2020
  2. Naqiyyah Syam Juni 28, 2020
    • nenysuswati123 Juli 3, 2020

Add Comment