Jumpa Penulis 2017

14 Oktober 2017

Siapa Winda?

Saya kenal Winda belum sampai seminggu, itu juga lewat hanya chatt WA.

Hal ini terkait dengan pepatah,”Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.”

Tanggal 14 ada acara di Cilegon, tanggal 15 di Jakarta, tanggung banget, kan mau pulang ke Lampung dulu setelah dari Cilegon?

Dari awal memantapkan diri ikut acara ini, saya berusaha mencari tempat menginap, mengingat pergi seorang diri dan tidak paham seluk beluk Jakarta.

Beberapa teman menawarkan bantuan, menyediakan rumahnya untuk saya bermalam. Ada yang di Cililitan, Bogor, Bekasi, Cibubur dan semuanya terhitung jauh dari Taman Ismail Marzuki, tempat acara Jumpa Penulis digelar. Seminggu sebelum hari H belum memutuskan, sampai akhirnya Desliyani mengenalkan saya dengan Winda, teman satu grupnya di KMO yang rencananya akan menampungnya menginap setelah acara.

“Wah, bisa gantian dong, Umi nginap malam Minggu, Desli malam Senin.”

Akhirnya, sore itu, saya benar-benar sampai di rumah kosan Winda.

***

Muslimah cantik yang hampir setahun menikah, sedang ditinggal dinas luar oleh suaminya. Dia senang mendapatkan teman, bahkan ceritanya, rumahnya sering dipakai bermalam teman-temannya saat dia sendiri, yah…seperti malam ini.

Alhamdulillah, satu lagi kemudahan dalam perjalanan  ini yang Allah berikan. Di zaman yang katanya serba hedonis ini, ternyata masih sangat banyak orang-orang baik yang tidak segan mengulurkan bantuan, bahkan untuk orang yang baru dikenalnya. Kesamaan hobi telah mempertemukan kami dalam komunitas yang bermanfaat.

Saya benar-benar bisa melepaskan lelah, malam itu.

***

15 Oktober 2017

Jam 06.15 kami keluar dari rumah, menyusuri gang ke halaman masjid Assalafiyah, rencananya memesan grab di sana.

O ow! Ternyata jl. Buncit Raya sedang mendapat giliran Car Free Day.

Kemudian Winda bertanya kepada seorang bapak yang ada di situ, kemana kira-kira kami bisa menunggu grab? Atas petunjuk beliau, kami memasuki salah satu gang menuju sebuah perumahan, di sana kami bisa memesan grab.

Alhamdulillah, walaupun agak lama, tapi kami bisa sampai  tempat tidak terlambat, walaupun rencana jalan-jalan di sekitaran TIM, gagal.

Saya harus menunggu Linda, teman SMA yang menjadi pasangan tiket, untuk regristasi. Tidak lama, sambil menunggu saya sempatkan menyapa beberapa peserta dan foto-foto sekedarnya.

Bahagia jumpa sahabat SMA yang sudah lama tidak berinteraksi, Alhamdulillah, moment acara ini jadi sarananya.

Alhamdulillah, isi acara sesuai dengan ekspektasi, sehingga tidak ada yang mengecewakan.

Hanya saja saya lalai, tidak mempersiapkan bekal untuk makan siang, sedang waktu untuk ishoma hanya 40 menit, bakalan habis kalau saya harus keluar gedung untuk mencari makan siang.

Saya sempatkan menemui Nawan, yang sudah hai…hai di fb  dan tim bazar ANPH. Masyaallah, Nawan sudah menyiapkan hadiah khusus untuk saya dan diserahkan dengan peluk kerinduan, uluh…uluh :v :v.

Setelah sholat saya menyempatkan ngobrol sejenak dengan Linda yang berpamitan pulang lebih dulu karena ada keperluan.

Rasa lapar mencabik-cabik! Alhamdulillah, Desliyani mengulurkan roti tawar dan sari kacang hijau, musik di perut bisa dihentikan karenanya, ditambah sedikit buah anggur sisa bekal perjalanan kemarin.

Untuk isi materi dari setiap pembicara, akan saya ulas di postingan tersendiri, insyaallah.

Selesai acara menjelang maghrib, masalahnya…kami rombongan dari Lampung sudah pesat tiket bus Damri untuk keberangkatan jam 20.00, sedangkan hp yang ada aplikasi go car/ grab lowbatt semua!

Pak Isa Alamsyah, suami Asma Nadia, menawarkan hp-nya untuk memesan grab, sayang, seseorang menghampiri beliau dan menyampaikan keperluannya. Akhirnya, kembali merepotkan Nawan, memesankan grab untuk kami ke station Gambir, dimana Damri menanti.

Kami segera sholat dan mencari makan malam, sebelum bis berangkat.

Alhamdulillah, perjalanan lancar dan cepat sampai Merak untuk segera bertolak menyeberangi selat Sunda menuju Bakauheni.

Add Comment