Kapal Penjara

15 Oktober 2017

Tidak selamanya kita bisa memilih lingkungan di saat tertentu, misalnya ketika  bepergian.

Mungkin kita bisa memilih menggunakan pesawat, tetapi tidak bisa memilih pesawat merk tertentu yang sesuai dengan jadwal penerbangan yang kita pilih.

Mungkin kita bisa memilih kereta api, tetapi tidak juga bisa menentukan kereta atau gerbong yang mana. Kita hanya bisa menggunakan kereta yang sedang dijadwalkan berangkat.

Mungkin kita bisa memilih bis, tetapi tidak bisa memilih no kursi yang kita inginkan, kecuali saat memesan tiket kursi yang kita mau belum dipesan orang lain. Kita juga tidak bisa memilih bis yang mana dengan supir dan kondektur tertentu.

Kita tidak bisa memilih menyeberang laut dengan kapal tertentu yang kita tahu fasilitasnya bagus. Seringkali kita dapat kapal yang hanya menyediakan ruang yang di dalamnya sepanjang perjalanan ada hiburan musik.

Bayangkan!

Dalam kondisi lelah, ngantuk, pusing, harus mendengar musik yang menghentak memekakkan telinga.

Mau apa?

Mengungsi ke mushola…diusir, karena hanya boleh untuk sholat, kasihan, kan?

Mau di geladak?

Dingin malam, angin laut tentu sangat membahayakan untuk tubuh yang sedang kelelahan.

So what?

Protes ke grup band? Mau ngajak perang?

Tidur?…nggak mungkin!

Dzikir?…mungkin hanya sampai tenggorokan.

Tilawah?…kok nggak tega membawa ayat-ayat Allah dalam situasi seperti ini.

Positip thinking!

Mata dilebarkan, mencari obyek unik, lumayan untuk bahan latihan menulis.

Nah!  Itu dia!

Kalau melihat ibu-ibu naik panggung di hajatan untuk unjuk kebolehan menyanyi, sudah biasa! Lha kalau lihat nenek-nenek berjilbab naik panggung di kapal?…ya baru kali ini.

Duh! Nenek siapa ini, ya? Ibu siapa? Istri siapa?

Apa memang penyanyi?

Apa sangat hobi menyanyi sejak kecil?

Yeee! Gimana bisa tahu jawabannya, tanyanya dalam hati! Jiwa investigasinya sedang lesu, terpengaruh suasana.

Ya Allah… Melihat penyanyi-penyanyi yang, maaf, mengumbar aurat sambil berjoget erotis…duh…mau gimana? Mau mengingatkan?… rasanya nggak mungkin, deh! Sedih…pastinya mereka terpaksa memilih profesi ini, karena sulit mendapat penghasilan dengan profesi yang lebih baik. Entah karena tidak ada kesempatan, tidak ada kemampuan atau…tidak ada kemauan?

Nah! Dalam hati lagi, gimana bisa tahu keadaan yang sebenarnya? Uh! Penulis kok malas riset!

Tiba-tiba mata tertuju pada seorang ibu yang menggendong anak usia dua tahunan, terlihat marah menghadapi anaknya yang rewel.

Wajar!

Ngantuk, dikepung suara berisik para penyanyi dangdut yang berkeliling menghampiri para penumpang laki-laki, sambil terus bernyanyi menunggu saweran.

Sebentar kemudian, sianak agak tenang setelah digendang ayahnya dan diajak berjalan-jalan. Si ibu berusaha duduk tenang, beristirahat.

Tiba-tiba, sinenek melambaikan tangan pada para penyanyi, yang segera dihampiri. Dia meminta mereka berjoget di depannya dengan menyanyikan lagu yang diminta.  Sinenek Nampak sangat menikmati, kemudian memberikan saweran kepada penyanyi masing-masing 5 ribu rupiah.

Dari kejauhan sudah mulai nampak kerlip lampu di pantai Bakauheni, tempat kapal segera bersandar.

Alhamdulillah, bebas deh dari kapal penjara.

Add Comment