Keajaiban Doa dalam Perjalanan (2)

“Dia yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. dan hanya kepada-Nyalah  kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS.Al-Mulk:15) (keajaiban doa dalam perjalanan)

9 Desember 2018

Bus berhenti jauh dari titik yang seharusnya. Saat turun, saya mendengar sebagian penumpang menyalahkan, karena saya dianggap tidak bersiap-siap saat mau turun. Ternyata beda persepsi tentang siap-siap turun. Saya merasa sudah bersiap-siap dari Salatiga, tetapi mereka menganggap, siap-siap artinya posisi duduk berpindah mendekati pintu keluar, atau berdiri. Ya, sudah terjadi juga. Saya, kan takut berjalan saat bus sedang berjalan, apalagi dengan membawa barang-barang.

Saya segera turun saat bus berhenti, tak lupa berterimakasih pada kondektur dan supir bus.

Saya perkirakan sekitar 300 m lebih, terlewat dari tempat turun seharusnya. Segera saya menepi, mencari posisi nyaman untuk membuka tab, menghubungi Hany. Ternyata saya berhenti di depan gang, yang di pojokannya ada gubug dan buk/ gorong-gorong. Alhamdulillah, bisa sambil duduk. Saya melihat ada bus kecil yang berhenti di seberang jalan. Hmm, apa naik bus aja, ya, ke pondok? Kalau harus jalan kaki, sepertinya nyerah, deh. Selain jalannya menanjak, juga bawa dua tas yang harus ditenteng. Tapi kalau naik bus, nggak enak juga sama kondekturnya, baru naik sebentar, minta turun. Gimana kalau kondekturnya reseh? Bakalan ngomel-ngomel beliaunya.

Jam 07.07.

Saya segera menelpon Hany. O oww! Ternyata Hany sedang di Solo!

“Lah, gimana ini, Umi kelewatan turunnya?”

“Nggih, sekedap.”

Hany seperti terburu-buru, terdengar ada suara orang sedang bicara, menyampaikan materi.

Saya membuka tab, bermaksud melanjutkan komunikasi dengan chatt wa, sehingga tidak mengganggu. Ha ha ha, ternyataHany sudah mengirim pesan sebelum saya sampai, bahwa dia sedang ikut kajian di Solo. Hmm, jam 7 pagi sudah di Solo, berangkat jam berapa dari Boyolali?

“Umi turunnya kelewatan, kalau jalan, lumayan.”

“Iya, Mi, ini lagi calling-calling, afwan, sekedap, nggih.”

“Mau naik bus, tanggung.”

“Tunggu sebentar, Mi, ini lagi mau dijemput.”

“Siapa yang jemput?”

“Ustadz, nganterin motor. Umi naik motor, sanggup, kan?”

“Astaghfirullah, jadi ngrepotin orang?”

“Insyaallah orangnya mukhlish, Mi.”

Lima menit berlalu, belum ada terlihat orang naik motor menghampiri.

“Ustadze mandi sek, iki.”

“Mboten, Mi, mungkin agak rempong, katanya sudah mau turun.”

“Hany pulang jam berapa?”

“Secepatnya, insyaallah. Umi mau dibelikan apa?”

“Kalau ada optik buka, beli kacamata baca plus 2,5.”

“Nggih, Umi mau dicarikan makanan apa?”

“Apa, ya? Belum ada yang dipengeni.”

Alhamdulillah, sepuluh menit menanti sambil buka medsos, terlihat dua orang masing-masing mengendarai motor, menghampiri.

“Ibunya Ustadzah Aul, nggih?”salah satu bertanya, setelah mrngucap  salam. Saya mengangguk. Salah satu memarkirkan motor, turun dan mempersilakan saya. Hmm, sekalian merepotkan, salah satu bawaan saya serahkan,”Nyuwun tulung.”

Mereka berboncengan, saya bawa motor sendiri.

Asrama terlihat sepi, hari libur, masih pagi, wajar kalau belum dipiketi. Seorang gadis muncul, setelah saya mengucap salam agak keras.

“Husna, wonten?” tanya saya.

“Oh, ibune ustadzah Aul?” Saya mengangguk, tersenyum seramah mungkin.

“Monggo, istirahat dulu,” katanya, mengulurkan tangan, mencium tangan dan menyambut tas untuk dibawakan. Saya diantarkan ke ruang UKS yang luas. Merapikan salah satu tempat tidur dan mempersilakan saya beristirahat.

“Ustadzah Aul sedang ke Solo, Husna sedang latihan longmarch,” jelasnya.

Baiklah, saya harus menunggu Husna atau Hany. Walaupun sudah 3 kali saya bermalam di sini, tetapi tetap saja harus menunggu, khawatir ada peraturan baru terkait tamu, yang mungkin saya belum tahu. Untunglah tadi pagi sudah ke toilet saat beristirahat di Kendal.

Saya rebahan, meluruskan punggung yang hampir semalam dalam posisi duduk. Hmm, nyaman!

***

Ternyata saya tertidur ayam, dan saat Husna dan Syifa datang, saya terbangun. Saat bangkit menyambut salam mereka itulah, terasa kepala agak nggliyeng. Astaghfirullah! Ini alarm, bahwa tubuh harus lebih diperhatikan.

“Sepertinya Umi harus segera makan nasi.”

“Sebentar, Na mintaiin ke Bude, ya?” Husna segera bangkit dan keluar dari kamar.

“Bolehkah?”

“Boleh, kan untuk tamu.”

Sementara Husna ke dapur, saya minum spirulina dan tolak angin.

Husna datang membawa sepiring nasi yang sudah diberi sayur kangkung dan lele goreng tepung. Hanya berhasil makan 3 suap nasi plus lele!

Sambil ngobrol ringan, Husna membuka-buka galeri foto di tab. Sepertinya dia kangen dengan keluarga.

“Husna, sepertinya Umi harus tidur dulu, kepala Umi pusing.”

“Iya, Mi, tidur aja dulu, sambil nunggu Mbak Hany.”

Saat terdengar adzan Dzuhur, saya terbangun. Husna masuk dan berpamitan ke masjid dulu. Kepala terasa berat, saya belum berani bangun, lanjut tidur.

***

Menjelang jam dua, saya bangun. Husna tidak ada, saya bangun dengan berat, menuju pintu. Di koridor ada santri yang sedang mengobrol, saya minta tolong panggilkan Husna.

“Mbak Hany belum pulang?”

“Belum, Mi,” jawab Husna.

“Umi pengen mandi air hangat, gimana?”

“Na nggak tau, minta air hangatnya kemana, nggak enak sama bude.”

“Ya sudah, nunggu Mbak hany aja, Umi mau sholat dulu.”

Bergidik membayangkan menyentuh air di Boyolali dalam kondisi badan seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Biarlah, urusan mandi ditunda dulu, yang penting sekarang sholat, mumpung masih bisa bangun.

Berhati-hati saya ke kamar mandi, membersihkan diri sekedarnya dan berwudhu. Sepertinya sudah tidak sanggup lagi sholat dengan berdiri. Saya mengambil rukhsoh safar, sholat jama’ dan rukhsoh karena sakit, sholat dengan duduk.

Kondisi semakin berat. Husna tidak berhasil mendapatkan kop bekam. Akhirnya, saya minum tolak angin lagi dan makan roti tadi pagi. Saya  memaklumi, kalau Husna tidak banyak membantu, karena keterbatasannya sebagai santri, tapi dari wajahnya, saya memahami perasaan khawatirnya, walau ditegar-tegarkan. Dia memang gigih.

Mual, migren, vertigo. Saat ketiganya hadir bersamaan, itu pertanda bahwa kondisi sangat serius! Parah! La haula walla quwwata illa billah.

Menjelang Ashar, Hany datang dengan segembol bawaan, tapi saya sudah setengah sadar, antara bangun, tidur atau pingsan. Saya berusaha untuk tetap dalam kondisi sadar. Segera memberi komando Hany dan husna untuk melakukan apa yang biasanya suami lakukan saat melakukan terapi. Menunjukkan titik-titik mana yang harus dipijat, diurut atau ditekan. Sedikit meringankan, Hany menawarkan berbagai makanan yang dibawanya. Nasi ayam krispi, nasi padang dengan beragam lauknya, anggur, rambutan dan entah apalagi. Sedih, Hany sudah menyiapkan semua makanan kesukaan, tapi saya tidak bisa memakannya.

“Umi mau makan apa lagi, nanti dicarikan.”

“Umi mual, kalau bisa carikan salak.”

“Sebentar, Hany masih punya salak.”

Sebentar kemudian Hany datang membawa sebuah salak dan sebuah apel malang. Disodorkannya salak yang sudah dikupas. Segigit-dua gigit, salak berhasil masuk lambung.

***

Menjelang maghrib, mual semakin menjadi.

“Umi sepertinya mau muntah.”

“Muntah di sini aja, Mi,” kata Hany, menyiapkan plastik.

“Sebentar, Mi, Na keluar dulu, nanti malah ikut muntah, sekalian mau ke masjid.” Husna segera berlari ke luar ruangan.

Setiap anak beda, Husna mirip saya, nggak bisa lihat orang muntah.

“Nggak jadi, Mi?” tanya Hany, melihat saya tidak berhasil muntah.

“Umi jijik.” Saya meringis. Muntah memang tidak bisa ditahan, tapi mungkin secara psikologis, mindset kita mempengaruhi mekanisme kerja tubuh.

“Halah-halah, muntah- ya muntah aja, Mi.”

“Umi mau sholat, mumpung bisa.”

Saya sudah tidak sanggup bangun, terpaksa tayamum dan sholat dengan berbaring. Astaghfirullah.

“Belum dapat kop bekam?” tanya saya, setelah sholat. Dari tadi mencari pinjaman kop bekam kepada santri belum dapat, kunci peralatan uks dipegang pengelolanya yang tidak menginap di pondok.

“Sebentar, Mi, lagi dianter, ada ustadz yang punya.”

Bahkan, setelah dibekam, pun, kondisi belum membaik. Saya ingat, kondisi seperti ini mirip dengan kejadian tahun lalu, saat saya pulang dari Lampung Barat. Hanya saja kali ini tidak disertai diare dan muntah-muntah, yang akhirnya harus menghabiskan infus 7 botol.

“Coba telpon bidan Dani, kalau bisa Umi minta diinfus.”

Bidan Dani, petugas kesehatan di uks. Saya harus diambil tindakan! Ini bukan di rumah, yang biasanya butuh waktu 2-3 hari untuk bisa pulih. Saya ke sini untuk wawancara, tidak baik juga berlama-lama di sini, tentu merepotkan Hany yang punya amanah di kantor, apalagi sedang penerimaan peserta didik baru. Belum lagi, saya harus segera pulang, urusan evaluasi dan raport santri rumah tahfidz harus diselesaikan sebelum liburan.

Bidan tidak bisa dihubungi, panggilan tidak dijawab. Hany membekam dan memijat-mijat. Saya sudah pasrah, tawakal sepenuhnya. Mual, migren, vertigo dan semua rasa sakit, ada dalam kendali-Nya. Doa dan dzikir tak henti saya lantunkan dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar, dan akhirnya  tertidur.

***

Saat terbangun, saya setengah tidak percaya. Badan terasa begitu ringan. Mual lenyap, migren menghilang, vertigo? Saya coba geleng-gelengkan kepala…ringan, tidak menimbulkan mual, tidak nggliyeng. Ya Allah, Alhamdulillah. Hampir tidak percaya, atau, jangan-jangan…?

Jam dinding menunjukkan angka setengah dua belas malam. Hany tidur di tempat tidur satu lagi. Tampak wajahnya lelah, matanya sembab. Mungkin dia menangis khawatir, bingung, bahkan ketakutan.

“Ya Allah, berkahilah kehidupan Hany, anak sholihah yang berbakti,” saya berbisik dengan berlinang airmata.

Saya belum berani duduk, untungnya semua minuman dan makanan berjajar di sekitar tempat tidur dan terjangkau. Saya memang tidur di kasur tebal, di lantai. Ada teh yang sudah dingin, air zam-zam, sari kacang hijau kotak, nasi ayam krispi, kue-kue, anggur, entah apa lagi. Saya berusaha untuk makan minum perlahan-lahan. Jam dua saya berusaha tidur lagi. setelah perut terasa agak kenyang.

***

Jam 4 saya terbangun saat Husna membuka pintu, memakai mukena dan mendekap Al Qur’an, sepertinya bersiap ke masjid. Kata Hany, Husna terbiasa bangun jam setengah dua, masyaallah.

“Sudah enakan, Mi?” sapanya.

“Alhamdulillah, lumayan, sudah sahur?”

“Sudah.”

Ini hari Senin, kata Hany lagi, Husna rajin puasa Senin Kamis, masyaallah.

“Allah, berkahilah kehidupan Husna, istiqomahkan amalan-amalan baiknya,” doa istimewa untuk Husna dari ibu yang sedang askit dalam perjalanan. Tiga point penting terkabulnya doa: orang tua kepada anaknya, dalam perjalanan dan kondisi sakit.

Belum terdengar adzan, Husna sudah pergi ke masjid, Hany masih lelap dalam tidur lelahnya, dia sedang udzur, biarlah melanjutkan tidurnya. Tak sadar, sayapun tertidur, hingga…terdengar suara aktivitas santri di koridor. Saya tengok jam dinding,… innalillahi, jam setengah enam!

Selalu! Tubuh gemetaran kalau bangun lebih dari jam lima, lewat subuh! Saya berusaha menenangkan diri, tidak tergesa-gesa ke kamar mandi, sambil terus istighfar, perlahan saya bangkit. Pagi yang super dingin dan harus menyentuh air sedingin es! Bismillah!

Jam enam, Hany saya bangunkan.

“Hany, Umi pengen mandi, dari kemarin belum mandi.”

“Sebentar, Mi, nunggu air panas dulu,” jawabnya, tanpa beranjak dari kasur.

“Nggak merebus dulu?”

“Ummah yang merebuskan.” Ummah, istri salah seorang ustadz, yang dekat dengan Hany, juga yang memberi air zamzam, kemarin.

***

10 Desember 2018

Sambil sarapan kami ngobrol, Hany menceritakan bagaimana tadi malam merawat saya dengan deraian airmata dan doa serta dzikir yang tak putus.

Masyaallah…saya sangat memahami perasaannya; ketakutan, khawatir dan entah apalagi. Pasti bayangan yang tidak-tidak menghantui pikirannya.

Suami menanyakan kabar di wag keluarga. Dari kemarin pagi, wa terakhir, saat baru sampai, baru buka lagi hari ini. Entah Hany, apakah ada komunikasi dengan Abinya, selama merawat saya.

***

Alhamdulillah. Urusan wawancara selesai, saya segera konfirmasi agen bus, memastikan no kursi dan jam keberangkatan. Jam 5 sore bus berangkat, setengah jam sebelumnya harus sudah standby di pool, terminal Boyolali.

Masih ada beberapa jam, saya gunakan untuk silaturahim ke rumah Ummah, menerapi Ummi Yuli dan ngobrol dengan Hany dan Husna. Siang hari hujan, sehingga tidak sempat melihat bangunan saung-saung baru di belakang asrama.

Jam tiga sore, pihak agen bus menelpon.

“Ibu, bisakah sampai di pool dalam waktu 40 menit ke depan, diperkirakan bus datang lebih awal.”

Yaaaaah, bubar deh rencana yang sudah di susun, mampir ke optik dan toko oleh-oleh.

Saya bersiap mengemas barang yang tidak banyak. Tas besar saya tinggal, juga baju-baju kotor. Hanya ransel kecil dan tas plastik tenteng yang saya bawa, sebentar lagi toh Hany dan Husna pulang, yang tertinggal bisa dibawa. Andaipun tidak, baju bisa dipakai, ukuran kami sama dan biasa saling pinjam pakaian luar ataupun jilbab.

Hany mencari pinjaman motor untuk mengantarkan saya ke terminal Boyolali. Behh! Agak ngeri-ngeri juga dibonceng Hany. Jalanan basah habis hujan, bus-bus besar bersliweran di jalan raya Solo Semarang itu. Berkali-kali saya harus mengingatkan Hany untuk mengurangi kecepatan, walaupun khawatir juga ketinggalan bus.

Setelah menyelesaikan urusan tiket, bus belum juga terlihat.

“Berapa menit lagi, Mbak?”

“Sekitar lima belas menit, Bu.”

“Han, masih sempat nyari bekal.”

Hany pergi menggunakan motor, saya melihat-lihat snack yang dijual di sekitar agen bus. Walau hanya sebungkus dua bungkus, paling tidak ada bawaan untuk Harish. Hany datang membawa nasi kotak ayam krispi, andalan saya dalam perjalanan. Nyaman di lambung dan mudah memakannya sewaktu-waktu. Kebiasaan makan saya kadang menyulitkan dalam perjalanan, makan sedikit, cepat kenyang tapi cepat lapar.

Jam empat lewat bus datang, Hany memeluk saya lebih lama dari biasa. Entahlah, mungkin kejadian tadi malam masih membayanginya.

Bersambung. Makna Airmata Perempuam

keajaiban doa dalam perjalanan

Pulang dengan bus yang sama, Harapan Jaya

Add Comment