Keajaiban Doa dalam Perjalanan

Sudah seharusnya, setiap perjalanan meninggalkan catatan yang membuat kita lebih mengenal dan dekat kepada Sang Pencipta, salah satunya, keajaiban doa dalam perjalanan.

 Jum’at, 7 Desember 2018.

Tidak bisa tidak, harus ada yang berangkat ke Boyolali, karena wawancara dengan orang tua, merupakan satu-satunya tes yang harus dilalui untuk santri Markaz yang akan mendaftar ke SMATQ Abi Ummi.

Suami tidak bisa, badannya belum fit setelah melakukan perjalanan jauh dan melelahkan di awal Desember, belum lagi tugas yang tidak bisa didelegasikan, menunggu untuk diselesaikan.

Diputuskan saya yang berangkat, sendiri, naik bus. Cek tiket pesawat, sangat mahal. Maklumlah, mepet. Belum lagi memikirkan transportasi dari bandara ke pondok.

Bismillah, ini perjalanan kelima saya, Lampung Boyolali, sekali pesawat, 3 kali menggunakan bus, satu kali bawa mobil rental.

Segera mencari tiket bus untuk keberangkatan besok, 8 Desember. Atas saran Hilmy, anak sulung kami, kali ini memilih bus Harapan Jaya, dengan beberapa kelebihannya, antara lain adanya paket makan malam, snack pagi dan makan siang, juga power bank di setiap tempat duduk. Ini fasilitas yang tidak semua armada bus menyediakannya.

***

 

keajaibanndoa dalam perjalanan

Perjalanan darat Bandarlamppung-Boyolali

8 Desember 2018 pukul 12.15.

Bismillah! Perjalanan panjang segera dimulai. Kemarin saya sempatkan membaca-baca fiqh safar, harapannya, semoga perjalanan ini tetap terjaga dalam tuntunan dan lindungan-Nya. Barokallah.

Hal yang paling saya catat adalah, perjalanan merupakan salah satu kesempatan mustajabnya, dikabulkannya doa. Sudah seharusnya perjalanan dimulai dengan doa, diiringi dan diakhiri dengan doa, baik oleh yang melakukan perjalanan maupun keluarga yang ditinggalkan.

Saya diantar Hilmy dan Harish (bungsu kami) ke agen bus, di dekat bunderan Raden intan, Rajabasa, karena jam 12.30 harus sudah siap di tempat. Di Kepayang, saya sempatkan mampir ke kios ayam krispi, beli nasi dan ayam untuk bekal di perjalanan.

“Kan ada jatah makan, Mi?” kata Hilmy, mengingatkan.

“Umi belum makan siang.”

Sambil menunggu bus, nasi dan ayam krispi saya makan bersama Harish. Nasi habis, hanya tersisa sepotong ayam. Saya bawa untuk jaga-jaga, menemani dua potong arem-arem dan sepotong roti kecil, yang saya beli saat di belanja di warung tadi pagi. Perbekalan yang minim, tapi saya pikir nanti toh ada jatah makan dan bisa beli snack saat di pemberhentian untuk istirahat.

Jam 13.30, bus berangkat dari pool agen menuju Bakauheni. Bersama saya, naik juga penumpang, seorang bapak tua dan bapak muda dengan 2 anak. Si bapak muda duduk di kursi sebelah saya.

Siang yang cerah, saya dengan membuka tab, membalas chatt wa, menengok timeline fb, dan membuka beberapa portal berita online.

Sesekali memandang keluar jendela, memperhatikan pemandangan alam di Bandarlampung dan Lampung Selatan, memperhatikan aktivitas orang-orang yang ada di sekitar jalan saat bus melambat atau berhenti sejenak karena sebab tertentu.

Sekitar jam 16.00, bus berhenti untuk beristirahat di sebuah rumah makan, di Kalianda. Penumpang menukarkan kupon makan malam. Saya belum lapar, maka minta dibuatkan nasi kotak. Rencana untuk makan saat di kapal.

Saat naik bus lagi untuk melanjutkan perjalanan, bapak muda yang duduk di sebelah pindah ke belakang, banyak kursi kosong.

“Silakan, Bu, bisa tiduran, lebih lega,” kata bapak tua yang duduk di seberang kursi.

“Iya, terimakasih.”

Saya menikmati perjalanan dengan lebih nyaman, dengan kursi kosong di sebelah, saya bisa mengangkat kaki supaya tidak terlalu lama menjuntai. Kursi di pinggir jendela menjadi tempat favorit, sehingga bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalaman tanpa halangan dan sewaktu-waktu ada obyek menarik, akan lebih mudah mengambil gambar, walau tidak sempurna, karena membidik dalam kondisi bergerak. Itu juga yang membuat saya tidak kecewa saat tidak bisa naik pesawat karena berbagai sebab. Memandang kehijauan pepohonan, gunung, gedung-gedung dan jalan hasil pembangunan, laut, menyaksikan beragam aktivitas manusia dengan segala profesinya, dan lain-lain.

keajaiban doa dalam perjalanan

Bertemu rombongan study tour SMPIT Baitul Muslim di kapal

Jam lima sore, bus memasuki lambung kapal. Saat menuju lantai atas kapal, banyak penumpang berseragam jaket hijau usia remaja. SMPIT Baitul Muslim, terbaca tulisan di punggung mereka. Hmm, nama yang tak asing, semoga bisa bertemu dengan salah seorang teman yang menjadi guru di sana.

“Bu Fitri, ikut?” Saya bertanya pada seorang siswa yang duduk di hadapan.

“Iya, Bu, ikut,” jawabnya, santun.

“Tolong nanti kalau bertemu, sampaikan Bu Neny ingin bertemu.”

Tak apalah, minta tolong, daripada saya mencari-cari di tengah ratusan penumpang.

keajaiban doa dalam perjalanan

Bertemu dengan Fitri di kapal,setelah perpisahan dua tahun lalu, juga di kapal

Tidak lama, seorang wanita berkaca mata, melambaikan tangannya. Alhamdulillah, yang saya tunggu segera merespon ketika mendapat pesan muridnya. Salah satu karunia Allah dalam perjalanan kali ini. Temu kangen yang tidak direncanakan, saling menanyakan kabar dan diakhiri dengan doa untuk kebaikan dalam kehidupan selanjutnya.

Saat terdengar adzan mahgrib, saya tidak berani beranjak dari tempat duduk untuk berwudhu dan sholat di mushola kapal. Goyangan kapal lumayan kuat, khawatir mabuk, kalau dipaksakan berdiri atau berjalan. Pergi sendirian membuat saya sangat berhati-hati mengambil tindakan, yang sekiranya berakibat hal-hal yang membutuhkan pertolongan orang lain. Insyaallah, sholat maghrib dan isya, nanti, di tempat pemberhentian bus, biasanya di rumah makan yang menyediakan mushola.

Saya buka nasi kotak dari rumah makan sore tadi. Nasi, telur dadar, sambal hijau, gulai nangka, air minum kemasan, sendok. Saya coba makan nasi, telur dan sambal. Sedang kurang selera dengan gulai. Subhanallah! Rasa telurnya membuat bergidik. Maklumlah, bukan masakan sendiri, bumbunya terlalu kuat. Saya hanya sanggup menelannya sekitar 3-4 suap.

2 jam lebih tentu bukan waktu yang sebentar tanpa melakukan sesuatu, tidurpun tak bisa dengan situasi kapal yang padat penumpang. Berisik! Dan lagi, saya bukan type yang mudah tertidur di segala tempat, apalagi yang membutuhkan kewaspadaan untuk terjaga. Bukan dari hal besar, hanya saya sering menemui hewan-hewan kecil yang berkeliaran di kapal. Bukan tidak prrcaya kemustajaban doa yang sudah saya baca saat menginjakkan kaki di tempat baru atau sepanjang perjalanan, tetapi ikhtiar merupqkan bagian dari dikabulkannya doa. Cukup bergidik membayangkan salah satu makhluk Allah itu menyelinap di tempat yang tidak seharusnya.

Saya bersyukur dengan kemajuan teknologi, sehingga hanya dengan membawa satu gadget, banyak aktivitas positif kitanlakukan di mana saja. Tidak perlu membawa mushaf kemana-mana, yang tentu kita harus ekstra hati-hati menjaganya, cukup dengan aplikasi, kita bisa tilawah dan tadabur ayat sewaktu-waktu.

Alhamdulillah, jam 19.15 kapal merapat di dermaga pelabuhan Merak.  Bus melanjutkan perjalanan. Saya menunggu bus berhenti untuk istirahat, sayang, sampai Tangerang tidak juga ada tanda-tanda bus menepi. Perut terasa lapar. Segera sebuah arem-arem jadi sasaran pengganjal perut. Ingat pesan kakak ipar, kalau dalam perjalanan, jangan sampai perut kosong.

Dingin mulai meningkat. Saya tambahkan rompi untuk melindungi tubuh. Perjalanan malam memang harus dipersiapkan, selalu saya siapkan dua jaket atau satu jaket satu rompi, karena selimut yang tersedia di bus, hanya mampu melindungi dari cuaca dingin, di bagian pinggang ke bawah. Alhamdulillah, semakin ke belakang saya bisa tidur di bus, walaupun sulit nyenyak dan sering terbangun.

Hingga pukul 02.30, bus tidak juga berhenti untuk istirahat, hanya sekali berhenti untuk mengisi bahan bakar. Saya tidak berani turun untuk sholat, khawatir terlalu lama bus menunggu, belum lagi was-was kalau ditinggal, he he he. Dengan terpaksa, saya tayamum dan sholat di bus. Semoga Allah ampuni kekurang-sempurnaannya.

Menjelang subuh, bus berhenti di salah satu rumah makan, di Kendal. Ini salah satu yang saya suka menempuh perjalanan darat. Banyak tempat-tempat yang dilewati. Nama-nama kota yang selama ini hanya di kenal dari media, kini langsung terbaca di sepanjang jalan. Perjalanan kali ini melewati jalur utara, Bandarlampung- – -Semarang-Salatiga-Boyolali. Sebelumnya, beberapa kali lewat jalur Selatan, Bandarlampung- – -Jogja- Solo-Boyolali. Kalau pesawat, kita hanya dari Bandara Radin Intan- Bandara Sukarno Hatta-Bandara Adi Sumarmo, kemudian bus ke Solo-bus Boyolali, atau dari bandara menggunakan taksi langsung ke Boyolali, pastinya…gede di ongkos.

Setelah sholat, saya mencari minuman hangat. Untunglah tersedia susu jahe. Juga membeli sepotong ketan dan roti ukuran kecil. di bus, kondektur membagikan kotak berisi sebuah roti ukuran kecil, sebungkus kecil kacang dan air kemasan gelas. Saya hanya makan sesendok ketan dan secangkir susu jahe.

Kupon jatah makan siang saya berikan ke bapak muda yang kembali duduk di sebelah saya, lumayan untuk tambahan makan siang anak-anak yang besertanya. Sayabgidak dapat menggunakannya, karena makn siang di Ngawi, sedang saya turun di Boyolali.

keajaiban doa dalam perjalanan

Pagi yang sejuk, perjalanan Kendal-Boyolali

Sejak dari Semarang, saya sudah membuka google maps, berjaga-jaga memperhatikan titik tujuan. Sesampai di Salatiga, semakin ketat mencocokkan tanda-tanda yang ditemui di jalan dan mencocokkan dengan maps. Saya tutup maps saat sampai di pasar Ampel. Ya, saya pernah belanja di sini. Tidak terlalu jauh dari pasar Ampel. Barang-barang bawaan sudah saya kemas dan bersiap turun.

Dari kejauhan, gedung Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Abi Ummi, Alhamdulillah. Saya segera bersuara, meminta supir menghentikan busnya, tapi…

Bersambung ke keajaiban doa dalam perjalanan (2)

 

Add Comment