Kelas Inspiratif di SDIT PB 1

Kamis, 5 Oktober 2017

Jam 07.33 saya sampai di lokasi Sekolah Dasar Islam Terpadu Permata Bunda 1, yang beralamat di jl. Sultan Jamil no 29 Gedung Meneng Bandarlampung.

Suasana lengang, anak-anak sudah masuk ke kelas masing-masing.

Di undangan tertera, waktu untuk kelas inspiratif jam 08.00 sd 09.00, sehingga saya putuskan untuk menunggu di beranda masjid sampai jam 07.50, kemudian ke kantor kepala sekolah.

Baru beberapa menit saya membalas chatt yang bejibun, seorang guru perempuan menghampiri dan mengajak saya ke ruang rapat guru.

Di sana sudah menunggu seorang pria mengenakan batik, saya belum mengenalnya.

Dengan ramah, Ibu Lis, salah seorang guru yang sudah lama saya kenal menyambut dan menyediakan teh dan snack, selain di meja sudah tersedia minum kemasan, toples mungil berisi permen dan keripik.

Setelah basa basi, Bu Lis melanjutkan aktivitas lain dan saya kembali melanjutkan membalas chatt dan membuat status fb.

Berikutnya datang Ibu Tusi, seorang wali murid yang bekerja di BPOM, disusul Pak Thomas Americo yang bertugas sebagai camat di wilayah tempat tinggal saya, di susul beberapa orang tua murid dari berbagai profesi. Ada yang anggota DPRD, dokter, dosen, perawat, pengusaha., sedang saya diminta untuk mengisi kelas Penulis.

“Ayah, bunda, mohon keikhlasannya untuk menjadi korban pertama untuk program terbaru kita.” Setengah berseloroh, Pak Safrul Anwar, selaku kapala selolah menyampaikan sambutannya, didampingi Ibu Yesi, salah satu wakil kepala sekolah.

Dari penjelasan itu, dapat disimpulkan, bahwa kelas inspirasi adalah program baru yang dilaksanakan setelah penilaian tengah semester selesai dilaksanakan. Benar, tiga hari berturut-turut sebelumnya, anak-anak mengikuti Penilaian Tengah Semester Ganjil. Hari ini kegiatan di sekolah, selain kelas inspirasi, juga penyuluhan dan market day. Sasaran kegiatan beda-beda kelas. Untuk kelas 4,5 dan 6 mengikuti kelas inspirasi.

“Untuk kali ini, kami mengadakan kelas inspirasi profesi. Anak-anak memilih sesuai dengan minatnya. Tujuannya, memberikan gambaran profesi yang sudah  Ayah Bunda geluti aelama ini, suka duka, tantangan, dan apa yang harus dilakukan untuk sukses meraihnya.” Kepala sekolah melanjutkan penjelasannya.

Setelah penjelasan dirasa cukup, kami diantar ke kelas, oleh guru yang bertugas.

Ternyata, di kelas anak-anak sudah dikondisikan oleh dua orang guru, sehingga saat saya masuk, aktivitas segera dimulai.

Bu Nur mengawali dengan membacakan sedikit biofile saya, yang spontan direspon “Wooow!” saat beluau membacakan obsesi saya.

“Dikaruniai 6 orang anak, tiga diantaranya sudah menghafal Al Qur’an 30 juz dan tiga lainnya sedang proses menghafal. Bercita-cita mengantarkan ke 6 buah hatinya menjadi hafidzul qur’an.”

Setelah dipersilakan, saya segera menyambutnya dengan ucapan salam dan syukur.

Anak-anak duduk lesehan di ambal, membentuk dua kelompok yang awalnya berbaris rapi, tapi hanya beberapa menit, formasi itu segera berubah. Ada yang pindah duduk bergeser mencari dinding sandaran, tiduran di paha temannya, ada yang sambil coret-coret kertas, dsb. Tapi sebagian besar memperhatikan ke depan dan menyimak dengan serius.

Apakah saya terganggu dengan sikap mereka?

Tidak, saya sudah sering mendengar cerita seperti itu dari anak-anak saya yang pernah sekolah di sini. Benar, dari 6 orang anak, 5 di antaranya pernah sekolah di sini.

Justru saya ingin tahu, adakah hubungan sikap duduk dengan kemampuan mereka menyerap pesan yang disampaikan guru?

Masyaallah, ternyata, salah satu murid yang kelihatan slengekan, mampu menjawab pertanyaan saya, hingga saya berkomentar saat menyerahkan hadiah untuk yang bisa menjawab,”Kalau memang rizki, sambil santai, pun dia tetap datang.”

Ups! Semoga mereka tidak salah menangkap pesan saya. Maksud saya, sambil santai saja dapat rizki, bagaimana kalau bersunghuh-sungguh? Atau, kita tidak bisa menilai orang lain hanya dari salah satu sikapnya, karena ada orang yang terlihat santai dalam sikap tapi serius dalam belajar, setiap orang punya gaya belajar yang berbeda-beda.

“Kenal dengan Zaid bin Tsabit?” Saya melontarkan pertanyaan pertama, setelah menjelaskan tentang penulis sebagai profesi.

“Sahabat nabi yang membukukan Al-Qur’an,” jawab seorang murid perempuan.

“Benar, tapi sebelum membukukan Al Qur’an, apa tugasnya?” Saya lanjutkan pertanyaan. Sebagian terlihat berpikir, yang lain berbisik-bisik diskusi, tapi tidak ada yang mengangkat tangan untuk menjawab.

Kemudian saya jelaskan tugas Zaid bin Tsabit saat Rasulullah Saw. masih ada, yaitu sebagai pencatat setiap wahyu turun.

“Jadi bisa dibayangkan kalau saat itu Zaid bin Tsabit tidak ditunjuk sebagai penulis wahyu?”

Anak-anak mengangguk-anggukkan kepala.

“Kita tidak kenal Al Qur’an, tidak bisa mendapat kebaikan dari tilawah yang dihitung balasannya dalam setiap huruf.”

“Kenal dengan Imam Bukhori?”

“Kenal dengan Buya Hamka?”

“Kenal dengan Asma Nadia?

“Kenal dengan J K Rowling?”

Nah, sampai pertanyaan ini, anak-anak ramai menjawab dan bangga kenal dengan tokoh yang saya sebutkan terakhir, setelah bengong dengan tokoh-tokoh yang saya sebutkan sebelumnya.

Saya menjelaskan peran kepenulisan dan karya-karya dari nama-nama yang saya sebutkan. Sempat masygul, saat menyadari, bahwa mereka, yang mewakili generasinya, lebih akrab dengan penulis cerita fiksi dibandiingkan dengan tokoh-tokoh yang berperan dalam keselamatan hidup kita dunia akhirat.

“Bu, bagaimana caranya menulis yang inspiratif?”

“Sebaiknya kita punya sesuatu yang inspiratif, contoh, buku Menuju Keluarga Hafizul Qur’an, saya tulis dengan tujuan menginspirasi keluarga muslim untuk mengarahkan anak-anaknya menjadi hafidz qur’an.”

“Apa syarat untuk bisa menjadi penulis?”

“Banyak membaca, bersungguh-sungguh, banyak berlatih dan iringi dengan doa.”

Satu jam berlalu, saat saya harus mengakhiri sesi dengan menjawab pertanyaan seorang anak.

“Bu, saya boleh minta bukunya?” Saya memang membawa salah satu buku karya saya sebahai alat peraga.

“Kalau ibu memberi ke satu orang, yang lain merasa iri, tidak?”

“Iriiiiiiii,” serentak yang lain menjawab.

“Begini, penulis adalah profesi, dari karyanya dia mendapatkan penghasilan. Kita harus dukung para penulis supaya terus menghasilkan karya yang menginspirasi. Kalau bertemu penulis, biasanya bukan minta buku,” saya mencoba menanamkan konsep yang mendukung penulis.

“Minta apa, dong, Bu?” ada yang iseng bertanya.

“Biasanya minta tanda tangan.”

Tidak menyangka, setelah kelas berakhir, bergilir sebagian anak-anak minta tanda tangan, adanyang di buku yulis, ada yang di aelembar kertas, ada yang minta dua tanda tangan. Semua saya layani.

Dalam hati saya tertawa, untuk apa tanda tangan itu? Biasanya, tanda tangan dibutuhkan pada buku karyanya yang sudah dibeli.

Kami berkumpul kembali di ruang rapat.

“Terkait dengan program baru ini, kami minta kesediaan ayah bunda berbagi kesan setelah satu jam bersama anak-anak,” ujar kepala sekolah.

“Dari kemarin saya berpikir keras, bagaimana menyesuaikan bahasa komunikasi dengan anak-anak, sedangkan selama ini saya memlerlakukan anak sendiri seperti orang dewasa, nggak tahj juga, tadi gimana” kesan sang dokter, disambut tawa yang hadir.

“Saya pikir, akan menghadapi anak-anak kelas tiga, ternyata kelas dua, baru sebentar bicara, daaaah, ramenya…tapi pertanyaan mereka kritis-kritis, lho. Masa ada yang menanyakan tentang no MD,” kisah sang ahli gizi.

“Biasanya, kalau saya berhenti bicara di depan kelas, mahasiswa tahu kalau saya marah, tidak suka dengan situasi kelas, dan mereka langsung diam, lha ini…saya diam, anak-anak malah tambah seru ngobrolnya,” lapor sang dosen.

“Saya hanya bertahan setengah jam bicara, selebihnya melibatkan guru-guru,” kesan sang anggota DPRD.

“Saya menyiapkan kue dan roti untuk hadiah bagi yang aktif,”kesan sang pengusaha kue.

Saya?

“Saya butuh membangkitkan memori saat mengajar TPA belasan tahun lalu, setelah tahun-tahun belakangan ini lebih banyak berinteraksi dengan remaja, mahasiswa, orang tua murid, dan nenek-nenek di majelis ta’lim, tapi asyik kok, sejam bersama mereka.”

Benar! Sayu jam saya nyatis tak berhenti bicara, diseling dengan pertanyaan anak-anak, tanpa sempat minum seteguk, pun. Bukan tidak disediakan, tapi lupa dan tidak sempat. Tak jauh beda saat mengisi seminar dan kajian.

“Begitulah Ayah Bunda, kesehatian kami bersama mereka, belum lagi kalau ada yang menyelinap keluar kelas saat kita sibuk memperhatikan temannya,” timpal Bu Yesi.

Alhamdulillah, program ini semakin menambah saling pengertian antara pihk orangvtua dan guru, untuk ke depan lebih bersinergi dalam upaya peningkatan kualitas generasi bangsa.

 

Apresiasi untuk pihak sekolah yang begitu menghargai keterlibatan kami dalam program ini, barokallah.

 

2 Comments

  1. Hastira Oktober 7, 2017
    • nenysuswati123 Oktober 9, 2017

Add Comment