Kepaksian Pernong

3 Agustus 2017

Kami melanjutkan perjalanan menuju istana kepaksian Pernong di kecamatan Batu Brak.

Di tengah perjalanan, rombongan berhenti di sawah yang sedang ditanami. Beberapa petani sedang tandur/menanam padi.

Masyaallah!

Ternyata sawah di sini ada yang kedalaman lumpurnya setinggi paha orang dewasa. Selama ini, yang saya lihat di daerah lain, paling dalam di bawah lutut.

Teman-teman sebagian ngobrol dan bercanda dengan mereka, tak lupa cekrek-cekrek. Memang obyeknya bagus banget. Hmm, luar biasa…konsumsi sehat untuk mata saya yang selama ini terlalu diporsir untuk membaca barisan huruf di buku, laptop maupun tab.

Saya tidak terlalu memperhatikan, berapa menit atau kira-kira berapa kilometer perjalanan. Sepertinya tidak terlalu jauh. Begitulah kalau jadi pengikut, kurang memperhatikan. Tergantung pada yang diikuti, tidak khawatir salah jalan.

Kami berhenti di sebuah rumah panggung yang berhalaman luas. Tidak begitu berbeda dengan Gedong Dalom Kepaksian Bejalan Diway, bedanya bangunan Lamban Pernong terkesan sebagai bangunan lama. Wajar saja, memang yang di Bejalan Diway baru saja dibangun kembali setelah sekian lama terkena bencana gempa beberapa tahun lalu.

Di halaman ada beberapa meriam dengan berbagai ukuran, saya tidak terlalu memperhatikan bangunan yang ada di sekitarnya.

Kami dipersilakan masuk melihat-lihat dalamnya istana.

Sultan sedang tidak di istana, karena memang domisili di Jakarta. Hanya ada Putra Mahkota yang berusia sekitar 11 tahun yang mewakili sultan mengikuti rangkaian acara selama festival Sekala Brak.

Foto-foto anggota keluarga kerajaan berjajar rapi di dinding. Silsilah dan beberapa kegiatan adat yang pernah diikuti atau diselwnggarakan.

Perlengkapan ruangan yang tidak terlalu berbeda dengan istana Bejalan Diway.

Saat masuk, ada petugas yang sedang mempersiapkan sarapan sang pangeran.

Setelah merasa cukup, saya keluar, duduk di tangga menunggu teman-teman yang belum selesai mengambil gambar.

Di bagian luar, saya perhatikan dinding luar yang mulai kusam. Ukiran yang memudar keindahannya dimakan usia. Hmm, rasanya tidak sedikit biaya untuk merawatnya.

Yang jadi pertanyaan, perlukah keberadaannya dipertahankan? Ataukah anak cucu kita cukup mendengar ceritanya tanpa ada bukti yang bisa dilihat? Siapa yang paling bertanggung jawab dalam perawatan dan mempertahankan eksistensinya!

Karena cukup lama, saya sempatkan tilawah, karena pagi tadi belum sempat melakukannya, semoga istana ini menjadi saksi bahwa saya pernah membaca kalamullah di sini.

Hmm, ternyata saat saya keluar, justru pangeran menyambut tamu-tamu yang datang. Teman-teman sempat mewawancarai pangeran dengan bahasa Inggris, karena sehari-hari beliau menggunakan bahasa tersebut..

Satu hal penting yang harusnya kita dapatkan dari sejarah adalah, pelajaran penting apa yang bisa kita pahami dari kehidupan orang-orang terdahulu?

Add Comment