Ketaatan Meningkatkan Kecerdasan

Pernah memperhatikan nasib teman-teman seperjuangan?

Kalau kita membandingkan, sering ditemui kenyataan nasib yang berbeda dari orang-orang yang memulai bersama.

Dimana letak bedanya?

Yang paling kelihatan dalam sebuah organisasi besar adalah posisi dan tanggung jawabnya.

Ada orang-orang yang begiitu pesat perkembangannya dengan menduduki posisi penting dengan tanggung jawab besar yang tentu saja membutuhkan kecerdasan di atas rata-rata.

Apakah memang pada dasarnya dia lebih cerdas dari lainnya, terutama dengan teman-teman yang mulai bersamaan?

Kadang ya, tapi tidak selamanya posisi itu diberikan semata karena kecerdasannya.

Mati kita perhatikan dari sisi lain!

Ada orang-orang yang memiliki kecerdasan relatif sama tetapi berbeda dalam ketaatan kepada pimpinan.

Kalau selama ini ada pendapat yang menyatakan bahwa kecerdasan identik dengan kreatifitas, ide-ide yang brilian, kritis, maka tiga hal ini justru terkadang menjadi penghalang meningkatnya prestasi dalam sebuah organisasi besar.

Dalam organisasi, peran kecerdasan inter personal dan antarpersonal sangat dibutuhkan, mengingat di dalamnya ada kerja team atau amal jama’i, dimana sebuah kerja akan sukses bila dilakukan secara bersama dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.

Tidak mudah memang menemukan sosok yang memiliki kecerdasan majemuk yang berimbang, itu sebabnya kita hanya akan menemukan sedikit sosok yang berjiwa pemimpin, dimana dia memiliki kecerdasan intelektual yang menonjol untuk cepat memahami permasalahan, dia juga cerdas emosi untuk mengelola dirinya, dan kecerdasan lain untuk bisa membuatnya layak di dalam sebuah kumpulan manusia yang sedang mengemban amanah besar.

Apa hubungan ketaatan dengan peningkatan kecerdasan?

Mari kita lihat diri sendiri dan bandingkan dengan teman-teman di organisasi yang sama!

Ketika pemimpin mengamanahkan sebuah tugas, bagaimana sikap kita?

Misalnya, mengisi kajian di majelis ta’lim ibu-ibu yang usianya jauh di atas kita.

Apakah kita langsung menyanggupi? Berusaha mempersiapkan diri untuk menjalankannya?

Atau mencari-cari alasan ilmiah untuk menghindarinya karena kurang cocok, baik dengan potensi kita maupun harapan? Merasa kurang percaya diri?

Coba kita analisa efek dari kedua sikap itu.

Jika kita taat, menerima tugas itu, maka ada dorongan dari dalam untuk mempersiapkan diri, baik mental maupun keilmuan. Berusaha mencari informasi bagaimana katakter majelis taklim yang akan kita isi. menyiapkan materi yang akan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh jamaah dengan usia dan latar belakang tertentu.

Penugasan itu mendorong kita untuk belajar, dan kita tahu, dengan belajar kecerdasan dan ketrampilan di bidang tertentu akan terlatih dan meningkat.

Keberhasilan kita di satu amanah akan meningkatkan kredibilitas dan kapabilitas kita meningkat dalam pandangan pimpinan, sehingga wajar jika akan diberi amanah dan kesempatan yang lainnya.

Belum lagi, saat amanah bertambah berat, tentu ada arahan-arahan yang diberikan pimpinan, juga kita akan bergaul dengan teman-teman lain yang  mendapat amanah, dan tentu saja arahan dan informasi ini akan menambah keilmuan dan kecerdasan kita.

Bandingkan dengan sikap kedua, menolak saaat diberi amanah!

Apa tanggapan yang memberi amanah? Apa penilaiannya untuk kita? Rendah hati? Tawadhu? Mendahulukan orang lain?

Posisikan diri sebagai yang memberi amanah! Akankah kita memberkan penilaian seperti itu.

Alih-alih memuji, melabel mungkin lebih sering terjadi!

Tidak taat, nggak pede, pembangkang, susah diajak kerjasama, dll.

Terhadap orang yang terlanjur dilabeli seperti ini, mungkin pimpinan yang ingin organisasinya cepat berkembang, akan mengabaikan anggota seperti ini untuk dipromosikan.

Jadi, jika kita sebagai anggota yang merasa tidak maju-maju, stagnan dan begjni-begini saja, introspeksi ke dalam diri akan lebih bermanfaat daripada sibuk mencari kesalahan pimpinan dan kebijakan orgnisasi yang diberlakukan.

Pimpinan yang baik akan menempatkan anggota sesuai dengan karakter dan kapasitasnya.

#opini

Add Comment