Kiat Istiqomah dalam Sebuah Amal Sholeh

Kiat istiqomah dalam sebuah amal.

Artikel ini saya tulis untuk merespon sebuah komentar di postingan yang berjudul Keutamaan Surat Al Kahfi

Apa itu istiqomah?

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

QS. Fushilat, Ayat 30

Terkait sebuah pilihan keyakinan atau amal perbuatan, istiqomah bisa dimaknai sebagai sebuah sikap konsistensi. Seseorang yang istiqomah dalam keyakinannya berarti dia tidak akan berpaling kepada keyakinan lain. Istiqomah dalam sebuah amal, berarti melaksanakan amal tersebut secara terus menerus.

Kebanyakan kita memang butuh merumuskan kiat istiqomah dalam sebuah amal, mengingat hal ini bukan mudah untuk dilaksanakan. Kecenderungan hati manusia yang sering berbolak-balik, mudah terpengaruh, ingin seperti orang lain, jenuh, bosan, sering membuat kita semangat di awal, melempem setelah beberapa kali melakukan, apalagi jika menghadapi rintangan atau godaan untuk berpaling pada aktivitas lain yang terlihat lebih mudah dan lebih cepat melihat hasilnya.

Istiqomah…mudah diucapkan, tetapi butuh kekuatan dan kesabaran dalam realisasinya. Karena memang untuk istiqomah itu berat, Allah paling menyukai amal yang istiqomah walaupun sedikit.

Berikut kiat istiqomah dalam sebuah amal sholeh:

1. Menumbuhkan azzam atau keinginan yang kuat dari dalam diri.

Hal ini merupakan refleksi dari keimanan yang menyebabkan ingin selalu dalam ketaatan kepada Allah. Ini merupakan sumber energi terbesar dalam proses menuju istiqomah yang memang berat. Disebut istiqomah jika kita sudah sampai pada tahapan ringan dan menikmati amalan tersebut, sehingga akan merasa bersalah, ada yang kurang dan tidak nyaman saat tidak melakukannya.

Contoh: Sebelum kita istiqomah mendirikan sholat wajib, maka akan terasa berat saat mendengar suara adzan berkumandang. Butuh perjuangan untuk segera melaksanakannya, kadang dengan terpaksa dan berat hati, lain waktu dengan membujuk diri atau dengan berbagai alasan untuk berlambat-lambat dalam mengerjakannya, sekali waktu bahkan tidak dilakukan, walaupun akhirnya menyesal. Ketika sudah istiqomah, bahkan kita menantikan suara adzan dan bersegera melakukan sholat, ada kerinduan untuk segera bersujud dan menikmati detik-detik indah bersama Allah. Begitu juga dengan amalan yang lain.

2. Memahami keutamaan amal tersebut.

Ini merupakan sebuah motivasi saat kita mulai kendor dalam melakukan sebuah amalan. Ibarat hadiah yang menjadi iming-iming untuk segera meraihnya. Jika kita tidak melakukan amal tersebut, berarti akan kehilangan hadiah tersebut.

Contoh tentang sholat:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

(quran.id.db)
Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.

QS. An-Nur, Ayat 56

Siapa yang tidak ingin rahmat Allah? Kasih sayang Allah, Sang pemilik alam dan seisinya Yang maha Kuasa? Shalat merupakan salah satu sebab turunnya rahmat Allah.

3. Membaca cerita tokoh-tokoh yang melakukan amal tersebut.

Membaca atau melihat figur nyata merupakan motivasi dari luar diri yang sangat membantu menghangatkan kembali motivasi dari dalam. Cerita itu bisa dari kehidupan Rasulullah dan para sahabat, para ulama atau orang-orang yang kita temui dalam kehidupan, yang mana mereka istiqomah dalam sebuah amal dan melihat dampak langsungnya.

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

QS.As-Sajdah, Ayat 16

Ayat di atas menceritakan bagaimana para sahabat Rasulullah saw. dalam ibadah. Rela mengurangi tidur karena waktunya digunakan untuk sholat dan berdoa.

4. Bergaul dengan komunitas yang senang melakukan amal tersebut.

Sebagai makhluk sosial, kita membutuhkan dan saling mempengaruhi dengan orang lain. Di sinilah arti penting kita memilih komunitas. Berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, untuk saling mengingatkan dan menyemangati.

Baca juga 7 kiat memilih komunitas untuk pengembangan diri.

5. Memilih beberapa alternatif metode untuk mengatasi kejenuhan.

Contoh: Untuk bisa istiqomah tilawah Al Qur’an satu juz setiap hari, ada beberapa alternatif cara yang bisa kita lakukan:

  1. Membaca satu juz sekali duduk di waktu-waktu tertentu, misalnya setelah subuh atau setelah maghrib.
  2. Membaginya per 5 kali waktu sesudah sholat, sehingga setiap selesai sholat fardhu harus membaca sebanyak 4 halaman.
  3. Membaca satu halaman terjemahan setiap selesai tilawah 1 juz setiap hari, sehingga lebih bisa menikmati kedekatan dengan Al Qur’an.
  4. Selingi dengan mendengarkan tilawah salah satu qori sambil memperhatikan bacaannya.

Demikianlah beberapa kiat istiqomah dalam sebuah amal sholeh, semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengatasi kemalasan dalam setiap kebaikan, karena Allah lebih suka amal yang istiqomah walaupun sedikit dibandingkan dengan amal besar tetapi hanya sekali-sekali.

14 Comments

  1. Yudi hartono Maret 9, 2018
    • nenysuswati123 Maret 17, 2018
  2. rika widiastuti altair Maret 9, 2018
    • nenysuswati123 Maret 17, 2018
  3. Mery kusyeni Maret 9, 2018
    • nenysuswati123 Maret 17, 2018
  4. Naqiyyah Syam Maret 9, 2018
    • nenysuswati123 Maret 17, 2018
  5. Novrian Erintias Haqiki Maret 9, 2018
    • nenysuswati123 Maret 17, 2018
  6. Yandigsa Maret 9, 2018
    • nenysuswati123 Maret 17, 2018
  7. Tika Dwi Lestari Maret 9, 2018
    • nenysuswati123 Maret 17, 2018

Add Comment