Kolaborasi Orang Tua – Guru untuk Keberhasilan Pendidikan Anak

tmpdoodle1480767951678

Alhamdulillah, tanggal 1 Desember 2016, saya berkesempatan ngobrol dengan ibu-ibu wali murid kelas 2 G, SD N 2/ Teladan,  Bandarlampung, atas perkenan wali kelasnya, Ibu Sartuni. Beliau teman saat kuliah, 30 an tahun lalu.

Hari itu agenda kelas dua belajar di luar. Dari sekolah, dengan bis Trans Bandarlampung, rombongan mengunjungi sebuah panti asuhan, menyerahkan bingkisan,  sebagai sebuah bentuk kepedulian kepada sesama, yang memang harusnya diajarkan sejak dini. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju pantai Pasir Putih.

Di sana, anak-anak belajar dan bermain dibimbing guru-guru, sedang ibu-ibu berkumpul di bawah tenda beralaskan tikar.

tmpdoodle1480768750997

Di awal terasa sedikit formal, tapi sebentar kemudian kami sudah ngobrol asyik, walaupun, berangsur peserta berkurang karena lebih tertarik menyaksikan aktivitas anak-anaknya. Hal itu sudah saya duga akan terjadi, berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Yang menarik dari obrolan kemarin adalah, kesan dari sebagian orang tua yang mempertanyakan ketulusan guru zaman sekarang. Jauh dengan guru-guru di masa mereka sekolah dulu.

Mereka mempertanyakan gelar pahlawan tanpa tanda jasa, juga memperhatikan, guru sekarang seolah-olah kurang gigih dalam mendidik. Mereka melihat, guru bersikap sekedarnya, kalau murid diingatkan mau, ya syukur, kalau murid bandel dibiarkan, seolah mengatakan, saya sudah omongin tapi nggak nurut, ya sudah?

Saya berusaha menetralisir penilaian itu, sebagai sesama orang tua yang memiliki anak sekolah.

Gelar pahlawan tanpa tanda jasa tidak memberi pengaruh apapun pada kehidupan para guru. Gelar itu diberikan sebagai penghargaan atas jasa-jasa mereka yang membantu tugas orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Sebaliknya, bentuk penghargaan apakah yang sudah diberikan orang tua  kepada mereka? Sehingga begitu menuntut atas gelar tersebut? Sanggupkah orang tua di posisi mereka dengan diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa dengan memenuhi tuntutan mereka sekarang? Sanggupkah orang tua mendidik anak-anaknya dengan sistem homeschooling? Tanpa bantuan guru-guru tersebut?

Memadaikah gaji bulanan yang mereka terima, apalagi guru-guru honorer? Sesuaikah dengan apa yang sudah mereka lakukan,mencerdaskan murid-muridnya?

Masalah ketidaktulusan atau ketidak pedulian guru terhadap murid yang sering menjengkelkan, saya mengingatkan beberapa kejadian, dimana guru dimeja hijaukan saat melakukan tindakan tegas kepada murid. Guru mana yang mau diperlakukan seperti itu?

Solusinya?

Komunikasi!

Banyak cara komunikasi yang bisa dipilih, dengan kemajuan teknologi sekarang ini.

Andai pertemuan rutin dan tatap muka sulit untuk direalisir, beberapa alternatif lain bisa dilakukan, seperti misalnya membentuk grup WA, BBM, SMS atau by phone.

Komunikasi bisa sejenis musyawarah online, atau konsultasi dan diskusi pribadi membahas kemajuan pendidikan anaknya.

Andai semua orang tua menyadari fungsi dan kewajibannya, tentu akan sangat berterimakasih dengan keberadaan guru dan sekolah, karena sesungguhnya, guru adalah mitra dalam mendidik anak, yang merupakan kewajibannya.

Untuk segala kesenjangan dan kekurangan, tentu bisa dicarikan solusi, selama ada itikad baik dari kedua belah pihak.

Guru sangat butuh dukungan orang tua dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

One Response

  1. Melody Desember 31, 2016

Tinggalkan Balasan ke Melody Batalkan balasan