Komik Indonesia itu Asyik

Komik Indonesia itu Asyik

Komik Indonesia itu Asyik
Sweeta Kartika & Jasmine

Mengapa saya memilih kelas Komik Indonesia itu Asyik?

Hmm, salah satunya karena saya ingin mempelajari tentang buku anak, salah satunya komik. Anak-anak saya dan hampir semua teman-temannya, sepertinya asyik banget kalau sedang baca komik. Waktu kecil juga saya senang, walaupun secara sembunyi-sembunyi dari orang tua. Mungkin bapak, yang seorang guru, menilai komik zaman dulu kurang baik untuk anak-anak, karena kebanyakan temanya dewasa, biasanya cerita silat, itupun komik yang kakak pinjam dari temannya.

Terakhir saya baca komik Muhammad Al Fatih, milik anak bungsu yang berusia 8 tahun, dan seperti itulah gambaran saya tentang komik.

Sebelum masuk kelas, saya tidak memperhatikan siapa narasumbernya, karena yakin, Gramedia memilih orang berkualitas untuk acara Gramedia Writers and Riders Forum. Dan ternyata, saya belum pernah dengar namanya, apalagi karyanya. Tahu namanya, saat mengintip tiket yang diberikan panitia saat pendaftaran.

Ternyata selanjutnya, narasumber adalah komikus yang karyanya komik remaja. Hmm, begini deh kalau malas riset sebelum mengikuti acara, tetapi itu tidak menyurutkan niat saya untuk mengikutinya.

kelas cerita horor

Sempat salah masuk kelas cerita horor

Oh, ya, sebelum masuk kelas ini, saya tadi sempat salah kamar, masuk kelas cerita horor. Saya tidak menyadari dari awal karena datang terlambat dan sadar saat banner digital di latar panggung menginformasikan hal itu, ketika MC sudah berbicara beberapa saat. Mendengar pembicaraan MC, saya sempat terperangah, itu kenapa nyinggung-nyinggung horor? Apa sedang membicarakan komik anak dengan tema horor?

Saya sadar sepenuhnya, saat melihat Jarni keluar kelas. Berniat menanyakan, kenapa keluar via WA, terbaca pesannya, bahwa dia mau pindah ke kelas sebelah. Saya segera melihat tiket dan mencocokkan kelas dan tema acara. O ow! Segera saya bangkit dan pamit pada panitia yang ada di depan pintu dan bertanya kelas komik. Ditunjukkan kelas sebelah, dan ketika masuk, saya melihat Jarni sudah ada di dalam. Hmm, ternyata kami mengambil kelas yang sama.

Tentu saja kelas sudah mulai, dan saya melewatkan sesi perkenalan nara sumber oleh moderator. Dua narasumber muda sudah siap presentasi di depan, Sweta Kartika dan Jasmine.

komikus Sweeta Kartika

Sweeta mempresentasikan proses kreatif H2) Reborn

Sweeta Kartika mempresentasikan kreativitasnya dalam proses membuat komik sience fiction yang berjudul H20 Reborn yang bercerita tentang Ramayana. Dengan gaya khas sience fiction, Sweeta membuat tokoh-tokoh Ramayana memiliki karakter yang berbeda dengan cerita aslinya.

Beberapa yang saya tangkap dalam karyanya, Sweeta ingin menyampaikan pesan unik:

    1. Mengabaikan fisik, fokus pada karakter. Selama ini, karakter Rahwana dianggap antagonis dengan fisik yang tidak ideal, dalam komiknya Sweeta melihat menampilkaan Rahwana dari sudut pandang kemanusiaan yang berbeda, sehingga seolah Rahwana berbeda dengan yang selama ini diketahui orang.
    2. Karakter, jika hilang satu maka akan memunculkan motif. Contoh, orang buta, yang kemampuan melihatnya dihilangkan, maka akan muncul karakter lain, seperti kepekaan merasakan gerak udara di sekitarnya untuk memahami sebuah perubahan posisi.
    3. Mengadu tata nilai, contoh, selama ini karakter orang baik digambarkan dengan tokoh yang penampilan fisiknya indah dipandang, Sweeta justru membuat tokoh sebaliknya.
Jasmine sedang presentasi

Jasmine sedang mempresentasikan proses kreatifnya

Bagaimana dengan Jasmine?

Komik best sellernya berjudul Komik Ga Jelas. Pemilihan judul yang unik!

Dengan komiknya, Jasmine ingin menyampaikan pesan-pesan tanpa menggurui, juga kritik sosial. Proses kreatifnya  menggunakan rumus/mengangkat ide dari fenomena sosial dan reaksi orang terhadap fenomena itu dengan cara dilebih-lebihkan (hiperbola).

Dari tiga kelas di hari pertama, baru di kelas ini saya mendapatkan kesempatan bertanya. Di kelas Meet with The Editor dan  Buku Anak yang Menarik untuk Kids Zaman Now, saya tidak mendapat giliran, karena antusiasme peserta yang ingin tahulebih banyak. Sebelum bertanya, saya sekaligus berpamitan akan keluar duluan, karena sudah ditunggu. Mungkin terkesan nggak sopan, penanya pertama, setelah dijawab langsung pamitan. Tapi ada manfaatnya juga saya sekaligus pamit, karena hadiah bagi penanya langsung diberikan, biasanya saat penutupan acara. Alhamdulillah, dapat suvenir, novel terbaru terbitan Gramedia Grup.

Saya segera ke kantin, menemui Izzah dan Syahid yang sudah menunggu, kasihan Syahid, kecapean sampai badannya agak demam. Kami segera turun, membereskan barang bawaan yang dititipkan di ruang loker.

Di lantai satu, kami agak lama berunding, jadi menginap di rumah Mbak Irma di Cempaka Putih atau mencari hotel terdekat. Banyak pertimbangan untuk memutuskannya. Akhirnya keputusan diserahkan ke Syahid.

“Tempat Wak Irma.”

Ok, keputusan sudah diambil, Izzah langsung order Grab Car.

Sampai di lokasi, Mbak Irma belum pulang, tapi ada Syahid, sulungnya. He he, namanya sama dengan anak Izzah. Segera kami mandi, sholat dan istirahat sambil menunggu tuan rumah.

Saya belum kenal sebelumnya dengan Mbak Irma, tapi karena sama-sama penulis, ya langsung saja bisa mengimbangi obrolan keduanya,bahkan sampai hampir jam 12 malam. Dan dilanjutkan paginya sambil sarapan.

Alhamdulillah, perjalanan yang asyik, ilmu dapat, silaturahim dapat.

Hmm, masih satu hari lagi yang akan diceritakan, sabar ya.

Add Comment